Pelestarian Lingkungan Hidup
Warga Desa Tangkuney 'Mencetak' Mata Air
Satu bibit dengan tinggi 40 hingga 100 centimeter dipatok harga antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribuan.
Penulis: | Editor:
Gurun Sahara di benua Afrika sekitar 10 ribu tahun lalu merupakan daratan yang hijau dan subur. Mungkinkah zamrud katulistiwa bisa berubah saperti Sahara?
PENELITI Julie Dunne dari University of Bristol menyimpulkan fakta tentang Gurun Sahara seperti dikutip dari nationalgeographic.co.id. Ia melakukan analisa dan menemukan lemak susu pada pecahan tembikar kuno. Menurutnya pada saat itu Gurun Sahara mengalami periode lembab Holosen Afrika. Savana hijau dijadikan tempat peternakan sapi dan memunculkan aktivitas pengolahan susu. Namun kini berubah menjadi gurun pasir.
Hal seperti inilah yang dikhawatirkan bisa terjadi di Indonesia. Winsi Karwur, penggiat media sekaligus aktivis dari Sulut Green and Organic (SGO) mengaku khawatir. Indonesia yang dikenal sebagai zamrud katulistiwa bisa saja berubah saperti Gurun Sahara. Menurutnya, perubahan iklim secara global bisa berdampak pada tandusnya tanah pertanian, keringnya mata air dan berujung pada kesengsaraan umat manusia.
Inilah yang membuatnyai bergabung dengan SGO yang diprakarsai Irjen Benny Mamoto selaku ketua umum dan Dr Theo Lasut, dosen Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado selaku Ketua Tim Teknis SGO. SGO melakukan program rehabilitasi lahan guna menyelamatkan mata air dengan menanam tanaman yang bisa menciptakan daerah resapan.
Perjuangan aktivis SGO selama dua tahun di Desa Tangkuney, Kecamatan Tumpaan, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulut berbuah manis. Desa yang pernah terisolasi setelah lima jembatan penghubung putus karena banjir bandang bulan Februari 2006 mengalami metamorfosa. Kini menjadi cikal bakal desa 'pencetak' mata air. Di desa ini sebagian besar penduduknya menjadi produsen bibit pohon Karumama atau pohon Jabon Merah yang dikenal sebagai pohon endemik di Sulut.
Akar Karumama memiliki kelebihan untuk menciptakan daerah resapan air. "Tak heran di setiap mata air di Sulut pasti ditemui pohon Karumama, sehingga SGO berusaha untuk mencari cara untuk mengembangkan bibitnya," kata Winsi.
Ia pun mengajak Tribun Manado bertemu langsung penduduk Desa Tangkuney, Jumat (16/11). Meski hari mulai petang, terlihat di setiap halaman rumah ada bangunan non permanen dengan beberapa tiang pancang kayu dan di atasnya dipayungi jaring plastik (paranet). Di bawahnya ada ribuan bibit Karumama yang siap ditanam. Jes V Keintjem (54), Kepala Jaga (Ketua RT) IV Desa Tangkuney menyambut Tribun dengan suka cita. Tak berapa lama tetangga sekitar dan juga pembibit pohon Karumama berkumpul di rumah tersebut.
"Awal tahun 2010, Pak Benny (Benny Mamoto) membawa beberapa warga ke hutan-hutan untuk latihan di tempat. Bagaimana mengelola itu, manfaatnya, hingga mengantisipasi kerusakan hutan karena pohon ini menciptakan resapan air, mampu mengurangi pemanasan bumi dan kekeringan," kata Jes Keintjem. Maka terbentuklah Kelompok Tani Tunas Karumama yang anggota awal hanya lima orang pria kaum bapa (PK/B) Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Kini jumlah anggota telah berkembang pesat.
Jes menghitung khusus Desa Tangkuney ada 70 hingga 80 kepala keluarga (KK) yang kini seriusi pembibitan pohon Karumama.Rata-rata setiap KK memiliki stok bibit sebanyak 2 hingga 3 ribu yang siap ditanam. Menurutnya setiap warga telah menanam di lahannya untuk menciptakan daerah resapan air serta meningkatkan kesejahteraan rumah tangga. Bisa dipastikan desa tersebut akan menjadi sumber mata air berlimpah bagi wilayah Minahasa Selatan.
Banyak yang memesan bibit pohon Karumama dari warga desa itu, termasuk dari Jepang. "Satu bibit dengan tinggi 40 hingga 100 centimeter dipatok harga antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribuan," ujar Jes, ayah dua anak dan enam cucu tersebut.
Keceriaan tampak di wajah pria yang mulai mengeriput ini. Dia bangga karena akan mengirim sebanyak 3.000 bibit ke Jepang. Menurutnya penghasilan warga kini juga meningkat karena pesanan terus mengalir. Hal senada disampaikan Jones Imbang (44). Jones mengaku pernah mendapat pesanan terbesar dengan nominal uang Rp 10 juta. Itu jumlah uang terbesar yang pernah ia terima sebagai petani. Warga Desa Tangkuney rata-rata merupakan petani kelapa, lahan yang sempit dan harga buah kelapa yang tak seberapa, tak bisa menjadi tumpuan hidup keluarga.
Setelah mendapat pendampingan dari SGO, Jones mengaku kehidupan warga Desa Tangkuney berubah. "Saya dengan pala (Kepala Jaga, Jes Keintjem) bahkan pernah menyewa sepeda motor untuk cari buah Karumama untuk pembibitan," jelasnya.
Mengolah buah Karumama menjadi bibit ternyata tidak mudah. Dibutuhkan ujicoba berulangkali sehingga warga menemukan cara yang tepat termasuk teknik mengurangi jamur yang membunuh bibit. Menurut Jemmy Lembong (50) dan Yul Pasa (51), bibit yang berkualitas baik berwarna cokelat tua. Kini warga Desa Tangkuney sudah menyiapkan program lebih lanjut yaitu menanam Karumana secara besar-besaran di setiap wilayah mata air wilayah tersebut.
Gerakan penyelamatan mata air di Sulut selain didukung SGO ada sebuah organisasi yang juga peduli untuk melakukan penghijauan. Forum Wartawan Dewan (Forward), sebuah organisasi dengan anggota jurnalis dari berbagai media yang pos di DPRD Sulut menggaungkan aksi menanam pohon. Martino Limpong selaku ketua Forward bersama Winsi Karwur sebagai ketua pelaksana kegiatan dalam tajuk wartawan menanam (wartanam) mengajak pejabat, pengusaha dan sukarelawan untuk melakukan upaya penghijauan.
Melalui Wartanam 2012, telah menggalang bantuan dari donatur sehingga bisa membeli bibit dari Warga Desa Tangkuney hingga belasan ribu. Di desa Lolah II, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, misalnya tercatat ribu bibit telah ditanam bersama beberapa warga desa. "Di Desa Lolah ada mata air diberi nama mata air Karumama agar mengingatkan penduduk mata air tersebut ada juga karena rimbunnya Pohon Karumama," kata Winsi. Wilayah lain telah ditanam seperti di Desa Tangkuney sebanyak 4 ribu pohon, di Kota Bitung 3 ribu bibit , Kabupaten Minahasa Utara 3 ribu bibit dan terakhir 3 ribu bibit Karumama ditanam di Tombasian Atas, Kabupaten Minahasa, Sabtu (17/11) lalu.
Sumber : Tribun Manado Cetak


