Jumat, 12 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pasar 45 Ternyata Kecil di Masa Lalu

Beberapa potong pakaian nampak teratur rapi dalam koper lengkap dengan label harganya.

Tayang:
Penulis: | Editor:

Laporan wartawan Tribun Manado David Manewus

Sebuah koper kecil tergeletak di sebuah meja sudut Jalan Roda. Beberapa potong pakaian nampak teratur rapi dalam koper lengkap dengan label harganya.

Seorang lelaki tua nampak berjaga di situ. Pemilik nama Yunus Husain (68) itu pun menceritakan ingatannya tentang pasar 45 yang kesohor itu.

Menurut pendatang asal Gorontalo ini sudah berdagang di "kawasan pasar 45" sejak 50 tahun yang lalu. Ia datang ke Manado sejak tahun 1956. Saat itu ia masih berumur sebelas tahun.

"Saat saya datang yang namanya Pasar 45 sudah ada,"katanya.

Ternyata pasar 45 tidak sebesar "kawasan 45" sekarang. Sebidang tanah yang berbatasan dengan jalan raya mulai dari gedung di depan gereja Tiberias sampai gedung BNI dulunya masuk kawasan pasar 45. Setelah itu, bidang tanah di mana ada kawasan Benteng dan polresta Manado pun pernah menjadi tempat-tempat kios berjualan.

"Kalau Jumbo dan Moderen baru saja di bangun. Gedung-gedung di depan Jumbo yang merupakan gedung tua,"ujarnya.

President Shopping Center menurut Husain menjadi nama baru dari sebuah pasar yang disebut Pasar Kita. Memang tempatnya bukan sekedar pasar dengan konotasi deretan loak tapi memang deretan kios. Shopping Center dalam bentuknya sekarang baru dibangun ditahun 70-an.

"Tempat itu memang sejak dahulu menjadi tempat menjahit,"katanya.

Selain kedua pasar itu, ada sebuah pasar lain yang disebut pasar Bersehati. Nama Bersehati baginya sebuah nama baru.

"Dulu namanya pasar Ikan. Pasar Ikan Tua. Kalau Jalan Roda memang dari dulu namanya,"ujarnya.

Jalan Roda bagi Husain mendapat penyebutan seperti itu. Dahulu banyak roda yang diparkir di situ. Jalannya juga sangat becek.

"Gedung-gedung yang lama juga berada di belakang daerah Shopping Center, kawasan "pecinan" dan plaza. Dahulu ada bioskop Plaza di sana,"tuturnya.

Husain pun menyebut bahwa dahulu yang paling banyak berjualan di semua kawasan "pasar" itu ialah orang Minahasa. Kemudian disusul orang Gorontalo juga Bugis dan Makasar.

"Semenjak ada pasar Karombasan, orang Minahasa banyak yang berpindah ke situ,"ujarnya.

Husain pun berkisah bahwa justru dahulu lebih banyak terjadi gesekan di antara mereka yang tinggal di situ dibandingkan sekarang. Bahkan memakai peci pun dipersoalkan.

"Saat itu mereka tidak tahu kalau peci itu atribut nasional,"katanya.

Sekarang semua kawasan sudah dikenal dengan kawasan pasar 45. Gedung-gedung tua bahkan yang tampak kumuh masih menghiasi. Bahkan sampah lebih sering terlihat dari tempat lain di sekitar kota. (david manewus)

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved