Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Health

Kurang Berpikir Positif Bikin Depresi

Kasus kematian karena bunuh diri beberapa tokoh idola sering kita dengar.

Penulis: | Editor: Aswin_Lumintang

Laporan Wartawan Tribun Manado Rine Araro

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Kasus kematian karena bunuh diri beberapa tokoh idola sering kita dengar. Ada yang menyebutkan mereka sampai melakukan hal tersebut karena mengalami depresi. Perasaan-perasaan negatif seperti kesedihan, kekhawatiran, dan frustrasi merupakan perasaan-perasaan yang umum dirasakan oleh banyak orang.

Merupakan suatu hal yang wajar jika merasa kecewa setelah mengalami kegagalan, sedih, perpisahan atau kehilangan. "Kalau menurut saya, kurang berpikir positif juga bisa menjadi penyebab depresi," ujar Amelia Pangkey.

Dikatakannya, ia pernah merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi berulang kali. Akibat perasaan tersebut, menurut ibu tiga orang anak ini, dirinya selalu memfokuskan perhatian pada masalah apa yang pernah dihadapinya. Hal ini ternyata, menurut Amelia, sempat membuat dirinya hampir berhenti dari pekerjaannya. "Kerjaan jadi tidak fokus, semua yang dikerjakan terasa tak ada yang benar," tuturnya.

Ditambahkannya, tekanan hidup yang tinggi terutama di daerah perkotaan bisa juga membuat orang menjadi depresi. Menurutnya, perkembangan pola hidup dan pola sosialisasi iktu mendukung. "Saya juga pernah mengalaminya. Saat itu saya bertemu dengan teman-teman semasa sekola kemudian kita bercanda. Sampai di rumah saya masih mengingat cara bercanda yang menurut saya sudah berlebihan. Ini menjadi tekanan bagi saya," kata dia.

Pola sosialisasi yang berkembang terutama lewat media sosial juga pernah dialami oleh Irma. Diceritakannya, ketika itu, dirinya hanya merespon sebuah kicauan dari seorang senior di sekolahnya. Tak disangka kicauannya tersebut mendapat respon berlebih dari orang-orang yang kenal seniornya tersebut. "Waktu itu, si senior hanya menjawab dengan tanda tanya saja. Saya takut akan diserang di media sosial. Pikiran semakin tertekan," ucap Irma.

Menurut Irma, ketakutan yang berlebihan tersebut membuatnya sering tidak ke sekolah. Ia bahkan sempat meminta orangtuanya untuk memindahkannya dari sekolah tersebut tapi tak dituruti oleh orangtuanya. Kata Irma, ia semakin takut setiap kali telepon genggamnya berdering. "Perubahan sikap yang saya alami waktu itu membuat orangtua khawatir dan akhirnya membawa saya ke seorang psikater. Syukurlah saya bisa keluar dari perasaan takut berlebihan tersebut, " jelasnya.

Lain lagi, bagi Nancy Kansil yang juga mengaku pernah mengalami depresi. Menurutnya, ketika mengalami depresi karena kehilangan orang yang sangat dicintai, ia memilih untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Saat itu dengan bantuan hamba Tuhan di gereja, dia belajar untuk ikhlas dan berdoa. "Saat ikhlas dan berdoa secara sungguh-sungguh membuat saya merasa nyaman, tenang dan bahagia," tandasnya. Depresi jika terus diabaikan dapat membahayakan keberlangsungan hidup sesorang. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved