Bencana di Sulut
Empat Rumah di Lolak Dihantam Puting Beliung
Hanya dalam hitungan beberapa menit, empat rumah di Desa Padang, Kecamatan Lolak, rusak dihantam angin puting beliung.
Penulis: | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Edi Sukasah
TRIBUNMANADO.CO.ID, LOLAK ‑ Hanya dalam hitungan beberapa menit, empat rumah di Desa Padang, Kecamatan Lolak, rusak dihantam angin puting beliung, Jumat (24/1) malam. Angin datang sekejap saat hujan mengguyur sejumlah kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong).
Rumah milik keluarga Inoponto Gobel (53) mengalami kerusakan paling parah. Seluruh atap rumahnya terbawa angin. Beberapa bagian atap tersebut, Inoponto temukan sejauh 300 meter lebih dari rumahnya. Tak hanya itu, bagian dalam rumah berdinding papan itu berantakan. Beberapa papan tercerabut dari tempatnya.
Aena Gobel (49), istri Inoponto, mengatakan, angin puting beliung itu datang tiba‑tiba. "Saya sedang memasak. Wus, suara angin terdengar. Tiba‑tiba rumah seperti terangkat. Turun naik. Hanya beberapa menit saja, atap terangkat. Kemudian angin berlalu," ujar Aena saat ditemui, Sabtu (25/1/2014).
Perempuan ini panik. Dia segera berlari melihat anak dan keponakanya di kamar. Setelah mengetahui keluarganya aman, Aena merasa tenang. Namun hujan terus mengguyur, memaksa dia bersama tujuh anggota keluarganya berlindung di Gedung SMP Negeri 5 Lolak yang terletak beberapa meter saja dari rumahnya.
Inoponto mengatakan, angin puting beliung tersebut muncul sekitar pukul 18.30 Wita. "Angin datang dari arah barat. Sangat tiba‑tiba. Beberapa waktu lalu memang ada angin seperti ini, namun baru sekarang dampaknya sampai seperti ini," kata Inoponto sambil menunjuk ke bagian atas rumahnya.
Keluarga Inoponto Gobel harus bermalam di Gedung SMP Negeri 5 Lolak dalam beberapa hari ke depan. "Tak ada yang tersisa. Ini pakaian yang saya dan anak saya pakai hanya daster pinjaman. Barang dagangan juga tak ada yang tersisa," ujar Aena Gobel. Dia tak bisa menaksir berapa kerugian materil akibat kerusakan. Perempuan ini hanya menunjukkan keadaan rumah yang sudah porak poranda. Bahkan, warung kecilnya sudah tak berbekas. Hanya ada beberapa air kemasan yang tergeletak dan bungkusan rokok yang sudah basah.
Selain rumah Inoponto, tiga rumah lain yang rusak milik keluarga Yepnisen Rindahati, Muliawan Balandatu dan Abdul Kadir Balandatu. Saat ditemui, mereka tampak berusaha memperbaiki rumah. Semalam sudah berlalu, namun Yepnisen mengatakan, belum ada pihak pemerintah yang datang. "Sampai saat ini, baru sangadi (kepala desa) yang datang," kata Yepnisen. Pria berumur 37 tahun ini mengaku kesal dengan sikap pemerintah yang dinilai lamban. Bahkan, Yepnisen sempat marah kepada beberapa wartawan yang datang ke rumahnya karena mengira dari pihak Pemkab Bolmong.
Sementara itu, sejumlah desa di empat kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), hampir dua jam lebih terendam air, Jumat malam itu. Bahkan, ketinggian air di Desa Bolaang Timur, Kecamatan Bolaang Timur dan Solog, Kecamatan Lolak sampai sekitar sameter, "Air naik sampai sampai sekitar satu meter di Solog. Sementara di Desa Mongkoinit sempat mencapai sepinggang orang dewasa.
Air bahkan naik juga di Jalan Trans hingga mencapai sekitar selutut. Lalu lintas juga sempat terganggu. Di lapangan Daagon juga tergenang," ujar Adri Paputungan, warga Lolak. Selain Kecamatan Lolak, air juga merendam tiga kecamatan lainya, yakni Poigar, Bolaang dan Bolaang Timur. Air sudah surut pada malam itu juga. Namun, warga sempat panik. Beberapa di antaranya berlari ke daerah yang lebih tinggi. Tak ada korban jiwa pada kejadian ini. (*)
Berita ini dapat Anda ikuti melalui Tribun Manado edisi cetak, terbit hari ini, Minggu (26/1/2014).