Rabu, 10 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Pelestarian Lingkungan Hidup

Pohon Samama 'Surga' Alam Gorontalo Utara

Menuju ke tempat ini, memang butuh perjuangan ekstra

Tayang:
Editor:

“Nanti jika tumbuh dewasa, pohon tidak akan rusak. Terlihat teratur, mudah untuk merawatnya,” kata pria kelahiran Limboto Kabupaten Gorontalo, Desember tahun 1969 ini.

Lahan di desa ini terbilang subur, pasalnya ada beberapa warga juga menanam pohon padi ladang yang perairannya bersumber dari guyuran hujan. Tumbuhan padi ladang mengandalkan air dari sistem tadah hujan, bila masuk masa panen, maka rumput menguning, gabah beras siap dinikmati.

Lalu bagaimana untuk proses penumbuhan pohon Sasama dari kecambah menjadi bibit ?. Yups, secara ilmiah, butuh waktu puluhan tahun untuk mendapatkan pohon yang siap dimanfaatkan. Perawatannya pun katanya butuh perlakuan khusus, jika tidak maka pohon tidak akan bisa hidup tinggi besar.
Soal ini, ada seorang bernama Siswo Gimin (39), didatangkan langsung dari Solo, dipekerjakan di hutan tanam industri desa ini. Pria beranak dua ini diberi amanah untuk mengelola proses pertumbuhan pohon dari mulai kecambah sampai jadi bibit pohon.

Ada banyak macam pohon yang ia pertanggungjawabkan yakni, merawat kecambah Samama dari lokal bernama Buroko, Samama Una-una dari Maluku, Samama Lokal CPT Dua. “Walau secara kualitas masih kalah sama kayu Jati, tapi kayu Samama di pasaran sudah banyak yang meminati. Apalagi masa panen Samama lebih singkat ketimbang kayu Jati, harus tunggu lebih lama,” ungkap Siswo.

Nah, untuk memulai budidaya pohon Samama, Siswo menjelaskan, bahwa untuk memulai sediakan terlebih dahulu tanah merah yang sudah digoreng hingga masak. Tanah ini sebagai media menaruh kecambah Samama. “Kalau tanahnya sudah digoreng, ditaruh di wadah. Tanah di semprot pakai air hingga menjadi berkondisi lembab,” katanya.

Untuk benihnya, ujar Siswo, diambil dari buah yang tumbuh dari pohon Samama. Teknisnya, buah diambil lalu direndam di air selama tiga hari. Bila sudah cukup tiga hari langkah selanjutnya diangkat dan dikeringkan di terik matahari. “Sudah kering buahnya diambil lalu di parut  (dipotong-potong jadi serbuk). Parutannya ditaburi ke tanah,” urainya.

Berikutnya, bila sudah menyelesaikan itu, tanah yang sudah ditaburi buah diletakan di dalam karantina. Dibuat ruangan khusus, yang tidak boleh kena sinar matahari langsung. “Bisa kita bikin ruang yang ditutup pakai kain kelambu,” kata Siswo.

Usai itu ditunggu saja, sekitar dua bulan, di tanah yang telah ditaburi parutan buah Samama akan tumbuh kecambah. Di tanah itu nanti akan terlihat tumbuhan hijau brintik-brintik seperti lumut. Dan bila sudah mencapai umur tiga bulan, kecambah dipindah ke plastik tanam yang berukuran genggaman tangan orang dewasa.

Di plastik itu, biarkan dulu tanaman bibit itu tumbuh tinggi berdaun. Tunggu hingga meninggi jadi seperti bibit pohon yang kuat. Bila sudah terlihat ini maka bibit dapat dikeluarkan dari ruang karantina. Ditempatkan di luar, biar kena matahari secara langsung.

“Cirinya kalau sudah bisa ditaruh diluar, bibitnya akan berdaun hijau. Dan ditunggu dulu, daunnya sampai ada pola-pola merah. Baru selanjutnya, bibit bisa di tanam di lahan bebas,” urai pria kelahiran 2 Juni 1973 ini.

Melihat aktivitas agrobisnis seperti itu, tentunya diharapkan mampu membawa kesejahteraan masyarakat. Hal inilah yang ditegaskan secara langsung oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di lokasi hutan tanam industri Gorontalo Utara kepada petani-petani dan pemilik modal hutan industri.

“Kalau kegiatan pertaniannya bawa keuntungan, pasti warga disini mau bantu perusahaan. Kalau ada warga yang dirugikan, maka perusahaan pasti tidak akan dibantu warga. Semoga bisa bawa manfaat bagi kita semua, untuk kesejahteraan ekonomi di tempat ini,” tegasnya disambut tepuk tangan petani dan seluruh para tamu yang datang.

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved