Uji Kompetensi Wartawan
Ujian Wartawan, Ujung Telepon Pejabat Wanita Bilang Halo Sayang
MENDADAK semua tegang dan was-was. Daftar nomor telepon di tangan satu persatu ditunjuk penguji lalu disuruh telepon.
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
TRIBUNMANADO/ROBERTUS RIMAWAN
Foto penutupan uji kompetensi. Yudith Rondonuwu tribun manado menjadi peserta di tingkat madya. Peserta dari tribun manado berhasil meraih nilai tertinggi di uji kompetensi wartawan yakni di tingkat muda dan madya
MENDADAK semua tegang dan was-was. Daftar nomor telepon di tangan satu persatu ditunjuk penguji lalu disuruh telepon. Keringat dingin mengucur apalagi ketika nomor yang ditunjuk gagal dihubungi.
Itu adalah gambaran nyata, puluhan wartawan, redaktur maupun pimpinan redaksi merasakan kekhawatiran yang besar. Ya saat itu puluhan jurnalis sedang mengikuti uji kompetensi yang dilaksanakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulut oleh penguji PWI pusat, Sabtu (1/12) di Hotel Sahid Kawanua Manado.
Sesi tersebut ada di akhir-akhir uji kompetensi dan sangat menentukan berhasil atau tidaknya seorang jurnalis berpredikat kompeten. Saat itu merupakan uji jejaring sosial, bagaimana seorang jurnalis dites jaringan relasi pejabat maupun tokoh sebagai narasumber berita. Bila jurnalis tak mampu melewati ujian ini maka meskipun berhasil lulus dengan nilai bagus di bidang lain, tetap saja belum berpredikat kompeten.
Maka hari itu puluhan wartawan berusaha mengontak narasumber agar bersedia untuk mengangkat telepon namun tak sedikit yang gagal dan menghasilkan kisah lucu dan unik. Wakil Wali Kota (Wawali) Manado Harley Mangindaan (Ai) menjadi sosok yang 'laris' menjadi seorang yang 'diburu' wartawan. Namun kali ini para jurnalis harus gigit jari.
Beberapa wartawan akhirnya baru sadar berhasil 'dikerjain' Wawali Manado. Sehari sebelumnya ada tiga wartawan yang menghubungi melalui pesan pendek dan menjelaskan kalau sedang mengikuti tes kompetensi wartawan. Wawali bersedia dan berjanji mengangkat telepon ketika tes berlangsung. Namun ketika pelaksanaan nomor wawali tak bisa dihubungi. Lalu ada satu wartawan yang berhasil menghubungi tapi tak diangkat, watu lagi telepon namun direject.
"Wah kita 'dikerjain' wawali ini, satu kosong," ujarnya. Menurut tiga wartawan tersebut Wawali Manado memang dikenal mudah akrab dengan, namun tak jarang sering bercanda ketika menjalankan tugas. Melalui pesan singkat Wawali Manado hanya menjawab hehehehe. Akhirnya ketiga wartawan ini gagal mendapatkan nilai bagus karena tak berhasil menghubungi Wawali Manado.
Ada pula cerita unik lainnya, seorang wartawan, saking akrabnya dengan narasumber bahkan memiliki panggilan khusus. Wartawan tersebut sebelumnya tak mengontak pejabat yang bersangkutan kalau saat itu sedang ujian maka ketika ditelepon penguji sontak kaget. Di ujung telepon yang di-loadspeaker ada suara merdu wanita dengan kalimat singkat, 'halo sayang'. Kontan yang mendengar tertawa, wartawan tersebut tersipu malu dan menjelaskan sedang mengikuti ujian. Kadang ketika sudah terjalin keakraban tak jarang panggilan-panggilan khusus seperti kata sayang menjadi hal yang biasa.
Ada lagi wartawan lain juga mengalami namun kali ini ketika telepon dari ujung telepon langsung berbicara kencang."Woiii....dimana kamu? Mari gabung di Deluxe," ujarnya. Peserta lain kontan tertawa, untung penguji tak tahu bahwa Deluxe merupakan sebuah tempat hiburan dan sang pejabat mengajak para wartawan untuk berkumpul dan bersantai.
Di atas merupakan cerita unik dan gagal namun ada kisah lain yang sukses. Budi Rarumangkay, wartawan senior yang ikut uji kompetensi tingkat utama level pimpinan redaksi akhirnya mendapatkan nilai tinggi. Ia berhasil menelepon Wali Kota Manado Vicky Lumentut. Bahkan Gubernur Sulut Dr Sinyo Harry Sarundajang juga bersedia dihubungi bila nanti ditelepon, namun penguji hanya menyebut satu nama yakni Wali Kota Manado dan ketika ditelepon ujung telepon lalu bersuara, "selamat siang pak Budi Rarumangkay".
Budi-pun 'selamat' ia mendapat nilai tinggi dari tes tersebut.
Seusai tes bahkan ada seorang kadis yang telepon dan bertanya. "Budi, kita sudah di Manado, jadi telepon tidak?" Tanya pejabat tersebut. Dengan santai Budi menjawab bahwa tes sudah selesai, terima kasih banyak.
"Kuncinya kalau ingin diangkat teleponnya kasih kalimat ancaman. Kalau bapak tak angkat telepon berarti kita tak punya hubungan baik," ujarnya kemudian tertawa. Meski ia menegaskan itu sifatnya candaan namun kenyataan efektif, kepala daerahpun bersedia mengangkat telepon dan membawanya mendapat nilai lebih bagus.
Uji jejaring sosial merupakan bagian kecil dari tes-tes lainnya. Meskipun sifatnya sederhana hanya bisa menghubungi narasumber penting, namun tes ini berhasil membuat khawatir puluhan peserta. Ada seorang peserta yang mendapat nilai tinggi poin 90 karena semua narasumber-narasumber penting berhasil dihubungi. Hubungan baik menjadi kunci nilai bagus dalam tes ini. Seorang penguji bahkan tak segan untuk memberi nilai 100 bila ada yang berhasil menghubungi Presiden SBY.
Tes-tes lainnya seperti merencanakan sebuah berita, wawancara tatap muka, wawancara cegat, konferensi pers, menulis berita, mengedit berita, membuat rubrikasi dan sebagainya. Tes-tes tersebut disesuaikan dengan tingkatan. Tingkat wartawan lebih pada kemampuan di lapangan sementara redaktur diuji dari kemampuan koordinir dan tingkat pimpinan redaksi mencakup keseluruhan. Bagaimana ia mampu untuk membawa arah karya jurnalistik yang sesuai standar baik.
Peserta Banyak yang Gugur
Uji kompetensi PWI Cabang Sulut kedua ini peserta yang mendaftar sebelumnya sebanyak 42 peserta namun hari pertama pelaksanaan, Jumat (30/11) peserta berjumlah 39 jurnalis. Terdiri dari peserta utama atau tingkat pimpinan redaksi sebanyak 11 orang, peserta madya atau tingkat redaktur sebanyak 14 orang dan peserta muda tingkat wartawan sebanyak 14 orang.
Setelah dilakukan uji kompetensi selama dua hari yang belum kompeten dari 39 peserta ada 16 orang. Tingkat utama ada 5 peserta, madya 7 peserta dan muda 4 peserta. Jadi total peserta yang kompeten di uji kompetensi wartawan angkatan kedua ini sebanyak 23 orang.
Kepala Bidang Pendidikan PWI Pusat, Marah Sakti Siregar selaku koordinator uji kompetensi ini mengaku melihat adanya antusiasme para peserta. "Antusisasme ini didasarkan Kepada keinginan sebagai wartawan profesional. Taat pada etika jurnalistik, miliki orientasi untuk kepentingan publik," ujarnya.
Sakti menilai, uji kompetensi ini selain mengukur kemampuan namun juga proses edukasi, semacam tambahan pencerahan terhadap hal-hal yang tak diketahui wartawan sebelumnya. Tujuannya agar terwujud standarisasi wartawan nasional.
Bila nantinya hasil uji kompetensi ini akan menjadi acuan dalam memberikan insentif menurutnya tergantung kebijakan masing-masing media. Bila profesionalisme mendarah daging nantinya dunia jurnalisme bisa seperti bola, pemain terbaik bakal diambil klub yang memiliki uang berlimpah. Namun ia menekankan uji kompetensi bisa menjadi semacam alat ukurnya kinerja perusahaan. "Bahkan bisa saja nantinya menjadi syarat ketika pindah media. Mana nih buktinya. Tak perlu tes, karena percaya dengan lembaga pengujinya," jelas dia.
Penutupan acara berjalan meriah, banyak cerita-cerita lucu dan penuh keakraban muncul saat panitia, pelaksana maupun peserta memberikan sambutannya. Dan di akhir acara saat penyerahan piagam keikutsertaan, dipanggil tiga peserta terbaik dari masing-masing tingkatan untuk maju ke depan. Dua jurnalis Tribun Manado dari tingkat madya dan muda mendapat predikat nilai terbaik di uji kompetensi ini. (robertus rimawan)
KOMENTAR