Resensi
Buku Sulawesi Bersaksi, Sepenggal Kisah Korban 65
Arti terpenting dari kehadiran kisah para korban ketidakadilan dan ketidakpedulian ada dalam buku ini.
Oleh Yudith Rondonuwu
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Arti terpenting dari kehadiran kisah para korban ketidakadilan dan ketidakpedulian ada dalam buku ini. Buku ini seakan memberi kita ingatan dan pegangan untuk berani menyaksikan kenyataan historis ini bukan hanya pada generasi terkini tapi pada generasi akan datang, agar tragedi ini tidak berulang kembali.
ITULAH sepenggal catatan dari Fredy Sreudeman Wowor seorang sastrawan yang juga dosen Fakultas Sastra Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dan aktivis Mawale Movement suatu gerakan terkait budaya. Tentunya catatan kritis ini muncul bersama dengan kehadiran buku berjudul 'Sulawesi Bersaksi' ini.
Buku ini berisi tentang kisah para korban kekerasan pada tahun 1965. Ada kesaksian-kesaksian dari orang-orang yang dipenjara tanpa tahu apa kesalahan mereka. Para korban ini berada di hampir semua wilayah Sulawesi mulai dari Kota Manado hingga ke Palu, Kendari, Buton, Makassar dan lainnya. Buku ini seperti mengajak para pembaca melihat lebih dekat dan tentu saja mengali sejarah untuk belajar dari sejarah agar kehidupan generasi selanjutnya lebih baik.
Ada 14 judul utama dalam buku ini yang ditulis oleh penulis yang berbeda-beda. Judul per bab mulai dari 'Mamadu Inspirasi di Palu' sebagai catatan Nurhasanah, seorang pendamping para korban penyintas tragedi 65/66 Region Sulawesi. Kemudian bab-bab selanjutnya berjudul 'Mengungkapkan Kebenaran Menjadi Sahabat Korban' ditulis Ahmad Bantam, 'Kau Siksa Bapakku Tanpa Nurani' ditulis Andi Sutra, 'Dasar Anak PKI' ditulis Anwar Naba, 'Jalan Panjang Menuju Setara' ditulis Hanouk Makatipu, 'Menggeliat Menghentakkan Keterpurukan' ditulis Hary Wisastra, 'Kisah Panjang Kerja Paksa' ditulis Rafin Pariuwa, 'Memutus Rantai Pengucilan' ditulis Marhadian, 'Hikayat Cinta Yang tak Bertepi' ditulis Maryam, '32 Tahun Ditahan Orde Baru' ditulis Muhammad Said Bharudin, 'Kalau Saya Tidak Tabah, Mungkin Sudah Gila atau Mati' ditulis Naina, 'Pahit Getir di Bawah Orba' ditulis Poppy dan Marten Piai, 'Berjuang Melawan Beban Sejarah' ditulis Windra dan 'Berhasil Menembus Kabut Hitam' ditulis Yenny Oroh.
Kisah-kisah menarik dari pengakuan orang-orang yang benar-benar merasakan peristiwa sejarah tahun 1965 di Indonesia khususnya di daerah Sulawesi. Dari judulnya saja sudah bisa dirasakan betapa menariknya isi buku ini. Sebuah buku langkah yang oleh Dosen Fakultas Sastra Unsrat yang biasa menulis sejarah yaitu DR Ivan RB Kaunang disebut sebagai buku yang pantas dikategorikan buku sejarah Indonesia.
Selain DR Kaunang, dalam buku ini juga dituliskan tentang 'apa dan siapa' tokoh-tokoh yang berperan dalam buku ini. Bahkan alamat dan nomor kontak dicantumkan mungkin atas kesediaan para aktivis ini dalam menjawab rasa penasaran para pembaca nantinya. Para aktivis ini antara lain Alamsyah AK Lamasituju pendamping Lembaga Seni Anak Bangsa di Palu, Anita Tourisia bekerja di Dinas Kesehatan di Palu, Freddy S Wowor dosen Unsrat Manado, Gagarisman anak Sekretaris PKI Sulteng yang dibunuh, Muhammad Abbas aktivis di Dewan Kesehatan Rakyat dan Kemunitas Peduli Perempuan dan Anak Sulteng, Nasir aktivis mahasiswa kuliah di Universitas Bung Karno Jakarta, Netty S Kalengkongan wanita asal Poso yang suamunya meninggal akibat konflik Poso, Nurlaela Lamasitudju aktivis HAM di Palu, Putu Oka Sukanta sastrawan dan akupunturis yang pernah di penjara di Orba selama 10 tahun tanpa proses hukum, Salim Martodiredjo ilustrator buku, Hj Dra Ince Mawar L Abdullah seniman tari di Palu dan Wali Kota Palu Rusdy Mastura.
Tentu saja para penulis adalah para aktivis yang sudah malang melintang dan mengerti tentang artinya perjuangan dan Hak Asasi Manusia (HAM). Judul-judul dalam buku ini antara lain Catatan Nurhasanah, seorang pendamping yang isinya tentang perjalanan penulis mendampingi korban penyintas tragedi 65/66 Region Sulawesi. Dalam bab ini juga ada penjelasan tentang tragedi tahun 1965/1966. Ada banyak cerita tentang pecahnya gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di berbagai daerah di Sulawesi. Menarik juga cerita Oma-oma dari Buton (Bau-bau) Sulawesi Tenggara yang pernah dituduh sebagai bendahara Gerwani yaitu organisasi perempuan dibawah naungan PKI saat itu.
Buku ini sangat menarik karena cara penulisannya yang semi feature. Para pembaca seakan diajak masuk kedalam sejarah yang diceritakan para penulis. Anda yang senang sejarah atau ingin mengetahui tentang makna perjuangan wajib membaca buku ini. Belajarlah dari sejarah supaya bisa hidup lebih baik di masa yang akan datang karena tanpa sejarah peradaban seakan hampa.(dit)