17 Ijazah SDN Inpres Kampung Ambong Likupang Timur Diduga Bermasalah
17 Ijazah kelulusan siswa SDN Inpres Kampung Ambong Likupang Timur tahun 2012 diduga bermasalah.
Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Andrew_Pattymahu
TRIBUNMANADO.CO.ID – 17 Ijazah
kelulusan siswa SDN Inpres Kampung Ambong Likupang Timur tahun 2012 diduga
bermasalah.
Penyebabnya, kesalahan
tulis nama siswa dan orang tua murid yang diduga dilakukan Kepala Sekolah SDN
Inpres, Intan T.
Hal itu memicu
kekhawatiran para orang tua siswa akan masa depan anaknya. “Bagaimana nasib
anak saya,” kata salah satu orang tua siswa.
Tribun Manado yang
mendapat satu kopian ijazah, menemukan kejanggalan yaitu perbedaan pada nama seorang siswa bernama
Veronika Kawoleng.
Pada bagian depan
ijazah tertera nama Veronika. Sedang pada bagian belakang tertulis nama
Veroniki.
Pada ijazah lainnya,
ada tulisan alm (almarhum) di depan nama orang tua siswa, yang berada pas di
bawah nama murid.
Kesalahan lain yang
cukup fatal adalah pada kolom yang mestinya dituliskan nama siswa, malah
ditulis nama orang tua siswa.
Pada banyak nama siswa
tampak tambahan huruf, dan itu tampak jelas dalam sekali pandang.
Sumber Tribun Manado
menyebut, jika Kepsek itu sendiri yang menulis nama itu. Sebelumnya seorang
guru telah menawarkan diri untuk menulis nama itu, namun dilarang Kepsek
tersebut.
‘Seorang guru menawarkan
diri untuk menulis nama para siswa di ruang yang sepi agar dapat
berkonsentrasi, tapi kepsek itu menolak,” kata sumber.
Sempat diperingatkan
para guru akan kesalahan tulis itu, Kepsek malah menyimpulkan. “Dorang kua so
nya mo pake trus,’ tutur sumber.
Tahun ini, ujar sumber,
Kepsek akan kembali menulis ijazah para siswa, hingga orang tua murid takut
jika hal yang sama berulang lagi.
“Beberapa orang tua cemas
jika hal yang sama akan terjadi lagi,” katanya.
Ali, salah seorang
warga meminta pemerintah untuk menindak guru yang bersangkutan, kemudian
mencari solusi bagi para murid.
“Kasihan para siswa,
masa depan mereka terancam,” kata Ali.
Ali pun minta
pemerintah membuat prosedur tetap (protap) penulisan ijazah, kemudian
mensosialisasikan padanya guru.
Jefri, warga lainnya
mengaku tak habis pikir dengan kelakuan guru tersebut. Ia menduga ada sifat ‘panang
enteng’ hingga hal yang sesungguhnya mudah saja dilakukan jadi sulit. ‘akhirnya
jadi sesulit ini,” katanya.
Kabid Dikdas Dikpora
Minut, Jeane Rumagit terkejut ketika diberitahu kabar tersebut.
Jeane lantas melihat
sendiri kopian ijazah “veronika - veroniki” serta foto ijazah bermasalah
lainnya dari kamera, dan ia menyimpulkan telah terjadi kesalahan besar. “Ini
sangat mengecewakan,” tuturnya.
Jeane berjanji akan
mengusut masalah ini, dengan lebih dulu memanggil oknum kepala sekolah
tersebut. “Ia akan saya panggil untuk menjelaskan ini, juga untuk mencegah agar
hal yang sama tidak terulang tahun ini” tuturnya.
Menurutnya, kesalahan
penulisan nama membuat ijazah tersebut tidak berlaku lagi.
Jeane menyarankan orang
tua murid segera membuat surat keterangan rusak atau keterangan hilang, sebagai
syarat untuk mendapat ijazah pengganti.
Lebih
lanjut dikatakan,
dirinya sudah berkali - kali memperingatkan para guru agar teliti dalam
menuliskan nama murid pada ijazah.
“Mereka sudah saya
peringatkan agar pakai pensil dulu, tapi rupanya hal itu tidak didengar,”
tuturnya. (art)
KOMENTAR