Ini Sejarah Kekristenan di Sulut

Sejarah Gereja adalah sejarah sebuah jawaban dari orang-orang beriman untuk menjadi pengikut Kristus.

Ini Sejarah Kekristenan di Sulut
Ilustrasi. 

Sejarah gereja adalah sejarah sebuah jawaban dari orang-orang beriman untuk menjadi pengikut Kristus. Perkembangan awalnya mungkin bersahaja dan kurang matang. Namun, merupakan upaya orang-orang itu.

JAWABAN itu diberikan Pastor Petrus Tinangon, Lic. His, Eccl tentang Hakikat Sejarah Gereja dari sejarah gereja itu sendiri. Jawaban itu diberikan dalam  Seminar Sejarah Kehadiran Iman Kristiani di Sulawesi Utara dalam rangka Perayaan Tahun Iman di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STF-SP).

Gelak tawa nampak sering terdengar  mengisi aula Seminari Hati Kudus  Pineleng beberapa waktu lalu Sabtu (4/3/2012). Semua nampak terpana dengan pemaparan para narasumber yang serius tapi kadang-kadang melempar humor ke arah pendengar. Semua nampak puas dan kagum dengan kebersamaan itu. Benang merah Sejarah Gereja di Sulut Utara yang kadang kusut di akar rumput terurai lepas walau nampak belum tuntas.

Kekusutan itu pertama dibuka Pendeta Dr. Jonely Ch. Lintong, ahli Sejarah Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) dengan bantuan moderator sekaligus ketua panitia Romo Dr Albertus Sujoko SS.

"Dari segi historis-teologis, GMIM merupakan buah dari benih iman yang ditanam Roh Kudus melalui pewartaan para misionaris di masa lampau, dan kelanjutan dari Kristen Protestan di Minahasa mulai jaman Verenigde Oost-Indie Compagnie (VOC) tahun 1662-1799 sampai zaman pemerintahan Hindia Belanda. VOC mengantikan zaman Portugis,"katanya.

Kehadiran Kristen Protestan secara umum yang mendahului GMIM itu dimulai ketika Pendeta Burum datang berkunjung tahun 1662  pada jaman VOC dan membaptis beberapa penduduk. Ketika VOC diambil ahli oleh pemerintah Belanda tahun 1880. Tahun 1835 dibentuklah satu Gereja Protestan di Hindia Belanda  dengan nama Prostestantse-Kerk in Nederlandse-Indie atau lebih dikenal Indise Kerk.

Di akhir kekuasaan Inggris, Nederlandse Zenderlingen Genootschap (NZG) mengutus banyak pendeta yang disebut predikant Indise Kerk. Di antaranya Johanes Gotlieb Schawrs dan Johan Frederik Riedel yang tiba 12 Juni 1831.

Dalam perjalanan waktu yang dipacu beberapa faktor eksternal dan internal, sejak tahun 1920-an Kerkbestuur Indise Kerk berusaha memandirikan jemaat. Akhirnya berkat Dr E A A de Vreede jemaat-jemaat Indise Kerk disahkan menjadi Gereja bersinode sendiri pada tanggal 30 September 1934 dengan nama Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Akan tetapi satu tahun sebelum GMIM berdiri, telah berdiri Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) di luar proses pemandirian yang dilakukan oleh Indise Kerk.

Dosen Sekolah Tinggi Alkitab dan Pendeta Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) Sulawesi Utara, pendeta Drs. Victor D J Pantow Mth  setelah itu menguraikan sejarah singkat gereja mereka.

 "Api Pantekosta berkobar dari Azusa Los Angeles, menjalar ke kota Seatle Washington. Kota itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gereja Pantekosta dan melebar hingga ke Indonesia,"ujarnya.

Keterangan bergerak cepat menuju ke sejarah gereja ini masuk Sulawesi Utara. GPDI mulai berkembang sejak 13 Maret 1929. Saat itu dua orang pemuda utusan Injil bernama A Tambuwun dan J Repi mendarat di di Pelabuhan Amurang dengan menumpang kapal motor "Van Der Hagen". Kedatangan mereka sudah dinubuatkan saudari D Kalangi.

Ketua umum Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM), Gembala Tedius K Batasina, Sth mengatakan KGPM berdiri 29 Oktober 1933. Gereja ini memiliki banyak julukan seperti gereja pembangkang dan gereja merdeka. Gereja ini lahir dari keinginan tokoh-tokoh yang bukan teolog karena ingin adanya gereja mandiri yang terpisah dari tangan negara penjajah Belanda.

"Tokoh-tokohnya antara lain G S S  J Ratulangi, R Tumbelaka dan AA Maramis,"katanya.

Pastor Petrus Tinangon, SS Lic His, Eccl, Dosen Sejarah Gereja STF-SP sebagai pembicara terakhir kemudian memberikan keterangan yang lebih terang benderang tentang sejarah awal kristiani di Sulawesi Utara. Ia memulai dengan kapan baptisan pertama di Sulawesi Utara berdasarkan terbitnya seri buku Documenta Malucensia tahun 1974.

"Di sana disebutkan bahwa pada tahun 1538 sudah dilangsungkan pembaptisan di pantai Utara pulau Sulawesi. Pembaptis pertama bukan seorang pastor misionaris , melainkan seorang nakhoda kapal Portugis bernama Franscisco de Castro, yang atas perintah komandan benteng Ternate, Antonio Galvao melakukan ekspedisi atau penyelidikan ke daerah-daerah Papua, Sulawesi dan Mindanao. Faktum itu juga disebut dalam buku versi awal buku Historia das Moluccas karangan Antonio Galvao sendiri, komandan tahun 1536-1540 yang sangat disegani dan dihormati. Buku kedua ini sebenarnya sudah diterbitkan lebih dulu, tahun 1971. Kedua buku tebal dan sangat berharga ini diterbitkan dan diberi catatan kritis oleh Hubert Jacobs SJ,"ujarnya.

Bagi Tinangon, pembaptisan itu tidak melulu politis. Ia mengantar pendengar pada Perjanjian Tordesillas tahun 1494, di mana Paus Alexander VI membagi bola bumi menjadi dua kepada Spanyol dan Portugis. Saat itu banyak dari mereka yang datang ke daerah jajahan merupakan sampah masyarakat sehingga pembaptisan bisa dianggap politis belaka. Akan tetapi, Antonio Galvao benar- benar "fokus" pada karya misi.

Setelah itu, baptisan itu terkesan hilang tanpa jejak. Akan tetapi ternyata 25 tahun setelah itu ada baptisan massal tahun 1563  atas "raja" Manado  yang diberi nama Jeronimo dan 1500 rakyatnya oleh Pater Diogo de Magelhaes . Kesan tanpa jejak itu muncul karena terasa lebih sensasional jika pembaptisan itu dilakukan oleh misionaris.

Belakangan setelah itu, cara membaptis dengan jumlah banyak dirasakan sebagai cara kerja yang kurang bertanggungjawab. Beberapa raja seperti raja Mongondow dan Gorontalo tidak jadi dibaptis. Misi pun tidak bisa bergerak maju karena hadangan kaum Alifuru. Puncak penghambatan itu terjadi setelah kaum Alifuru yang sudah membunuh 40 orang Spanyol  meminta perlindungan Belanda. Pembangunan Benteng Amsterdam tahun 1666 menandai akhir pengaruh Katolik di Sulawesi Utara. Orang Katolik di Manado dan di tempat-tempat lain dijadikan Protestan.

Tinangon kemudian mengambil kesimpulan setelah itu. Baginya mengutip Adolf Heuken dalam A History of Christianity in Indonesia halaman 62 sampai 68,  Misi Katolik meletakkan fondasi, orang Protestan membangun di atas fondasi itu. Di abad ke-20, bangunan diselesaikan dengan dibentuknya gereja-gereja Protestan independen di samping Gereja Katolik lokal yang didirikan kembali oleh kegiatan misi yang diperbarui kembali. (tribunmanado/david manewus)

Ikuti berita-berita terbaru di tribunmanado.co.id yang senantiasa menyajikan secara lengkap berita-berita nasional, olah raga maupun berita-berita Manado terkini.

Penulis: David_Manewus
Editor: Robertus_Rimawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved