Breaking News:

Minahasa Tenggara

BPBD Mitra Sempat Kewalahan Buka Akses Jalan

Akibat musibah tanah longsor yang terjadi di kawasan gunung potong atau kawasan hutan


Laporan Wartawan Tribun Manado Pengasihan Susanto Amisan
 
TRIBUNMANADO.CO.ID, RATAHAN –
Akibat
musibah tanah longsor yang terjadi di kawasan gunung potong atau kawasan hutan
lindung, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Sabtu (12/1) malam, sekitar pukul
22.00 Wita, ruas jalan utama dari Minahasa menuju Mitra, khususnya yang melewati kawasan itu putus selama 17 Jam.
 
Informasi yang dihimpun Tribun Manado, peristiwa longsor tersebut, tidak mengakibatkan korban jiwa, karena saat terjadi longsor,
tidak ada kendaraan yang lewat di area terjadinya longsor. “Beruntung, pas dia longsor, nda ada yang lewat,” kata sumber.
 
Karena ruas jalan tersebut sudah tak bisa dilewati
lagi, sejumlah pengendara terpaksa melalui jalur alternative yang jaraknya cukup jauh, yakni melewati Desa Wongkai, Kecamatan Ratahan Timur. “Terpaksa
torang lewat Wongkai,” kata Noldy, Warga Tosuraya yang pada malam itu baru pulang dari Manado.
 
Mendapat informasi tersebut, sejumlah personil Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mitra, langsung menuju lokasi longsor.
Namun karena longsornya cukup besar, pembukaan akses, nanti dilakukan pagi keesokan harinya. “Malam itu kami langsung menuju lokasi, namun karena longsorannya
besar, maka kami berkoordinasi dengan Dinas PU untuk mengunakan peralatan mereka,” kata Erik Monaroinsong, Kepala Seksi Pencegahan Bencana BPBD Mitra.
 
Bersama Dinas PU, Monaroinsong dan rekan-rekannya di
BPBD, berupaya terlebih dahulu ingin membuka akses jalan. Namun karena alat
berat milik Dinas PU, tak mampu mengangkat sejumlah material longsoran berupa bebatuan besar, pihaknya meminta bantuan meminjam peralatan berat lainnya milik
kontraktor. “Syukur ada alat berat milik seorang kontraktor, soalnya alat milik Dinas PU tak mapu,” ujurnya.
 
Beberapa jam berjibaku mengangkut material longsoran,
BPBD bersama Dinas PU dan Personil Koramil serta Polsek Urban Ratahan, berhasil
membuka akses jalan yang putus itu, sehingga sejumlah kendaraan pun bisa melaluinya pada pukul 15.00 Wita.
 
Adapun yang jadi masalah kemudian, kata Monaroinsong
adalah terkait tanggungjawab membayar biaya sewa, atas penggunaan alat berat dan operatornya, sebab di instansi tempatnya bertugas, tidak ada anggaran untuk
itu. “Kami sekarang bingung, siapa yang akan membayar sewa peralatan dan operatornya, sebab di BPBD tidak ada pos anggaran untuk itu,” keluhnya. (tos)
Penulis:
Editor: Andrew_Pattymahu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved