Hari Ibu

Nurul Arifin: Perempuan Jangan Dininabobokan

Menurut Nurul, perempuan harus bisa berpolitik dari hal yang sederhana.

Nurul Arifin: Perempuan Jangan Dininabobokan
KOMPAS/ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA
Nurul Arifin
TRIBUNMANADO.CO.ID,JAKARTA - Nurul Arifin (46), politisi yang pernah populer sebagai artis peran, menilai Hari Ibu, yang diperingati setiap 22 Desember, sebagai momen yang tepat untuk mengingatkan kembali para perempuan Indonesia untuk berpolitik.

"Dulu ini diawali dari bertemunya wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I, pada 22 Desember 1928. Dari situlah mulai ada kesadaran wanita untuk berpolitik, menyuarakan kesetaraan mendapatkan pendidikan dan kesetaraan mengeluarkan pendapat," kata Nurul ketika diwawancara melalui telepon oleh Kompas.com di Jakarta, Jumat (21/12/2012).

Menurut Nurul, perempuan harus bisa berpolitik dari hal yang sederhana. "Di rumah, yang paling sederhana itu, seperti urusan dapur, sumur, kasur, pupur  atau 4R. Urusan dapur, kayak harga bawang naik itu kan ibu-ibu mikirin. Terus, urusan kasur, pertanyaannya alat reproduksi itu punya siapa? Sekarang, urusan KB (Keluarga Berencana), negara membatasi dua anak, di luar dua anak bukan anak negara. Sementara, di negara lain, karena jumlah perempuan sedikit, mereka disuruh hamil. Perempuan harus bisa menyikapi ini," papar istri jurnalis dan pembawa acara Mayong Suryolaksono dan ibu dua anak ini memberi contoh.

Perjuangan perempuan di mata Nurul belumlah selesai meski kesetaraan itu sudah tercapai. "Akhirnya, ada kebijakan cuti haid, seperti ini kan harus perempuan yang turun, laki-laki tidak pernah merasakan. Atau, yang harus diperjuangkan lagi adalah toilet perempuan yang harus lebih luas dari toilet laki-laki. Laki-laki jangan memandang urusan toilet dari sudut pandangnya saja, karena kalau lagi haid itu butuh ruang yang lebih luas untuk mengganti pembalutnya, harus jongkok, tidak seperti laki-laki yang tinggal keluarin saja," paparnya lagi.

Dengan perkembangan perempuan Indonesia dalam berpolitik, Nurul berharap api perjuangan perempuan Indonesia tidak padam atau dipadamkan. "Setelah pencapaian itu, kita tinggal menikmati hasil perjuangan dari zaman Kartini. Tapi, perempuan jangan dininabobokan," pesan Nurul. "Perempuan harus berpolitik, tapi tetap jangan melupakan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. Fungsi ini harus berjalan secara pararel," tekannya.

Editor: Rine Araro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved