Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Editorial Tribun Manado

Pemilih Cerdas

Menurut informasi seperti yang dirilis Tribun, peristiwa tersebut terjadi pada Senin (2/12) sekitar pukul 18.00 WIB. Ketua Komisi IX DPR

Penulis: | Editor:

TRIBUNMANADO.CO.ID - KITA sedih sekaligus prihatin, mengelus dada ketika mendengar dua anggota DPR RI bertengkar di ruang kerja pimpinan Komisi XI DPR dan bahkan disebut-sebut nyari adu jotos.

Kabarnya, insiden itu melibatkan anggota Komisi XI dari Fraksi PPP, Irgan Chairul Mahfidz,  dengan  M Nasir, dari Fraksi Partai Demokrat yang merupakan saudara kandung terpidana korupsi M Nazaruddin. Mereka adu mulut dan saling dorong.

Menurut informasi seperti yang dirilis Tribun, peristiwa tersebut terjadi pada Senin (2/12) sekitar pukul 18.00 WIB. Ketua Komisi IX DPR Ribka Tjiptaning membenarkan adanya keributan dua anggota DPR tersebut. Dua anggota DPR yang terlibat adu mulut yakni Wakil Ketua Umum Komisi IX DPR Irgan Chairul Mafidz dan anggota Komisi XI M Nasir.

"Memang ada ngotot-ngototan saja. Mereka teriak-teriak ayo kita keluar,  begitu kata Nasir," kata Ribka. Politisi PDI Perjuangan  itu mengaku tidak mengetahui penyebab keributan tersebut. Namun ia memperingatkan agar keributan tidak berlangsung di ruang pimpinan Komisi IX.

"Saya bilang jangan di dalam ribut-ributnya. Nah aku, ngga tahu apa yang diributin," ujarnya. Ribka mengatakan saat kejadian dirinya sedang duduk di ruangan tersebut. Keributan tersebut tidak sampai adu jotos.

Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR Trimedya Panjaitan mengaku belum mendapatkan laporan atas kejadian tersebut. Dia masih akan mengumpulkan informasi dan laporan untuk menentukan sikap.

Telepas dari topik masalah yang mereka ributkan, perilaku ini jelas sangat tidak bisa diteladani. Mereka yang bisa duduk di gedung parlemen yang megah itu karena kedewasaan, keteladanan dan kecerdasannya. Bukan kepiawaiannya beradu mulut dan beradu fisik. Meski tidak kita pungkiri, ada saja mereka terpilih karena ketidaktahuan pemilih siapa yang dipilih.

Jelas ini merupakan warning bagi para calon pemilih di Pemilihan Umum, 9 April 2014 mendatang. Memilih mudah, namun menentukan pilihan yang tepat siapa sosok yang layak menjadi wakil rakyat sangatlah sulit.

Lihat saja, betapa Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi bisa menjadi kantor kedua sejumlah anggota dewan. Hilir mudik, keluar masuk, anggota dewan dipanggil untuk diperiksa terkait dugaan korupsi. Bahkan banyak di antara mereka yang mendekam di penjara karena korupsi.

Untuk itu, kita harus mengenal betul siapa orang yang akan kita percaya itu. Tak sekadar melihat tampang, mendengar dan menyimak janji-janji yang sebenarnya banyak tak masuk akal. Demi meraih kursi, semua dijanjikan, menjual angin surga, namun setelah jadi, tak satupun yang terbukti.

Kita harus pandai-pandai mengenal, terlebih jejak rekam sang kandidat. Setidaknya, dengan mengetahui jejak rekamnya itu maka bisa menuntun kita memilih siapa orang yang tepat menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi kita. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved