Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Partai Politik

Nitha Yakin, Pemilu 2014, Golkar akan Berjaya

Partai Golkar pernah berjaya dengan nomor urut 5 di masa lalu, dan diprediksi pada Pemilu 2014.

Penulis: | Editor:
Laporan wartawan Tribun Manado Warstef Abisada

TRIBUNMANADO.CO.ID, TOMOHON - Nitha Wenur, Pelaksana tugas (Plt) Ketua Partai Golkar Kota Tomohon mengaku senang partainya mendapat nomor urut 5 sebagai peserta pemilihan umum (Pemilu) 2014, setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI melakukan pengundian. Sebab, nomor tersebut diyakininya membawa keberuntungan dan akan mengembalikan kejayaan Partai Golkar seperti sebelumnya.

“Partai Golkar pernah berjaya dengan nomor urut 5 di masa lalu, dan diprediksi pada Pemilu 2014 Golkar akan meraih kejayaan dengan meraih kemenangan, karena 5 itu angka sempurna yang menunjukkan Pancasila. Jadi, harus terus dilestarikan,” ungkap Nitha, Selasa (15/1/2013).

Pada Pemilu 2009 lalu, Partai Golkar khusus di Kota Tomohon masih menunjukkan kejayaan dan keperkasaannya dengan menyisihkan pesaingnya, dengan mampu meraih kursi terbanyak di DPRD. Dari 20 kursi yang ada, Golkar meraih 8 kursi, disusul Partai Demokrat dan PDI Perjuangan masing-masing dengan 4 kursi, Hanura 2 kursi, serta Gerindra dan PKPI masing-masing 1 kursi.

Sebelumnya, sejumlah pimpinan partai juga mengungkapkan rasa optimis untuk menang seperti Golkar setelah mendapat kejelasan nomor urut. Misalnya dari kubu PDI Perjuangan yang mendapat nomor urut 4 menurut Paulus Sembel melambangkan kekuasaan (kursi). Sedangkan bagi Ferdinand Mono Turang, Ketua Partai Gerindra Kota Tomohon, nomor urut 6 yang dimiliki partainya sudah sesuai harapan, sebab bertepatan dengan tanggal lahir partai 6 Februari.
Citra partai menentukan.

Menurut Mahyudin Damis, nomor urut partai pada pemilu 2014 tak menjadi penentu untuk bias menang. Tapi, sangat bergantung pada kemampuan partai itu sendiri untuk mengembalikan citranya yang terpuruk, sebagai lembaga utama yang bisa mengantarkan seseorang menjadikan wakil rakyat atau kepala daerah atau bahkan kepala negara.

“Nomor-nomor bagus sebetulnya hanya memberi daya dorong untuk melaksanakan fungsi-fungsi partai bagi partai yang kebetulan mendapatkannya. Jadi, percuma saja mendapatkan nomor jago, tapi kader-kader yang diusung tak "jago" dalam menjalankan fungsi-fungsi partai. Apalagi ketika duduk di DPRD atau DPRD tidak mampu melaksanakan fungsi di badan legislative secara optimal, sehingga kian memperburuk citra partainya,” tutur Mahyudin yang menjadi Dosen tetap di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi itu.

Ia mengatakan kader partai yang akan diusung nanti harus cakap dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dilembaga dimana yang bersangkutan duduk dengan niat kebaikan, sehingga terus meraih simpati juga dukungan masyarakat. “Nomor bukan satu-satunya menjadi faktor penentu kemenangan, tapi kinerja partai yang bagus justru menjadi tolok ukur pemenangan,” katanya.

Pemaknaan nomor jago dan tidak jago dari masyarakat, kata Mahyudin harus betul-betul dimaknai pula oleh pengurus partai, maupun para politisi yang mewakili masing-masing partai. “Pemaknaan itu tentu harus dijawab melalui program-program dan pelaksanaanya di lapangan, bukan di atas kertas atau sekadar bicara saja,” tukasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved