Mahasiswi Unima Tewas, Ini Keinginan Novita yang Belum Tercapai
Kematian Novita Kawinda (18), mahasiswi semester lima Program Studi Ilmu Administrasi Negara FIS Unima.
Penulis: Finneke | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan
TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Kematian Novita Kawinda (18), mahasiswi semester lima Program Studi Ilmu Administrasi Negara FIS Universitas Negeri Manado (Unima), Sabtu (7/9/2013) lalu, menyisakan duka mendalam bagi orang‑orang terdekatnya. Di mata para sahabatnya, Novita adalah sosok ramah yang selalu memberikan senyum pada orang yang ditemuinya.
Minggu (8/9/2013) siang di ruang jenazah RSUP Prof Kandouw Malalayang Manado tampak sekelompok orang memakai baju hitam. Di ruang itu terdapat beberapa jenazah dalam peti warna putih. Jenazah Novita berada di sudut kanan paling depan. Ayah Novita, Alwin Kawinda duduk di samping peti dan terus menangis. Tak lama berselang, muncul beberapa perempuan muda. Mereka langsung menghampiri jenazah dan air mata pun tumpah di sana.
Perempuan muda itu para sahabat Novita. Satu di antaranya Narti Manginsela. Dia bersahabat dengan Novita sejak SD. Bahkan sampai kuliah pun mereka satu kelas dan tinggal satu kos "Orangnya sangat baik. Dia jarang sekali marahan dengan orang lain. Tapi orangnya agak tertutup. Tidak banyak bicara soal pribadinya, apalagi soal hubungannya dengan Adi," kata Narti.
Menurut Narti, Novita sudah setahun bepacaran dengan Adi Tulandi, mahasiswa semester lima Fakultas Teknik Unima. "Adi orangnya baik," ungkapnya. Menurutnya, hubungan mereka baik‑baik saja. "Terakhir saya lihat Novita bersama Adi. Malah waktu pulang kampus dijemput cowoknya," katanya.
Namun beberapa waktu lalu, saat Novita masih satu kos dengan Narti, Novita sempat mau minum racun karena stres. "Dulu dia hampir minum racun, tapi untung saya dan teman‑teman melihatnya. Lalu kami menjaga agar dia tidak melakukannya," kata Narti dengan mata berkaca‑kaca.
Hari Jumat (6/9/2013) merupakan kontak terakhir Narti dengan Novita. "Saat itu dia tanyakan tugas karena hari Kamis ia tidak masuk kuliah. Ternyata itu terakhir kali saya mendengar suaranya," ucapnya terisak. Narti tak menyangka Novita akan meninggal dengan cara seperti itu. "Kalau saya lihat pribadinya, sangat tidak mungkin ia bunuh diri. Tapi siapa yang tahu dalam hatinya seperti apa?" ujarnya.
Narti ingat betul saat Novita mengatakan kalau nanti masuk dunia kerja harus sama‑sama dengannya. "Dulu dia sempat bilang kalau kerja harus sama‑sama semua. Katanya biar asik bisa terus jalan‑jalan bersama," ujarnya.
Selain Narti, orang terdekat Novita adalah Mariska Torlip. "Dia terakhir kali curhat ke saya kalau ia sakit hati dengan temannya. Hubungannya putus nyambung putus nyambung," kata Mariska.
Mariska tidak menyangka kalau Novita akan mengakhiri hidupnya dengan cara begitu. "Tak pernah terbesit di pikiran saya kalau ia akan bunuh diri, dia orangnya selalu mendekatkan diri pada Tuhan. Tidak ada tanda apa‑apa kalau ia akan meninggal. Terakhir ini ia baik‑baik saja dengan pacarnya," kenangnya.
Mariska merupakan orang pertama yang ditelepon Adi, memberitahu kematian Novita. Menurut pengakuan Adi pada Mariska, Novita saat itu mengunci diri di kamar lalu meminum racun. "Saya tidak percaya, saya mengira itu hanya bercanda. Kemudian saya mematikan sambungannya. Adi telepon lagi dan mengatakan tidak main‑main. Sampai dia bersumpah demi Tuhan kalau itu benar. Saya langsung telepon teman lain dan dapat kabar sudah di ruang jenazah RS Gunung Maria Tomohon," kata Mariska sambil terisak.
Ada satu impian Novita yang pernah diceritakannya pada Mariska. "Terserah orang mau bilang saya begini begitu, yang penting saya harus cepat sarjana dan kerja untuk membalas budi orangtua saya. Saya tidak mau terus membebani orangtua saya," ujarnya menirukan perkataan Novita.
itu, Rolfi Munaun teman dekat Adi yang tinggal di kos Blessing House, tempat kejadian perkara, mengatakan Novita adalah sosok yang baik. "Dia sangat murah senyum, baik sekali orangnya. Kalau ketemu dia selalu menyapa," kenangnya. Adi pun demikian. "Saya tidak pernah melihat mereka bertengkar," kata Rofli.
Seperti diwartakan kemarin, Novita ditemukan tewas di dalam kamar kosnya di Taataran Kabupaten Minahasa, Sabtu (7/9/2013). Polisi masih menyelidiki penyebab kematian Novita. Namun, ada dua versi yang berkembang yaitu Novita bunuh diri atau diduga dibunuh. Ayah Novita, Alwin Kawinda tidak yakin putrinya itu tewas karena bunuh diri. Dihubungi Tribun Manado, Minggu (8/9), Kapolres Minahasa melalui Kepala Satuan Reserse dan Kriminal, AKP Dewa Made Palguna menjelaskan pihaknya masih mendalami kasus tersebut.
Sumber: Tribun Manado cetak