Belasan Remaja Tondano Tenggelam
Ribuan Pelayat Antar Jenazah
Tondano berduka atas kejadian meninggalnya sembilan orang anggota remaja GMIM Sentrum Tondano.
TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Tondano berduka atas kejadian meninggalnya sembilan orang anggota remaja GMIM Sentrum Tondano. Alam pun seolah ikut berduka karena sepanjang hari hujan deras mengguyur Tondano, Senin (27/5).
Prosesi pemakaman delapan dari sembilan korban tenggelam di Pantai Kalis, Kecamatan Kombi dimulai dengan ibadah dirumah duka masing-masing. Ibadah dilakukan secara serentak pada rumah korban. Usai ibadah, peti jenazah korban dibawa ke gereja GMIM Sentrum Tondano.
Mulai pukul 13.30 Wita, satu persatu peti jenazah tiba di gereja GMIM Sentrum Tondano. Dibawah guyuran hujan deras, keluarga dan rekan-rekan korban setia mengantar jenazah untuk terakhir kalinya. Sekitar pukul 14.15 Wita, semua jenazah telah berada di gereja. Ribuan orang hadir untuk mengikuti ibadah pelepasan jenazah tersebut.
Nampak hadir Bupati Minahasa, Drs Jantje W Sajow MSi yang didampingi isteri, Olga Singko, Kapolres Minahasa, AKBP Henny Posumah, Kepala Kejari Tondano, Risman Tarihoran, Plt Sekda Minahasa, Jeffry Korengkeng, dan pejabat di Minahasa lainnya.
Dalam ruangan gereja, peti jenazah diletakkan dekat mimbar membentuk setengah lingkaran. Lilin yang menyala diletakkan didepan peti jenazah bersebelahan dengan foto masing-masing korban.
Orangtua korban duduk pada barisan kursi paling depan. Suasana haru jelas terlihat saat orangtua korban tak henti menangis melihat peti jenazah korban yang berbaris.
Sajow yang juga adalah Ketua Komisi Pelayanan Remaja Sinode GMIM dalam sambutannya mengucapkan rasa duka yang dalam atas tragedi yang terjadi. Menurutnya saat ini Minahasa dan Komisi Remaja GMIM sedang berduka. Menurutnya baru sekali ini ada kejadian pilu yang menyebabkan meninggalnya sembilan orang sekaligus.
"Ini adalah tragedi yang membawa duka untuk Minahasa dan Komisi Remaja GMIM. Sebagai umat Kristen kita mengimani apa yang terjadi saat ini adalah cobaan yang diberikan Tuhan. Dalam iman kita juga percaya ada rencana Tuhan dalah kehidupan anak-anaknya," ujar Sajow.
Suasana sedih semakin memuncak saat peti jenazah akan dipindahkan ke keranda jenazah untuk dibawa kelokasi pemakaman. Orangtua korban, keluarga, dan teman-teman korban menangis karena akan berpisah dengan korban untuk selamanya. Satu persatu peti jenazah dipindahkan ke keranda jenazah yang telah menunggu diluar gereja.
Saat perjalanan menuju tempat pemakaman umum di Kelurahan Ranowangko, Kecamatan Tondano Selatan, ribuan pelayat ikut mengantar jenazah korban. Setiap keranda jenazah berjarak sekitar 20 meter saat berjalan menuju lokasi pemakaman. Selain iring-iringan pelayat, ribuan warga banyak yang melihat dari sisi jalan. Beberapa warga terlihat menangis saat keranda jenazah melintas didepan mereka.
Bupati Minahasa, Dra Jantje W Sajow MSi dan jajaran pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah ikut mengantar jenazah ke lokasi pekuburan. Rombongan harus berjalan sejauh sekitar satu kilometer dari gereja ke lokasi peristirahatan terakhir delapan korban tenggelam ini.
Delapan korban dimakamkan bersebelahan berjarak tidak lebih dari setengah meter. Tangis haru orangtua dan teman-teman korban terus terdengar saat prosesi pemakaman pada pukul 18.00 Wita.
Novri Mentu, orangtua dari Pingkan Mentu mengatakan mereka terus berupaya tegar menerima cobaan ini. Menurutnya saat ini mereka tidak bisa melakukan apa-apa karena sudah menjadi kehendak Tuhan. Menurutnya, semua keluarga korban akan saling menguatkan untuk melewati cobaan ini.
"Sebagai orangtua saya merasa sangat menyesal karena saat kejadia itu anak saya pasti memanggil saya karena dia tau saya ada dilokasi tersebut. Namun kenyataannya saya tidak bisa melakukan apa-apa karena saat saya temukan dia (Pingkan) telah meninggal," ujarnya