Rabu, 6 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

17 Ijazah SDN Inpres Kampung Ambong Likupang Timur Diduga Bermasalah

17 Ijazah kelulusan siswa SDN Inpres Kampung Ambong Likupang Timur tahun 2012 diduga bermasalah.

Tayang:
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Andrew_Pattymahu
TRIBUNMANADO.CO.ID – 17 Ijazah kelulusan siswa SDN Inpres Kampung Ambong Likupang Timur tahun 2012 diduga bermasalah.

Penyebabnya, kesalahan tulis nama siswa dan orang tua murid yang diduga dilakukan Kepala Sekolah SDN Inpres, Intan T.
Hal itu memicu kekhawatiran para orang tua siswa akan masa depan anaknya. “Bagaimana nasib anak saya,” kata salah satu orang tua siswa.
Tribun Manado yang mendapat satu kopian ijazah, menemukan kejanggalan yaitu  perbedaan pada nama seorang siswa bernama Veronika Kawoleng.
Pada bagian depan ijazah tertera nama Veronika. Sedang pada bagian belakang tertulis nama Veroniki.
Pada ijazah lainnya, ada tulisan alm (almarhum) di depan nama orang tua siswa, yang berada pas di bawah nama murid.
Kesalahan lain yang cukup fatal adalah pada kolom yang mestinya dituliskan nama siswa, malah ditulis nama orang tua siswa.
Pada banyak nama siswa tampak tambahan huruf, dan itu tampak jelas dalam sekali pandang.
Sumber Tribun Manado menyebut, jika Kepsek itu sendiri yang menulis nama itu. Sebelumnya seorang guru telah menawarkan diri untuk menulis nama itu, namun dilarang Kepsek tersebut.
‘Seorang guru menawarkan diri untuk menulis nama para siswa di ruang yang sepi agar dapat berkonsentrasi, tapi kepsek itu menolak,” kata sumber.
Sempat diperingatkan para guru akan kesalahan tulis itu, Kepsek malah menyimpulkan. “Dorang kua so nya mo pake trus,’ tutur sumber.
Tahun ini, ujar sumber, Kepsek akan kembali menulis ijazah para siswa, hingga orang tua murid takut jika hal yang sama berulang lagi.
“Beberapa orang tua cemas jika hal yang sama akan terjadi lagi,” katanya.
Ali, salah seorang warga meminta pemerintah untuk menindak guru yang bersangkutan, kemudian mencari solusi bagi para murid.
“Kasihan para siswa, masa depan mereka terancam,” kata Ali.
Ali pun minta pemerintah membuat prosedur tetap (protap) penulisan ijazah, kemudian mensosialisasikan padanya guru.
Jefri, warga lainnya mengaku tak habis pikir dengan kelakuan guru tersebut. Ia menduga ada sifat ‘panang enteng’ hingga hal yang sesungguhnya mudah saja dilakukan jadi sulit. ‘akhirnya jadi sesulit ini,” katanya.
Kabid Dikdas Dikpora Minut, Jeane Rumagit terkejut ketika diberitahu kabar tersebut.
Jeane lantas melihat sendiri kopian ijazah “veronika - veroniki” serta foto ijazah bermasalah lainnya dari kamera, dan ia menyimpulkan telah terjadi kesalahan besar. “Ini sangat mengecewakan,” tuturnya.
Jeane berjanji akan mengusut masalah ini, dengan lebih dulu memanggil oknum kepala sekolah tersebut. “Ia akan saya panggil untuk menjelaskan ini, juga untuk mencegah agar hal yang sama tidak terulang tahun ini” tuturnya.
Menurutnya, kesalahan penulisan nama membuat ijazah tersebut tidak berlaku lagi.
Jeane menyarankan orang tua murid segera membuat surat keterangan rusak atau keterangan hilang, sebagai syarat untuk mendapat ijazah pengganti.
Lebih
lanjut dikatakan, dirinya sudah berkali - kali memperingatkan para guru agar teliti dalam menuliskan nama murid pada ijazah.
“Mereka sudah saya peringatkan agar pakai pensil dulu, tapi rupanya hal itu tidak didengar,” tuturnya. (art)
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved