Wisata ke Tanah Suci Israel, Berdoa di Tembok Ratapan
TEMBOK ini merupakan dinding batu yang menjulang sekitar 18,9 m dari atas tanah.
Penulis: Andrew_Pattymahu | Editor:
Tembok Ratapan atau Tembok Barat di Yerusalem, diyakini oleh banyak orang sebagai sisa‑sisa dari salah satu dinding sebuah kuil Yahudi besar atau dinding yang mengelilingi halaman kuil.
TEMBOK ini merupakan dinding batu yang menjulang sekitar 18,9 m dari atas tanah. Tembok ini dianggap situs sakral oleh orang Yahudi, dan ribuan orang berziarah di sana setiap tahun.
Tembok Ratapan merupakan sumber sengketa antara orang Yahudi dan Muslim. Orang Islam menganggap tembok ini menjadi bagian dari masjid kuno dan tempat nabi Muhammad mengikat kuda bersayapnya (Buraq) selama perjalanan Isra Mi'raj.
Tembok Kuil
Orang Yahudi menganggap dinding tersebut sebagai bagian dari sebuah kuil Yahudi yang disebut juga Bait Suci Kedua yang telah berdiri selama ratusan tahun.
Raja Herodes memerintahkan renovasi dan perluasan kuil sekitar tahun 19 SM, dan pekerjaan itu tidak selesai sampai sekitar 50 tahun kemudian.
Kuil ini lantas dihancurkan oleh Roma sekitar tahun 70 M, hanya beberapa tahun setelah selesai. Tembok Ratapan secara luas diyakini sebagai satu‑satunya bagian yang masih berdiri.
Setelah kuil itu hancur, banyak orang Yahudi mulai pergi ke dinding yang tersisa untuk meratapi kehancuran kuil dan untuk berdoa.
Tembok Ratapan merupakan nama yang diberikan oleh orang non‑Yahudi ketika melihat orang‑orang Yahudi meratap sana.
Orang Yahudi sebenarnya menamai tembok tersebut sebagai Tembok Barat, atau Kotel HaMaaravi dalam bahasa Ibrani.
Tembok Al‑Buraq
Banyak Muslim percaya bahwa dinding tersebut tidak ada hubungannya dengan Yudaisme kuno. Orang Islam merujuk tembok tersebut sebagai Tembok Al‑Buraq, diambil dari nama kuda bersayap yang ditunggangi Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra' Mi'raj.
Kepercayaan Islam menyatakan bahwa Al‑Buraq diikat ke dinding sementara Nabi naik ke surga untuk bertemu dengan Tuhan.
Banyak Muslim juga percaya bahwa tembok tersebut merupakan bagian dari Masjid Al‑Aqsa kuno, dan bahwa orang Yahudi baru mulai berdoa di tembok tersebut sampai setidaknya abad ke‑16.
Penguasa Tembok
Selama lebih dari 3.500 tahun, Yerusalem berulang kali dikuasai oleh berbagai penakluk yang berbeda. Penguasaan Tembok Ratapan terus menjadi titik pertikaian hingga abad ke‑20 dan awal abad ke‑21.
Pemimpin Arab mengontrol wilayah Tembok Ratapan selama bagian pertama abad ke‑20. Namun dengan berdirinya Israel, Yahudi menguasai tembok tersebut pada tahun 1967.
Meskipun tetap terjadi permusuhan antara Yahudi dan Muslim, Tembok Ratapan telah menjadi situs rekonsiliasi antara Yahudi dan Katolik.
Pada tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II menjadi Paus pertama yang berdoa di Tembok Ratapan. Paus juga meminta maaf akibat penganiayaan Katolik terhadap Yahudi selama berabad‑abad.
Umat Yahudi dari semua negara, dan juga wisatawan dari berbagai latar belakang agama lazim berdoa di Tembok Ratapan karena diyakini memiliki "telinga Tuhan."
Orang yang tidak dapat berdoa langsung di tembok dapat mengirimkan doa atau menggunakan Kaddish, sebuah doa khusus untuk orang Yahudi.
Doa yang dikirim tersebut ditulis dalam sebuah kertas dan diselipkan di celah‑celah dinding yang disebut sebagai kvitelach.
Tembok Ratapan dapat dikunjungi setiap saat sepanjang hari. Pengunjung biasanya digeledah secara menyeluruh untuk tujuan keamanan.
Perempuan dari agama apapun, untuk menghormati hukum Yahudi, harus mengenakan pakaian yang sopan.
Ada pintu masuk terpisah untuk pria dan wanita, meskipun mereka dapat berkumpul kembali di dalam tembok.
Struktur
Bagian utama dari tembok, di mana orang pergi untuk berdoa, memiliki panjang sekitar 57 m dan terbuat dari batu kapur meleke.
Sebagian besar batu memiliki berat hingga 1,814.4 kg atau lebih, dan satu batu terbesar yang disebut Batu Barat, beratnya mencapai lebih dari 500.000 kg.
Jacko Dengarkan Khotbah di Danau Galilea
Pada Oktober 2013 lalu, Jackson Kumaat bersama keluarga serta kerabatnya berkesempatan untuk mengunjungi Israel, negara yang oleh agama Kristen, Islam dan Yahudi dijuluki sebabai tanah suci.
Staf Khusus Gubernur Sulut Bidang Investasi ini menikmati setiap keindahan alam serta tempat‑tempat yang dianggap religius khususnya bagi umat Kristen.
Selama hampir dua pekan di negara ini, Jacko sapaan akrabnya kepada Tim Edisi Minggu Tribun Manado menuturkan Israel merupakan negara yang aman dan damai tidak seperti yang diumbar media selama ini. Penduduknya pun ramah dan welcome dengan siapa saja.
Jacko mengunjungi Tembok Ratapan, Laut Mati, Dataran Tinggi Golan, Bukit Golgota, Jalan Via Dolorosa, Gereja Navinity atau tempat kelahiran Yesus dan tempat‑tempat lainnya. Ketua DPD I KNPI Provinsi Sulut ini mengaku merasakan suasana travelling yang berbeda, tidak sama ketika ia mengunjungi atau berwisata ke Eropa ataupun negara Asia.
"Di Israel kita bisa mengenang kembali kisah Yesus sewaktu melayani di Dunia. Ini menjadi sesuatu yang luar biasa dan tak akan pernah hilang dari memori saya," ucap Ketua Pengprov PSSI Sulut ini, Jumat (3/1).
Selama di Israel Jacko mengaku berdoa buat bangsa Indonesia dan daerahnya yakni Sulawasi Utara. "Satu hal yang sedikit membuat saya takut ketika berada di perbatasanantara Israel dan Suriah, karena di Suriah negaranya sedang berkonflik," kata pengusaha muda ini.
"Kami juga menikmati khotbah di atas Danau Galilea. Ini mengingatkan kami sewaktu Yesus melakukan hal serupa kepada murid‑murid‑Nya dan orang banyak," tambah Jacko.
Jacko mengatakan siapa saja bisa pergi ke sana. Asalkan ia beriman kepada Tuhan dan impiannya pasti akan di dengar. "Tidak ada yang mustahil jika kita menyerahkan semua impian dan cita‑cita kepada‑Nya," pungkasnya. (andrewpattymahu)
Mulai 22 Jutaan!
Ada banyak agen travel yang menawarkan paket murah wisata ke Israel. Dari penelusuran di internet, banyak tawaran paket harga, bahkan yang paling murah berkisar sampai Rp 22 juta untuk wisata selama 12 hari.
Paket wisata ini terbilang relatif murah tentunya mengingat banyaknya tempat yang bisa Anda kunjungi seperti di Kairo, Jerusalem, dan Bethlehem.
Pertama Anda akan diajak mengunjungi Giza Piramida dan Sphinx, selanjutnya mendaki Gunung Sinai (3 jam), di puncak, berdoa dan merenungkan Sepuluh Perintah Allah. Turun kembali dan singgah di Biara St Catherina, melihat "Semak Bernyala dan Sumur Jethro".
Ada juga Gereja Nativity, Groto kandang, Padang Gembala, Gereja & Kebun Gethsemane, Gereja Bapa Kami, Dominus Flevit (Yesus menangisi Yerusalem), Kapel Kenaikan, Gereja St Peter of Galicanthu dan Tembok Ratapan. Bagaimana, tertarik?