Syukuran Kompas Gramedia
Kisah Lima Monyet dan Keyakinan Seorang Ayah
Keyakinan dan passion atau gairah untuk menikmati dan memaknai sebuah tujuan menjadi tangga agar mencapai tujuan.
Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA -
Keyakinan dan passion atau gairah untuk
menikmati dan memaknai sebuah tujuan menjadi tangga agar mencapai
tujuan. Demikian CEO Kelompok Kompas Gramedia (KKG) Agung Adiprasetyo
saat memberikan motivasi kepada 115 The Best Employees dari 25 unit
usaha di kelompok tersebut di Hotel Santika, Jakarta, Rabu (5/2/2013)
malam.
Agung kemudian mengisahkan dua cerita inspiratif pada malam anugerah
itu. Cerita pertama tentang penelitian tingkah laku monyet di sebuah
universitas di Amerika Serikat. Dua ekor monyet dimasukkan dalam
kerangkeng yang di atasnya terdapat pisah. Setiap kali monyet berusaha
meraih pisah, sang Profesor yang melakukan penelitian selalu
menghalanginya dengan menyemprotkan air.
Akhirnya dua monyet tersebut berhenti berusaha untuk mendapatkan pisang.
Monyet ketiga kemudian dimasukkan dalam kandang. Monyet ini kembali
berusaha untuk mendapatkan pisang. Sang profesor tak perlu menyemprotkan
air, monyet ke satu dan ke dua langsung menghalangi monyet ke tiga
untuk mendaptkanya. Dan, monyet ketiga pun manut.
Peneliti kemudian memasukkan monyet ke empat dan ke lima dimasukkan
setelah terlebih dahulu mengeluarkan monyet ke satu dan ke dua. Monyet
ke tiga kemudian memberikan pesan agar monyet ke empat dan ke lima tidak
mengambil pisang. Monyet ke empat menurut, sementara monyet ke lima tak
ambil pusing dengan pesan monyet ke tiga. Akhirnya, justru monyet ke
lima yang mendapatkan pisang.
"Hidup itu pilihan. Ada banyak orang menjadi monyet ke tiga atau memilih
menjadi ke empat atau juga ke lima," kata Agung seraya mencontohkan
Bill Gates yang mempunya keyakinan dan passion sehingga bisa menjadi
orang seperti sekarang.
Cerita ke duan masih tentang keyakinan dan passion, namun penuh dengan
emosi yang kuat. Dikisahkan, seorang Ayah di Armenia selalu mengantar
anaknya setiap pagi ke sekolah. Di depan gerbang sekolah, sebelum
anaknya masuk kelas, sang Ayah selalu berkata, "Aku akan selalu
bersamamu, nak."
Sampai suatu hari di penghujung tahun 1998, Armenia diguncang gempa.
Sekolah tempat si anak pun hancur luluh. Sang Ayah langsung ke sekolah.
Dia mulai mencari anaknya dari reruntuhan saat orang lain menganggap
semuanya sudah 'selesai'. Semua orang diam dan tidak melakukan apa-apa.
Pasrah. Namun tidak dengan si Ayah satu ini.
Dia terus mencari dan mencari. Sampai 18 jam kemudian, dia melihat
tangan yang melambai ke atas dari reruntuhanya. Dan, lambaian tangan itu
adalah tangan anaknya. Kegigihan sang Ayah tidak hanya menyelamatkan
anaknya, tapi juga 14 anak lainya bisa terselamatkan.
"Untuk menjadi The Best Employee tahun depan bukan perjalanan mudah.
Namun di luar itu semua, para The Best Employee harus bisa menginspirasi
yang lainya," kata Agung kepada 115 The Best Employe 2012 di lingkup
Kelompok Kompas Gramedia.
Pada malam penganugerahan bagi para pegawai teladam tersebut, panitia
juga mengundang pengusaha muda sukses Sandi Uno. Tokoh muda ini
menceritakan bagaimana dirinya bisa menjadi seorang pengusaha setelah
dipecat dari perusahaan di tahun 1997 karena terjadi krisis ekonomi.
Menurut Sandi, ada empat as untuk meraih kesuksesan, yakni kerja keras,
kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas. "Kerja ikhlas ini yang
sulit manakal kita sudah memberikan yang terbaik namun hasilnya tidak
sesuai harapan. Namun yakinlah, rezeki selalu datang pada yang
menjemputnya," kata dia.
Sandi juga memberikan konsepsi yang berbeda tentang entrepreneur.
Menurutnya jiwa entrepreneur bisa dimana saja. Di pemerintahan atau di
perusahaan pun orang bisa menjadi entrepreneur dengan pola pikir tetap
inovatif, kreatif, optimistis dan memandang positif tentang semua hal.
"Entrepreneur bukan profesi. Tidak semua harus keluar menadi pengusaha,"
kata Sandi.