Pemilukada Minahasa
Careig Skakmat JWS Soal Komitmen
Calon Bupati Minahasa Careig Naichel Runtu (CNR) menjadi satu-satunya kandidat, yang komitmen dengan pernyataan siap menang dan siap kalah
TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO – Calon Bupati Minahasa Careig Naichel Runtu (CNR) menjadi satu-satunya kandidat, yang komitmen dengan pernyataan siap menang dan siap kalah dalam pemilukada Minahasa ini. CNR menegaskan, dirinya memilih untuk siap menang.
Konsistensi terhadap siap menang dan siap kalah ini, yang dipertanyakan CNR kepada calon Bupati Jantje Wowiling Sajow (JWS) saat debat kandidat kedua, pada Minggu (2/12). CNR menanyakan, apa yang akan dilakukan bila tidak terpilih nanti.
“Saya mengenal bapak Jantje sebagai figur yang punya konsep untuk membangun, pertanyaan apakah apa yang akan Anda lakukan bila tidak terpilih nanti, dan apakah konsep itu akan diimplementasi bila tidak terpilih sebagai bupati,” tanya CNR.
Hanya saja tanpa diduga, JWS menolak menjawab pertanyaan tersebut dengan dalih bahwa pertanyaan itu untuk calon yang tidak terpilih. Padahal apa yang dimaksudkan Careig adalah, setiap kandidat harus sudah mempersiapkan dirinya dalam situasi apapun. Bila
kemudian, perjuangan untuk membangun Minahasa tidak bisa dilakukan dengan cara menjadi pemimpin. Pastinya akan bisa dilakukan melalui bidang-bidang lainnya.
“Pada saat deklarasi damai, kita semua sudah menyatakan siap menang dan siap kalah. Saya siap dengan kedua-duanya, dan memilih untuk siap menang. Hanya saja, saya ingin mengetahui komitmen kandidat lain soal hal itu. Karena bila tidak siap, maka akan berpotensi mempengaruhi dan mengganggu proses pemilukada yang sedang berjalan ini. Kalau belum terpilih saja tidak komitmen, bagaimana bila tidak terpilih,” tutur Careig, menjelaskan kembali pertanyaan itu usai debat kandidat.
Menyaksikan debat kandidat tersebut, tokoh pemuda Tondano Yulius Dimpudus mengatakan, seharusnya setiap kandidat harus bisa menjawab pertanyaan apapun dari kandidat lainnya. Hal itu menunjukkan, kepiawaian seorang kandidat dalam memimpin dan menghadapi situasi apapun.
“Jangan sampai karena dinilai pertanyaannya untuk yang tidak terpilih, lalu menolak menjawab. Masyarakat menunggu apa jawaban itu, karena tentu sebagai pemimpin harus bisa menjawab pertanyaan dari rakyat nantinya. Kalau sekarang saja, tidak bisa menghadapi pertanyaan sulit. Bagaimana nanti bila nanti sudah memimpin, mungkin akan arogan bila menghadapi situasi pelik,” kata Yulius.