Keluarga
Ibu Bekerja Itu Hebat!
Mama bekerja itu hebat, dengan bekerja Mama sendirian sanggup membiayai saya dan adik yang kebutuhannya tidak sedikit,
Itu sebabnya, Alif begitu bangga dengan ibunya yang tegar mengurusi kedua anaknya, setelah papanya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Sang mama, Yenni, memiliki toko obat di daerah Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.
Kawan kita yang lain, Ardhito Reza Himawan, enggak keberatan dan senang ibunya, Dewi Henrita, bekerja sesuai ilmunya. Sang ibu bekerja sebagai dokter gigi dengan jam kerja yang relatif fleksibel ketimbang perempuan karier lainnya.
Dito, panggilan pelajar kelas X Kharisma Bangsa School di Pondok Cabe, Tangerang, itu tak merasa ibunya kurang perhatian kepadanya. Kata dia, sang ibu tak sepanjang hari meninggalkan rumah. Malah kadang ibunya menjemput dia sepulang sekolah.
Steven Rabuwo yang bersekolah di SMA Kristen Tarsisius 1, Jakarta, juga senang ibunya punya usaha. Sang ibu bukan pekerja kantor, tetapi berwirausaha dengan membuka restoran. Apalagi ibunya mendukung kegiatannya seperti berlatih B-boy di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan keinginannya menjadi pebisnis.
”Seperti orang tua lain, ayah-ibu saya menginginkan anaknya menjadi lebih baik ketimbang mereka. Selain itu, saya tidak berminat hanya mengelola restoran,” katanya.
Vania Gisella, pelajar kelas X SMA Kartika, Jakarta, juga tak keberatan jika bundanya bekerja. Bundanya pernah bekerja di kantor, tetapi kini bekerja dari rumah. Bagi dia, sang bunda selalu ada di sampingnya ketika dia membutuhkan.
Sementara Yudi Arfan menilai ada segi positif dan negatif ibu bekerja. Positifnya, ibu bekerja dapat membantu atau sepenuhnya membiayai anaknya. Segi negatifnya, waktu dan perhatian ibu kepada anaknya berkurang. Ini bukan berarti dia tak setuju jika ibunya memilih bekerja.
Ibunya memang memilih menjadi ibu rumah tangga. Namun justru sang bunda yang hobi menyanyi membuatnya memilih karier sebagai penyanyi. Yudi yang asal Medan itu, kini tergabung dalam kelompok Saga, dan selepas SMA melanjutkan studi di Jakarta.
Bagi dia, ibu bekerja yang mampu menjalankan kewajiban akan membuat anaknya semakin termotivasi untuk membanggakan orangtua. Si anak merasa dukungan yang diberikan tak hanya materi, tetapi juga moril.
Beri pengertian
Psikolog anak, Adib Setiawan, mengatakan, pada anak usia SMA memiliki ibu bekerja atau tidak, sebenarnya tak lagi kuat pengaruhnya. Syaratnya, sejak awal, saat si anak masih kecil sudah diberi pengertian mengapa ibunya harus bekerja.
Ketika anak masih kecil, ketidakhadiran ibu setiap saat mungkin membuatnya merasa kehilangan. Namun bagi anak remaja, seorang ibu tak perlu mendampingi anaknya setiap saat. Mereka sudah punya teman-teman dan mungkin lebih suka berkumpul dengan teman-temannya. Mereka tetap memerlukan sosok ibu, tetapi tidak lagi setiap saat.
”Anak yang bermasalah itu bukan melulu karena ibunya bekerja. Lihat dulu bagaimana pola asuh dia saat masih kecil. Kalau tidak diasuh dengan benar kala kanak-kanak, mereka inilah yang biasanya kelak menjadi anak bermasalah,” katanya.
Adib yang juga pendiri Yayasan Praktik Psikologi Indonesia (YPPI) di Bintaro, Jakarta Selatan, ini berpendapat, orang tua yang baik tak akan memanjakan anaknya. Mereka mendidik dan mengarahkan anak agar selalu berada di ”rel” yang benar.
”Walau ibunya tidak bekerja, sang anak bisa tetap bermasalah. Mungkin karena ibunya tidak perhatian sehingga pergaulan si anak pun tidak benar. Begitu pula dengan ibu yang tidak bekerja, tetapi sering meninggalkan anaknya, si anak bisa bermasalah,” ujarnya.
Selain itu, situasi dan lingkungan sekitar pun dapat berdampak kepada anak. ”Akan lebih baik jika ibu bekerja dan tetap perhatian kepada anaknya,” kata psikolog lulusan Universitas Tarumanegara Jakarta ini.
Lebih mandiri
Memiliki ibu bekerja, baik di kantor, di rumah, atau membuka usaha, menjadi hal yang lumrah. Memang menyenangkan memiliki ibu yang selalu menanti kita pulang ke rumah. Kapan pun kita ingin curhat, ada ibu yang dapat diajak berbicara
Namun teman-teman yang ibunya bekerja, umumnya lebih mandiri. Pasalnya, mereka terbiasa memecahkan masalah sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Contoh sederhana, ketika ingin makan, mereka akan memasak sendiri. Tak mungkin mereka menelepon ibu yang sedang bekerja untuk memasak makanan kesukaan mereka.
Mereka pun tak menuntut ibunya harus sama seperti ibu lainnya. Mereka bisa menerima perhatian dan kehadiran ibunya sedikit berkurang, karena harus bekerja.
Seperti kata Dewi Henrita, walau tak setiap saat ada di rumah, umumnya para ibu tidak melupakan kewajibannya. Mungkin pekerjaan domestik tak seluruhnya dikerjakan sang ibu, misalnya dikerjakan pembantu rumah tangga.
”Biar begitu, saya tetap mengatur semua pekerjaan domestik. Seorang ibu adalah manajer yang hebat,” katanya.(IDA SETYORINI)