Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kepolisian

Polisi Gendut di Jaktim Jalani Diet

Program ini sesuai dengan instruksi dari Kapolri dan Kapolda Metro Jaya.

Editor:
zoom-inlihat foto Polisi Gendut di Jaktim Jalani Diet
Kompas.com/ M. AGUS FAUZUL HAKIM
Polisi gendut di Kota Kediri, Jawa Timur diwajibkan menurunkan berat badannya, Rabu (26/9/2012).
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Setelah beberapa waktu lalu Kepolisian Resor Tangerang mencanangkan program diet bagi polisi yang kelebihan berat badan alias gendut, kini giliran Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur (Polrestro Jaktim) menjalankan program serupa. Sebanyak 118 polisi dari 2.100 polisi yang bertugas wajib mengikuti program diet tersebut.

Kepala Subbagian Humas Polrestro Jaktim Komisaris Didik Haryadi mengungkapkan, 118 polisi yang kelebihan berat badan itu merupakan polisi yang bertugas di jajaran Markas Polrestro Jaktim dan 10 markas kepolisian sektor metro yang ada di Jakarta Timur dengan pangkat brigadir hingga komisaris. Program ini pun baru dimulai pada 30 November 2012.

"Program ini sesuai dengan instruksi dari Kapolri dan Kapolda Metro Jaya yang dikeluarkan beberapa bulan lalu agar polisi lebih lincah dan efektif dalam operasi kerja di lapangan, dan lebih dapat diandalkan," ujar Didik saat dihubungi Kompas.com, Senin (3/11/2012) pagi.

Didik melanjutkan, 118 polisi yang kelebihan berat badan wajib mengikuti olahraga senam di halaman Museum Purna Bhakti Pertiwi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) setiap hari Selasa dan Jumat hingga mencapai berat badan yang ideal. Kebanyakan dari para polisi itu memiliki berat badan antara 80 dan 130 kilogram.

Didik menambahkan, agar upaya penurunan berat badan 118 polisi itu sukses, program diet turut didukung oleh tim Kedokteran Polisi (Dokpol) Polrestro Jaktim. Tim dokter akan memantau perkembangan berat badan anggota tersebut tiap minggu dan mengevaluasinya kembali, apakah berhasil atau tidak.

"Diupayakan berat badan polisi ini mengalami penurunan 2 sampai 4 kilogram setiap bulannya. Sebab kalau lebih dari itu penurunan berat badannya, maka dianggap ekstrem dan justru berbahaya bagi kesehatan," kata Didik.

Menurut Didik, program yang diikuti oleh 90 persen laki-laki dan 10 persen wanita tersebut tak memiliki batas waktu. Program penurunan berat badan akan dihentikan jika polisi tersebut dinyatakan masuk ke dalam berat badan yang proporsional oleh tim dokter. "Kami berharap program penurunan berat badan ini membuat pelayanan kepada masyarakat juga semakin baik," kata Didik.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved