Ujian Nasional Sulawesi Utara
Stevan tak Percaya Bocoran Kunci Jawaban
Molornya pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat SMA tak selalu berdampak negatif bagi peserta.
Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID,
KOTAMOBAGU - Molornya pelaksanaan ujian nasional (UN) tingkat SMA tak
selalu berdampak negatif bagi peserta. Stevan Deruiter memanfaatkan jeda
waktu selama lebih satu jam bisa untuk menyegarkan kembali pelajaran
yang telah dipelajari sebelumnya.
"Menunggu memang membosankan. Tapi, dari pada tegang, mendingan
buka-buka kembali buku. Teman-teman lain juga begitu," ujar siswa
Program Arsitek SMK Kristen Kotamobagu ini sehabis jajan di kios depan
sekolahnya. Dia pun kemudian memperlihatkan buku yang diselipkan di
celana abu-abunya.
Stevan dan 92 peserta UN lainya di SMK Kristen Kotamobagu memang
harus menunggu lebih dari satu jam karena naskah soal dan lembar jawaban
UN di sekolahnya kurang. Mereka mulai mengerjakan soal matematika
sekitar pukul 8.45 wita. Padahal, jadwal yang tertera UN mulai pukul
7.30 wita.
Ditanya tentang kabar adanya bocoran jawaban, Stevan mengaku memang
ada informasi tersebut. Namun dia tidak bisa memastikan benar atau
tidaknya kunci jawaban tersebut. "Ya, lebih baik mengejakan sendiri dari
pada percaya dengan kunci jawaban itu. Apalagi, katanya, variasi soal
sampai 20," kata dia menambahkan.
Senada, Virgiawan Mandar, siswa SMK Cokroaminoto Kotamobagu
mengatakan, dirinya tidak menerima informasi bocoran jawaban. Dia juga
mengaku lebih percaya diri mengerjakan sendiri ujian matematika itu.
"Tidak ada juga yang menawarkan kunci jawaban. Tapi, tidak tahu juga
kalau ke yang lain," kata remaja yang biasa disapa Igi ini.
Pada hari pertama pelaksanaan ujian bagi SMK, Sekretaris Provinsi
Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Rahmat Siswa Mokodongan dan Kepala Dinas
Pendidikan Provinsi Sulut melakukan peninjauan di sejumlah sekolah di
Kotamobagu setelah membuka naskah soal di SMK Cokroaminoto.
Rahmat mengharapkan peserta UN mengambil hal positif dari
keterlambatan dan masalah lainya yang terjadi pada pelaksanaan ujian.
"Memang ada keterlambatan, tapi kita artikan positif memnerikan ruang
dan waktu bagi anak didik untuk belajar lagi sehingga tingkat kelulusan
lebih baik," kata dia.