Julian Rawung, Pelaku Sejarah Peristiwa Merah Putih Berpulang
Pejuang pelaku sejarah Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946, Julian Rawung berpulang.
Penulis: Fernando_Lumowa | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Sulawesi Utara kehilangan salah satu putra terbaiknya. Pejuang pelaku sejarah Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946, Julian Rawung berpulang. Masa perjuangan kemerdekaan, Julian bergabung bersama anak-anak negeri mempertahankan merah putih di wilayah Tonsea (Minut).
Putra kelahiran Tumaluntung 28 Juli 1928 ini menghembuskan nafas terakhir di RS Siloam Manado, Selasa (12/3/2013). Almarhum sempat menjalani perawatan intensif sejak Jumat pekan lalu. Julia meninggal pada usia 84 tahun 7 bulan 12 hari.
Kepergian penerima Gelar Kehormatan Veteran Pejuang Kemeredekaan (1989) ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, handai taulan. "Semasa hidup beliau aktiv di gereja, kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan," kata dr Enriko Rawung, salah satu putra almarhum, Kamis (14/3/2013).
Almarhum meninggalkan Julien Makalew (79) dan kepada 10 putra (5 laki-laki, 5 perempuan). Semasa hidup, purnawirawan infantri TNI AD ini hidup bergaul baik dengan kalangan mana saja di mana dia berada. Sebagai aparat, Julian humanis dan toleran. Almarhum berprinsip, hanya pendidikan dan ilmu pengetahuan yang bisa 'menghidupkan' manusia.
"Papa role model (panutan) bagi kami. Ia memberi teladan lewat perbuatan. Kami bangga karena dengan keadaannya bisa menyekolahkan semua anak-anaknya. Semua bisa hidup," kata Kabid Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinkes Sulut ini.
Humanis dan toleran membuat Julian diterima di mana saja. Ia sukses menjalankan tugas di teritorial AD Sulteng bertahun-tahun. Sebagian masa pengabdian dihabiskan di Luwuk, Sulteng. Sebagai putra asli Minahasa, Julian jadi tokoh masyarakat Kristen di Sulteng.
Penerima tanda jasa atas Operasi Musafir II tahun 1956 ini menjadi pionir pembangunan tiga gereja -- semuanya berdiri sebagai jemaat hingga kini -- di Sulteng. "Beliau mengajarkan jangan memandang sesama dari latarbelakang suku agama atau golongan," tutur Enriko. Jenazah Julian disemayamkan di rumah duka Lorong Martadinata 6, Kelurahan Dendengan Luar. Jenazah akan dimakamkan Sabtu 16 Maret. Ibadah pemakaman mulai pukul 12.00 Wita.