15 Pantai Rawan di Pesisir Minahasa
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa langsung beraksi pasca tragedi tewasnya sembilan anggota remaja GMIM Sentrum Tondano.
Staf BPBD Minahasa telah melakukan survei sekaligus memetakan 15 lokasi pantai yang rawan bagi keselamatan warga mulai dari Desa Rumbia, Kecamatan Langowan Selatan sampai perbatasan dengan Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Warga yang berwisata atau berkunjung ke 15 titik pantai tersebut sangat dianjurkan untuk tidak berenang karena berpeluang terseret pusaran air laut yang kencang.
Kepada Tribun Manado di Tondano, Rabu (29/5), Sekretaris BPBD Minahasa Jemmy Sigar mengatakan pihaknya telah melakukan survei dan pemetaan wilayah pantai yang berbahaya di sepanjang pesisir selatan Kabupaten Minahasa. Menurutnya, wilayah pantai yang masuk daerah berbahaya ini tidak bisa digunakan untuk aktivitas snorkeling atau berenang.
"Kami telah melakukan pendataan lokasi pantai yang berpotensi bahaya bagi aktivitas renang. Semua titik berbahaya ini berada di muara sungai sepanjang pesisir selatan Kabupaten Minahasa," ujarnya.
Sigar menjelaskan, berdasarkan pengamatan potensi bahaya di daerah muara sungai karena adanya endapan lumpur tebal yang terbawa air sungai. Menurutnya, struktur dasar aliran air di daerah tersebut sangat labil dan berubah setiap waktu. "Pada daerah muara sungai sering terlihat dangkal, namun saat diinjak bagian dasar bisa amblas dan menyebabkan orang tenggelam. Selain itu arus air di daerah muara umumnya sangat kuat pada saat-saat tertentu," ujarnya.
Setelah melakukan pemetaan wilayah pantai yang rawan kecelakaan, BPBD Minahasa akan memasang tanda peringatan di 15 titik tersebut. Tanda peringatan ini menganjurkan wisatawan untuk tidak beraktivitas di dalam air seperti mandi, berenang dan snorkeling.
"Kami tidak bisa menutup wilayah yang teridentifikasi sebagai lokasi rawan. Namun keberadaan tanda peringatan diharapkan bisa mencegah pengunjung untuk berenang karena mengancam keselamatan mereka," ujarnya. Lokasi pantai di pesisir selatan Minahasa yang masuk daerah rawan misalnya muara sungai Desa Kamenti, Toloun, Tumpaan, Bukit Tinggi dan Pantai Kawis yang menjadi tempat meninggalnya sembilan anggota remaja GMIM Sentrum Tondano Sabtu lalu.
Tabur Bunga di Kawis
Ratusan keluarga dan sahabat anggota remaja GMIM Sentrum Tondano mendatangi Pantai Kawis, Rabu (29/5). Menggunakan puluhan kendaraan, mereka ingin melihat lokasi sekaligus menabur bunga di tempat tersebut. Iring-iringan kendaraan mulai bergerak dari Kelurahan Liningaan, Kecamatan Tondano Timur sekitar pukul 09.30 Wita. Kendaraan berjalan beriringan dan tiba di Pantai Kawis sekitar pukul 11.00 Wita.
Rombongan turun di lokasi tempat remaja GMIM Sentrum melakukan ibadah tamasya pada Sabtu (25/5). Selanjutnya mereka menyusuri pesisir pantai ke arah barat menuju tempat kejadian perkara. Saat tiba di muara sungai dekat lokasi penangkaran penyu, sekelompok orang berusaha menyeberang melewati sebatang pohon tumbang, sedangkan sekelompok besar orang lainnya menyeberangi sungai walau pakaian mereka harus basah.
Saat tiba di lokasi kejadian, Novri Mentu menjelaskan kronologis dan tempat para korban dibaringkan usai dievakuasi dari laut. Dia menunjukkan beberapa tumpukan kayu dan daun yang masih tersisa saat mereka coba membuat api untuk menghangatkan tubuh para korban. "Di sini para korban dibaringkan. Perempuan di sisi kanan dan laki-laki di sisi kiri," ujarnya menunjuk ke arah pasir.
Novri juga menunjuk posisi masing-masing korban diletakkan di pantai dalam kondisi tidak sadar. Para keluarga korban meletakkan karangan bunga di tempat anak-anak mereka tergeletak. Orangtua sembilan remaja menangis saat mengenang kejadian tersebut. Kerabat korban bahkan membuat gundukan pasir seperti replika makam lalu meletakkan rangkaian bunga di atasnya. Mereka ibadah singkat mendokan para korban. Usai ibadah, masing-masing orangtua korban diberikan kesempatan menaburkan bunga di pantai. Tangis pecah saat kelopak-kelopak bunga warna-warni terbang tertiup angin dan jatuh di permukaan air yang biru. Seperti diwartakan, sembilan remaja yang meninggal terseret arus saat di Pantai Kwsis yakni Pingkan Mentu, Noni Rarung, Valdo Surentu, Sherina Onggeleng, Rezky Chandra Walangitan, Gabriela Surentu, Dandry Wuisang, Angie Gabriela Tengkel dan Geronimo Mailantang. Jenazah mereka telah dimakamkan pada Senin (27/5) dan Selasa (28/5). (luc)