Renungan Minggu

Pdt Ginna Presya Budiman : Berani Menderita

MENDERITA atau bahagia? Saya pilih bahagia! Bagaimana dengan Anda?

Pdt Ginna Presya Budiman : Berani Menderita
TRIBUNMANADO/RIZKY ADRIANSYAH
Pdt Ginna Presya Budiman STh

Pdt Ginna Presya Budiman
Pendeta di GMIM Nazareth Tuminting

MENDERITA atau bahagia? Saya pilih bahagia! Bagaimana dengan Anda? Saya yakin pilihannya pasti sama. Tak ada satupun manusia di bumi ini yang suka menderita. Orang cenderung menghindarinya, bahkan mungkin melakukan apa saja agar menikmati kebahagiaan.

Bekerja, bersekolah, berorganisasi, bergereja, atau apapun itu, selalu saja tujuannya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lalu mengapa ada saja penderitaan? Kenyataan ini sesungguhnya menegaskan penderitaan adalah realitas hidup. Harapan tak selalu jadi kenyataan. Apa yang diinginkan tak selamanya bisa diwujudkan. Penderitaan juga seringkali adalah konsekuensi dari pilihan salah yang kita buat.

Tapi persoalannya bukan tentang apa yang kita derita melainkan bagaimana kita menyikapinya. Banyak orang memilih menghindar dari penderitaan dengan melepas tanggung jawab. Ada juga yang lebih suka menyembunyikan kebenaran karena ingin tetap di “zona aman”. Ada yang kecewa dan frustasi karena kehilangan harapan. Ada yang bertahan dalam iman meski menderita sampai mati. Ada juga yang berani berjuang dan menderita demi perubahan yang lebih baik. Ada dimana kita?

Ada korupsi, ada yang gantung diri. Ada yang satu istri sah-nya, yang tidak sah banyak. Ada yang memenjarakan orang benar dan membebaskan yang salah. Ada yang unjuk rasa, ada juga yang bicara saja tanpa tindakan nyata. Ada yang suka menjatuhkan orang lain. Ada yang bekerja dengan jujur meski gaji kecil. Ada yang bersedia merawat anak-anak yatim piatu dan orang jompo. Lalu kita seperti apa?

Kenyataan hidup tiap orang memang berbeda. Setiap manusia memiliki cerita sedihnya masing-masing.  Sebab penderitaan adalah realitas hidup. Pertanyaannya adalah maukah kita menderita demi kebenaran? Adakah penderitaan menjadikan kita semakin mengimani Tuhan, atau sebaliknya? Bersediakah kita menderita demi kebaikan orang lain?

Kisah Ester, perempuan Yahudi yang menjadi Ratu negeri Persia, menggantikan Wasti, memberi pelajaran berharga (Ester 4 : 1 - 17). Sebagai bagian dari penguasa Negeri Persia, yang juga menguasai orang-orang Yahudi ketika itu,  Ester tentu hidup dalam kenyamanan.  Ia menikmati semua kebaikan dan kemewahan Istana Ahasyweros, suaminya. Tapi di sisi lain, ancaman besar dihadapi bangsanya. Bangsa Yahudi akan segera dimusnahkan, sebagaimana permintaan Haman, dan maklumat yang dikeluarkan raja. Orang Yahudi berkabung. Mordekhai, yang mengasuh Ester juga melakukannya. Ia memberitahukan kondisi ini pada Ester, sang ratu.

Sebagai istri penguasa, Ester tentu bisa memilih bertahan pada “zona nyaman”. Ia bisa saja diam, dan tak perlu kuatir akan kehilangan kedudukan serta kemewahan. Ia bisa saja menyembunyikan kebenaran asal usulnya, dan tetap menjadi ratu negeri Persia. Ester bisa membuat pilihan ini. Tapi bukan ini yang dipilihnya. Ia memutuskan untuk bertindak demi bangsanya. Ia mengambil resiko untuk menderita dan mungkin saja kehilangan nyawa demi kebenaran. Ester mempertaruhkan segalanya demi keselamatan orang banyak.

Ia bertindak berani. Bukan tanpa dasar. Ester meyakini pertolongan Allah ada untuk ia dan bangsanya. Penderitaan yang dialami ini menjadi bagian dari proses pembuktian iman kepada Allah. Meyakini  Allah mampu melakukan apa saja. Yakin tanpa syarat. Beriman penuh tanpa sedikitpun ragu. Apa yang dilakukan Ester? Berdoa, berpuasa dan bertindak.

Berdoa adalah cara berkomunikasi dengan Allah. Doa bukan sekedar sarana menyampaikan keluhan. Banyak orang salah tentang ini. Kita berdoa, tapi bukan berkomunikasi melainkan hanya mengeluh. Paulus mengingatkan, nyatakanlah segala keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Berdoa dengan penuh hormat, sebab kita berbicara dengan Allah, sang penguasa kehidupan. Berdoa dengan iman, sebab tidak ada yang mustahil bagi Allah. Dia sanggup melakukan apa saja. Tak terkecuali meredakan badai di hidup kita.

Halaman
12
Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved