Belasan Remaja Tondano Tenggelam
9 Jenazah Dimakamkan Hari ini, Tamrin tak Kuat Menatap Geronimo
Isak tangis para orangtua meledak di Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon ketika melihat kondisi anak‑anaknya sudah terbujur kaku.
Isak tangis para orangtua meledak di Rumah Sakit Gunung Maria Tomohon ketika melihat kondisi anak‑anaknya sudah terbujur kaku. Mereka seolah tak percaya jika buah hati yang sangat dicintai telah pergi untuk selamanya. Tamrin Mailantang, misalnya. Ayah Geronimi Mailantang, satu di antara sembilan korban ini sempat tidak kuat menatap anaknya.
"Saya tidak kuat, menyesal sekali anak yang sangat saya cintai sudah meninggal. Saya sungguh tidak percaya ini bisa terjadi," ujar Tamrin, warga Desa Liningaan Kecamatan Tondano Timur sambil terisak meratapi jenazah Geronimo Mailantang di Ruang Gawat Darurat Rumah Sakit Gunung Maria, Sabtu (25/5) malam.
Tamrin mengungkapkan sebenarnya ia tak mengizinkan anaknya pergi ke pantai tersebut untuk mengikuti ibadah tamasya sebab sang buah hati tidak tahu berenang. "Saya sudah melarang dia untuk ke sana karena tidak tahu berenang. Tapi dia bilang tetap ingin ke pantai, karena sebelumnya gagal pergi akibat sakit. Ia juga bilang tidak apa‑apa karena banyak orang yang akan pergi ke sana," tutur Tamrin yang pada akhirnya mengizinkan Geronimo pergi ke Pantai Kawis.
Geronimo, kata Tamrin adalah anak rajin beribadah dan suka membantu orangtua. "Dia juga biasa memimpin ibadah, bahkan sempat meminta saya untuk membuatkan khotbah baginya. Cita‑cita dia memang ingin jadi pendeta," kenangnya. Yang paling membuat Tamrin tambah sedih adalah Geronimo tak bisa merayakan hari ulang tahun ke‑17 pada Senin (27/5) ini. "Padahal kami sudah menyiapkan semua untuk merayakan ulang tahunnya ke‑17," ujarnya.
Suasana duka paling terasa di Kelurahan Liningaan, Kecamatan Tondano Timur, Minggu (26/5). Sembilan bangsal duka dibangun bersamaan. Warga di kelurahan tersebut sedang berduka. Sepanjang sejarah kelurahan tersebut baru sekali ini ada sembilan orang meninggal sekaligus. Dalam satu gang ada tiga bangsal duka yang berjejer. Mereka adalah korban tenggelam di Pantai Kawis.
Di antara bangsal duka tersebut, seorang wanita tidak henti menangis dekat jenazah seorang remaja perempuan. Air mata tak henti mengalir menandakan duka yang mendalam berpisah dengan putri tercinta. Syalom Sambul terus meratapi nasib anaknya, Pingkan Mentu yang meninggal dalam tragedi di Kawis.
Rasa duka menyelimuti seisi rumah tersebut melihat Syalom belum rela harus berpisah selamanya dengan sang anak. Kerabat dan sahabat silih-berganti datang untuk memberi penghiburan untuk keluarga tersebut.
Syalom mengatakan, sebagai orangtua dia mau melihat putrinya tumbuh dewasa dan meraih cita‑cita. Rasa bangga saat mengetahui anaknya telah lulus SMA beberapa hari lalu kini sirna saat menatap tubuh Pingkan yang telah terbujur kaku.
"Pingkan bilang rencananya besok (hari ini, Red) dia akan ke Unima untuk memilih jurusan yang akan dia ambil untuk kuliah. Kini rencana itu tidak akan pernah terwujud. Saya sangat ingin melihat dia mencapai cita‑citanya," ujarnya.
Syalom menceritakan kenangan bersama anaknya saat merencanakan pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Suatu malam dia dan Pingkat sempat berbincang tentang cita‑cita anaknya. "Saat itu Pingkan mengatakan kalau saya tenang saja dan dia akan menunjukkan kalau dia akan lulus kuliah dan sukses dalam karier. Dia ingin membahagiakan kami orangtuanya," ujarnya sambil menangis.
Dimakamkan Hari Ini
Pimpinan jemaat GMIM Sentrum Tondano berencana melakukan ibadah khusus untuk semua korban tenggelam tersebut. Sebelum dimakamkan hari ini, Senin (27/5), sembilan korban akan dibawa ke gereja untuk didoakan dan mengikuti prosesi pelepasan jenazah ke lokasi pemakaman.
Lurah Liningaan, Denny Surentu mengatakan pemerintah dan keluarga telah menyusun rencana prosesi pemakaman. Menurutnya delapan keluarga telah sepakat memakamkan anak‑anaknya secara berdekatan di pemakaman umum Ranowangko. Menurutnya delapan jenazah akan dimakamkan saling bersebelahan.
"Kami telah berkomunikasi dengan keluarga dan mereka setuju anak‑anak mereka dimakamkan pada lokasi yang bersama secara berdekatan. Itu adalah rencana awal yang kami persiapkan. Pemakaman akan dilakukan besok (hari ini)," ujarnya.
Adapun sembilan remaja yang meninggal yakni Pingkan Mentu, Noni Rarung, Valdo Surentu, Sherina Onggeleng, Rezky Chandra Walangitan, Gabriela Surentu, Dandry Wuisang, .Angie Gabriela Tengkel dan Geronimo Mailantang . Tiga rekan mereka yang sempat terseret arus berhasil diselamatkan yakni Andre Tumengkol, Revlan Mentu dan Gabriel Waney.
Rasa duka atas kepergian sembilan remaja ini diungkapkan Bupati Minahasa, Drs Jantje W Sajow MSi yang juga Ketua Komisi Pelayanan Remaja Sinode GMIM. Menurutnya kejadian tragis ini adalah duka terbesar bagi warga Minahasa dan remaja Sinode GMIM. "Saya secara pribadi dan keluarga ikut berduka atas kejadian naas ini. Saya mendoakan keluarga korban agar bisa diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini," ujarnya, Minggu (26/5). (luc/war)
Sumber : Tribun Manado