Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Bantuan

Dapat Kaki Setelah 19 Tahun Menunggu

Setelah keluar dari gedung Fakultas Pertanian itu, dipastikan dia tidak berjalan dengan meloncat.

Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MALANG - Rohmatullah (19), warga Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember terlihat semringah saat tiba di Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (24/11/2012).

Setelah keluar dari gedung Fakultas Pertanian itu, dipastikan dia tidak berjalan dengan meloncat atau menggunakan tongkat bantu untuk berjalan.

Rohmat-sapaan akrabnya- terlahir tanpa kaki kanan. Kedua tangannya pun hanya sampai siku. Tapi Rohmat tidak pernah berkecil hati dengan kondisinya. Sejak SD sampai SMA, dia memilih di sekolah umum dibandingkan sekolah khusus difabel.
"Memang banyak yang mengejek kekurangan saya, tapi hanya gurauan saja," kata Rohmat.

Rohmat adalah salah satu dari 96 tuna daksa yang mendapat bantuan tangan dan kaki palsu dari Yayasan Peduli Tuna Daksa Jawa Timur bekerjasama dengan Perhimpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi FP UB (Permaseta FP UB).

Sejak menyadari kekurangannya, Rohmat selalu mendambakan kaki palsu. Tapi dia harus menyadari orang tuanya tidak mampu membelikan kaki yang harganya sekitar Rp 5 juta.

"2009 lalu ada bantuan kaki palsu dari Gubernur Jatim. Saya tidak lolos seleksi karena yang mendapat bantuan hanya yang tidak memiliki kaki dibawah lutut," tambahnya.

Humas Permaseta FP UB, Abid Ubaidillah menyatakan usia penerima bantuan kaki dan tangan palsu berkisar antara 4-55 tahun. Menurutnya penerima bantuan sudah menjalani pengukuran pada 29-30 September 2012.

"Sekarang ini hanya pemasangan saja," kata Abid.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved