Youngster
Lestarikan Li ngkungan Untuk Masa Depan
DITIMPA bencana alam, baik itu banjir maupun tanah longsor, tentu tak ingin dialami oleh siapapun di muka bumi ini.
Tayang:
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
DITIMPA bencana alam,
baik itu banjir maupun tanah longsor, tentu tak ingin dialami oleh siapapun di
muka bumi ini. Namun, yang namanya bencana siapapun tak dapat mengetahui kapan
pastinya terjadi, sebab ia datang kadang seperti pencuri, mengingat sebagian
besar wilayah Sulawesi Utara sangat rawan tertimpa bencana baik banjir, tanah
longsor, maupun ancaman dari letusan gunung berapi.
Ketika terjadi bencana, kita tak dapat mengelak dan menolaknya, apalagi ketika
peristiwa itu hingga menimbulkan korban jiwa, seperti yang terjadi belum lama
ini di Manado, saat beberapa manusia meregang nyawa akibat tertimpa tanah
longsor. Belum lagi, kerugian materiil yang ditimbulkan karena sebagian wilayah
di daerah kita terendam banjir, sesaat setelah hujan deras turun pasti sangat
banyak dan membuat kita tidak nyaman dalam beraktivitas.
Debby Christianti Tamaka, tamu Youngster Tribun Manado edisi Minggu ini
mengatakan yang harus dilakukan untuk mengantisipasi bencana seperti itu tak
terjadi lagi, adalah dengan evaluasi menyeluruh terhadap potensi bencana dan
ancaman yang dapat ditimbulkan oleh semua stakeholder didaerah, baik
pemerintah, masyarakat, maupun elemen terkait lainnya. “Bencana baik itu banjir
maupun tanah longsor, tentu tidak dapat kita tolak ketika sudah terjadi, namun
dampaknya dapat kita minimalisir seandainya lingkungan sekitar tetap dijaga
dalam kondisi lestari,” ujar mantan Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi Manado itu,
Sabtu (12/1).
Menurutnya, maraknya bencana yang terjadi akhir-akhir di daerah ini sangat
dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan, terutama di daerah-daerah yang menjadi
pusat resapan air, salah satunya akibat maraknya penebangan pohon secara liar. “Mestinya
pohon-pohon yang ada disekitar kita, harus dipelihara karena dapat menyerap air
untuk mencegah banjir maupun tanah longsor, bukannya ditebang secara
sembarangan. Kalaupun sudah tidak ada
pohon, maka menjadi kewajiban kita untuk melestarikan lingkungan dengan
melakukan penanaman pohon (reboisasi), karena manfaat yang dapat dirasakan
bukan hanya sekarang, tapi berkelanjutan hingga ke anak cucu kita,” ungkap
Ebhy, sapaan akrabnya.
Pricylia
Poulina Pusung mengungkapkan cara lain yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi agar
bencana seperti banjir tidak terjadi, yakni dengan menjaga lingkungan tetap
bersih. Artinya, semua sampah yang dihasilkan harus dibuang pada tempatnya,
bukan justru dibuang diselokan air ataupun sungai yang dapat menyebabkan
terjadinya penyumbatan hingga mengakibatkan luapan. “Untuk mencegah banjir,
kita harus menjaga lingkungan tetap lestari dan bersih, dengan tidak membuang
sampah sembarangan terutama ke selokan air atau sungai. Jika kita membuang
sampah sembarangan, maka kita juga turut memicu terjadinya bencana, makanya
perlu ada kesadaran kita semua,” jelasnya.
Sedangkan menurut Arief Classic Langelo dan Jimry Yafet Lego SE, rekan
sekerja Ebhy dan Priscylia di BRI Cabang Bitung yang perlu dilakukan untuk
mencegah adanya korban jiwa akibat bencana, adalah dengan memastikan semua
masyarakat tinggal di lokasi yang aman. “Jika ada masyarakat yang tinggal
ditebing curam atau bantaran sungai, maka baiknya untuk sementara waktu tinggal
di tempat aman jika hujan turun deras, karena resiko tertimpa bencana sangat
besar. Perlu kesadaran tinggi, dan kepedulian dari pemerintah juga untuk
menjamin masyarakatnya aman dari bencana,” tukas Arief diiyakan Jimry. (War)