Breaking News:

Catatan Sepakbola

Oh Mace, Ya Yabes!

Menumpang tenar Yabes Roni Malaifani pakai parfum politik. Politik parfum, konon kabarnya, kalau over dosis malah menjadi bau

Penulis: | Editor: Fernando_Lumowa
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Pemain Timnas Indonesia U-19 asal NTT, Yabes Roni Malaifani (dua kanan) bersama Muchlis Hadi Ning Syaifulloh (kiri), Evan Dimas Darmono (dua kiri), dan Putu Gede Juti Antara (kanan) berselebrasi usai membobol gawang Filipina pada pertandingan kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2013). Indonesia unggul dengan skor 2-0. 

Begitulah. Kompetisi sepakbola di NTT memang hidup enggan mati pun tak mau. Dari waktu ke waktu begitu saja yang tergelar. Menu yang itu itu juga yang tersaji di altar bola Flobamora. Kejuaraan El Tari Memorial Cup adalah ritual tahunan. Ritual sang jago kandang yang begitu susah menembus kasta kompetisi divisi sedikit lebih tinggi di  Indonesia. Jangankan Divisi Utama apalagi Liga Super, sekadar divisi II pun begitu rapuh tim-tim asal NTT mampu bertahan. Warta kekalahan merupakan derita panjang tim-tim Flobamora.

Begitulah hukumnya. Kompetisi berjenjang berkelanjutan merupakan keniscayaan sepakbola. Tatkala dunia gemas dan girang melihat anak bola yang sehat dan menghibur seperti Pele, Maradona, David Beckham, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi atau Neymar, ketahuilah mereka  tidak lahir begitu saja. Mereka lahir dari rahim ibu bola yang kerja keras memeras keringat bahkan air mata.

Ketika suatu kabupaten, kota, provinsi di ini negeri  tidak memiliki kompetisi sepakbola yang kompetitif, sumbangan pemain untuk tim nasional adalah mimpi di siang bolong. Kalau elit pemimpin daerah lebih sibuk berkompetisi politik, lebih doyan bermain jurus di rimba persilatan pemilukada dan setelah itu lupa urus rakyat, anak-anak bola Indonesia tak pernah mengguncang dunia.

Ini memang bukan hanya masalah Nusa Tenggara Timur. Sulawesi Utara, Sumatera Utara serta sejumlah daerah lain di Indonesia yang dulu rutin melahirkan anak-anak bola berbakat, saat ini sepi dari nama besar.

Yabes, ya Yabes Roni  Malaifani! Apakah dia sudah memiliki nama besar? Saya kira belum saatnya Yabes berbangga secara berlebihan sebagai duta sepakbola Flobamora. Yabes Roni barulah sekuncup, belum mekar mewangi apalagi sampai legendaris.

Siapa saja yang tergetar oleh demam Yabes hari ini, oleh daya itu, oleh pesona bola yang mengantar Yabes disambut bak pahlawan, melebihi atlet kempo, tinju, atletik asal NTT  yang prestasinya bahkan sudah menembus dunia, mestilah  merawat momentum ini dengan bijak. Yabes tak patut dibelai disanjung dengan kebanggaan terburu-buru karena ia akan merasa tak sanggup memikul beban yang bejibun.

Putaran final Piala Asia U-19 di Myamar, tempat di mana Yabes dkk akan mempertaruhkan kehormatan tim Merah Putih di level Asia masih setahun lagi. Dalam 12 bulan ke depan segala sesuatu masih mungkin terjadi. Yabes, apakah Yabes masih mengenakan kostum berlogo Garuda? Indra Sjafri, sehari setelah timnas U-19 memastikan lolos ke putaran final lewat kemenangan bersejarah atas timnas Korea Selatan 3-2, lantang berkata, rotasi, promosi dan degradasi pemain masih berlaku di Timnas U-19 yang dia targetkan bisa  menembus final Piala Dunia U-20 tahun 2015 di Selandia Baru.

Kata Indra, pelatih berkumis kelahiran Sumatera Barat, bahkan seorang Evan Dimas Daryono pun bisa digantikan manakala dalam setahun ini performanya anjlok atau ada pemain lain yang lebih bagus darinya.  Jadi, pencapaian seorang Yabes belum apa-apa. Jalan anak yatim itu  masih panjang dan berliku, penuh onak dan duri.  Tugas kita  mendukung Yabes  agar jalan yang telah dia rintis dengan manis, dia akhiri  pula dengan indah berseri-seri.

Di antara celah gunung-gemunung, ngarai dan juga lembah Indonesia, hari ini  masih riuh terngiang nama Yabes. Ya Yabes!  Sungguh terlalu kalau ada yang iri dan dengki, juga berpikir praktis dengan agendanya  sendiri. Menumpang tenar Yabes Roni Malaifani  pakai parfum politik. Politik parfum, konon kabarnya,  kalau over dosis malah menjadi bau. Jauh dari harum, semerbak mewangi. *

* Dion DB Putra, wartawan Tribun Manado, penggemar sepakbola.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved