Rabu, 10 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Youngster

Lestarikan Li ngkungan Untuk Masa Depan

DITIMPA bencana alam, baik itu banjir maupun tanah longsor, tentu tak ingin dialami oleh siapapun di muka bumi ini.

Tayang:
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu


DITIMPA bencana alam, baik itu banjir maupun tanah longsor, tentu tak ingin dialami oleh siapapun di muka bumi ini. Namun, yang namanya bencana siapapun tak dapat mengetahui kapan pastinya terjadi, sebab ia datang kadang seperti pencuri, mengingat sebagian besar wilayah Sulawesi Utara sangat rawan tertimpa bencana baik banjir, tanah longsor, maupun ancaman dari letusan gunung berapi.

Ketika terjadi bencana, kita tak dapat mengelak dan menolaknya, apalagi ketika peristiwa itu hingga menimbulkan korban jiwa, seperti yang terjadi belum lama ini di Manado, saat beberapa manusia meregang nyawa akibat tertimpa tanah longsor. Belum lagi, kerugian materiil yang ditimbulkan karena sebagian wilayah di daerah kita terendam banjir, sesaat setelah hujan deras turun pasti sangat banyak dan membuat kita tidak nyaman dalam beraktivitas.
Debby Christianti Tamaka, tamu Youngster Tribun Manado edisi Minggu ini mengatakan yang harus dilakukan untuk mengantisipasi bencana seperti itu tak terjadi lagi, adalah dengan evaluasi menyeluruh terhadap potensi bencana dan ancaman yang dapat ditimbulkan oleh semua stakeholder didaerah, baik pemerintah, masyarakat, maupun elemen terkait lainnya. “Bencana baik itu banjir maupun tanah longsor, tentu tidak dapat kita tolak ketika sudah terjadi, namun dampaknya dapat kita minimalisir seandainya lingkungan sekitar tetap dijaga dalam kondisi lestari,” ujar mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas  Ekonomi Universitas Sam Ratulangi Manado itu, Sabtu (12/1).
Menurutnya, maraknya bencana yang terjadi akhir-akhir di daerah ini sangat dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan, terutama di daerah-daerah yang menjadi pusat resapan air, salah satunya akibat maraknya penebangan pohon secara liar. “Mestinya pohon-pohon yang ada disekitar kita, harus dipelihara karena dapat menyerap air untuk mencegah banjir maupun tanah longsor, bukannya ditebang secara sembarangan.  Kalaupun sudah tidak ada pohon, maka menjadi kewajiban kita untuk melestarikan lingkungan dengan melakukan penanaman pohon (reboisasi), karena manfaat yang dapat dirasakan bukan hanya sekarang, tapi berkelanjutan hingga ke anak cucu kita,” ungkap Ebhy, sapaan akrabnya.
Pricylia Poulina Pusung mengungkapkan cara lain yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi agar bencana seperti banjir tidak terjadi, yakni dengan menjaga lingkungan tetap bersih. Artinya, semua sampah yang dihasilkan harus dibuang pada tempatnya, bukan justru dibuang diselokan air ataupun sungai yang dapat menyebabkan terjadinya penyumbatan hingga mengakibatkan luapan. “Untuk mencegah banjir, kita harus menjaga lingkungan tetap lestari dan bersih, dengan tidak membuang sampah sembarangan terutama ke selokan air atau sungai. Jika kita membuang sampah sembarangan, maka kita juga turut memicu terjadinya bencana, makanya perlu ada kesadaran kita semua,” jelasnya.
Sedangkan menurut Arief Classic Langelo dan Jimry Yafet Lego SE, rekan sekerja Ebhy dan Priscylia di BRI Cabang Bitung yang perlu dilakukan untuk mencegah adanya korban jiwa akibat bencana, adalah dengan memastikan semua masyarakat tinggal di lokasi yang aman. “Jika ada masyarakat yang tinggal ditebing curam atau bantaran sungai, maka baiknya untuk sementara waktu tinggal di tempat aman jika hujan turun deras, karena resiko tertimpa bencana sangat besar. Perlu kesadaran tinggi, dan kepedulian dari pemerintah juga untuk menjamin masyarakatnya aman dari bencana,” tukas Arief diiyakan Jimry. (War)
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved