Imlek
Merindukan Gus Dur di Hari Imlek
Kehadiran sosok seperti Gus Dur di Indonesia juga diamini pengurus Wihara Petak Sembilan lainnya, Hengky. Indonesia yang pluralis
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Sosok Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dikenang di hari raya Imlek. Berkat Gus Dur, hari imlek menjadi hari libur nasional. Pengurus Wihara Dharma Bhakti atau biasa dikenal Wihara Petak Sembilan, Yu Le mengenang kebijakan Gus Dur dengan rasa haru. Ia berharap, sosok seperti Gus Dur kembali memimpin Indonesia di masa mendatang.
"Ke depannya, presiden memang harus seperti Gus Dur yang sangat menjunjung toleransi dengan kebijakannya menetapkan perayaan Imlek sebagai hari libur nasional," kata Yu Le di Jakarta, Jumat (31/1).
Menurutnya, warga Tionghoa mengenal Gus Dur sebagai tokoh pluralis. Sejak Gus Dur memimpin Indonesia, toleransi antar suku dan agama di Indonesia membaik.
Kehadiran sosok seperti Gus Dur di Indonesia juga diamini pengurus Wihara Petak Sembilan lainnya, Hengky. Indonesia yang pluralis membutuhkan tokoh yang bisa merangkul semua etnis, suku dan agama. "Seperti Gus Dur, dia mampu merangkul semua etnis suku dan agama, tanpa terkecuali," ujarnya.
Perayaan tahun baru China di Wihara Petak Sembilan disesaki pengunjung dan pengemis. Berbeda dari pengunjung, sekitar dua ribu pengemis mendatangi Wihara demi mendapatkan angpaw alias hadiah. "Pengemisnya ini sekitar dua ribu orang. Mereka berasal dari Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bogor dan sekitarnya," kata Yu Le.
Ia menjelaskan, pengemis memadati Wihara Petak Sembilan sejak Kamis (30/1) lalu. Demi menjaga situasi tetap kondusif, pengurus Wihara meminta bantuan polisi dari Polsek Taman Sari dan Koramil Taman Sari. "Jadi memang sengaja pengemisnya ini dikumpulkan jadi satu dan diberi police line biar nggak mengganggu umat," urainya.
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama merupakan satu dari sekian pejabat yang mengikuti perayaan Imlek. Karangan bunga ucapan selamat tahun baru Imlek dari PDI Perjuangan pun sempat mampir di Balai Kota, Kamis (30/1). Karangan bunga itu ditujukan kepada Basuki atau Zhong Wan Xie alias Ahok.
"Saya mau jalan-jalan cari angpao kali," ujar Ahok menyikapi hari Imlek.
Ahok berharap di hari Imlek bisa bersilaturahmi dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto. "Saya mau makan siang dengan Pak Prabowo," ucap mantan Bupati Belitung Timur itu.
Keinginan Ahok bersua untuk makan siang dengan Prabowo tidak terlaksana. Bahkan, Partai Gerindra juga tidak mengirim karangan bunga ucapan selamat tahun baru Imlek untuk Ahok. Menyikapi hal itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan, partai Gerindra tidak perlu mengirim bunga untuk Ahok. Ia juga tidak terlalu mempermasalahkan karangan bunga dari PDI Perjuangan.
"Orang yang mengirimkan karangan bunga itu biasanya orang luar," ujar Fadli Zon.
Menurutnya, Ahok saat ini tercatat sebagai Ketua bidang Politik DPP Gerindra. Sebagai bagian partai, Fadli menilai, Ahok tidak perlu dikirimi karangan bunga secara khusus. "Kami sudah mengucapkan selamat secara khusus pada Ahok. Selain itu, kami juga membuat iklan secara nasional soal ucapan Imlek, biar bisa menjangkau masyarakat yang lebih banyak," ungkapnya.
Ahok tidak terlalu mempermasalahkan karangan bunga dari PDIP. Ia juga menilai, Partai Gerindra tidak perlu memberi karangan bunga tahun baru Imlek untuk dirinya. "Kalau sama Gerindra kan sudah kayak keluarga sendiri. Jadi, enggak perlu karangan bunga lah," ucap Ahok. "Ini cuma bukti hubungan saya dan Bu Mega baik." (tribunnews/nic/tmp)