Breaking News
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Resensi Buku

Setiap Hati Punya Cinta, Setiap Rumah Punya Cerita

Kepada Yanti, sales yang mengurus proses jual beli rumah tersebut, Gita menyampaikan alasan penolakannya

Penulis: Liza_Sambur | Editor:

Oleh Liza Sambur

TRIBUNMANADO.CO.ID- Setiap rumah punya cerita unik yang menarik. Ini yg diangkat oleh Bintang Wijaya dalam antologi cerita-cerita pendeknya yang berjudul "Rumah di Surga".

Idenya yang terlihat sederhana ini berhasil mengumpulkan 18 cerita yang menarik dari berbagai sudut pandang dan tema yang berbeda. Misalnya kisah tentang rumah berasitektur gaya Timur Tengahnya Maroko, Casablanca dan Turki. Rumah rencananya dijual oleh Ibu Gita karena akan ikut bergabung dengan suaminya yang punya usaha maju di Bandar Lampung. Namun ketika rumah tersebut akan dibeli oleh Keluarga Bapak Bimo (yang ternyata mantan kekasih masa kuliah Ibu Gita) dengan harga sesuai yang diminta, Gita menolak menjual rumahnya.

Kepada Yanti, sales yang mengurus proses jual beli rumah tersebut, Gita menyampaikan alasan penolakannya. Rumah tersebut dibangun berdasarkan hasil rancangan Gita dan Bimo, yang sama-sama lulusan arsitektur dan sama menyukai arsitektur gaya Timur Tengah yang unik. Bagi Gita, rumah itu adalah rumah pertamanya dengan suaminya hingga dia enggan membagi jiwa rumah itu dengan Bimo, mantan kekasihnya.

Bimo yang bernafsu membeli rumah tersebut yang tentu sesuai dengan jiwanya akhirnya berhasil memperoleh rumah tersebut berkat kecerdikan Yanti, si sales yang menghubungi Cik Wawa yang bersedia membeli rumah itu dengan harga yang lebih murah dari yang diminta Gita, untuk kemudian menjualnya kepada Bimo sesuai harga yang sudah disepakati.

Bagi Yanti yang hanya memikirkan komisi dari penjualan rumah seharga 800 juta, berbagi jiwa sebuah rumah hanyalah omong kosong. Toh, Gita takkan tahu, yang penting rumah itu terjual cepat dan Bimo klien satunya bisa memperoleh rumah yang diidamkan. Kisah ini dimuat dalam cerpen yang berjudul "Berbagi Jiwa Sebuah Rumah."

Kisah tentang rumah yang dibangun oleh sepasang kekasih namun batal mereka tinggali karena mereka terlanjur berpisah juga kembali diangkat dalam cerpen berjudul "Rumah Pelangi". Kisah tentang para sales yang menjual rumah pun diangkat dalam berbagai judul dan seting. Seperti cerpen dengan judul "Tentang Rumah Sang Mercusuar" yang menceritakan sales yang jatuh cinta pada salah seorang kliennya yang terpaksa harus menjual rumahnya karena usahanya merosot dan isterinya meninggalkannya.

Atau kisah "Hati Yang Retak di Sudut Rumah" yang mengangkat tentang sales rumah yang kreatif menjual rumah beserta perabotannya karena mendapati keluhan bekas klien yang bilang kalau rumah mereka jadi tidak nyaman setelah ditempati padahal waktu dikunjungi dalam keadaan kosong rumah tersebut terkesan nyaman. Ternyata masalahnya terletak pada perabotan yang tidak sesuai dengan gaya rumah. Masalah ini yang menimbulkan ide menjual rumah beserta perabot yg cocok pada si sales. Dia lalu bekerja sama dengan toko furniture kenalannya dan kekasihnya, seorang design interior.

Namun kesuksesan idenya tersebut membuat si sales mengabaikan kekasihnya dan melupakan pemilik toko furniture yang awalnya mau bekerja sama dengannya. Pada akhirnya, si pemilik toko 'memelihara' kekasih si sales sebagai balas dendam.

Kepiawaian penulis antalogi dalam membuat cerpen-cerpen dengan satu tema universal yang sederhana, rumah; dibuktikan dengan tema-tema minor namun didaktik yang diangkatnya seperti kasih sayang orangtua, masalah pendidikan dan kehangatan keluarga, seperti yang bisa kita baca dalam judul "Rumah di Surga", "Sebuah Rumah untuk Pulang", "Wasiat Rumah Warisan", "Rumah dari Mami" dan "Tiga Rumah, Satu Cinta"; penemuan cinta (kembali) dalam judul-judul

"Rumah Para Bidadari", "Rahasia Rumah Kembar di Ujung Jalan", "Rumah Hujan". Ada juga tema tentang pengkhianatan seperti kisah dalam judul "Rumah Tusuk Sate Bernomor Tiga Belas", dan "Karma Sebuah Rumah"

Dalam kisah-kisahnya yang pendek namun diikat dengan satu tema rumah, penulis membagikan nilai-nilai hidup tentang kekompakan keluarga yang lebih penting dari harta warisan, kesadaran rohani yang jauh lebih berharga dari sebuah rumah warisan yang besar, kemungkinan positif maupun negatif yang bisa kita temukan dalam sebuah rumah yang baru kita miliki, nilai penting tentang kesetiaan, optimisme, perencanaan matang, kehidupan yang selalu bersyukur meski dalam kekurangan.

Beragam pesan moral yang kaya dirangkum dalam 219 halaman kertas yang berisikan 18 cerita pendek, disajikan dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. (*)

Data Buku

Judul Buku: Rumah di Surga
Penulis: Bintang Wijaya
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2013
Edisi: Cetakan Pertama
Genre: Novel

Sumber: Tribun Manado cetak

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved