Pertanian
Petani Kelapa di Mitra Jadi Enggan Memanen
Sebab ongkos kerja untuk para buruh tani tidak pernah turun.
Penulis: | Editor:
Laporan Wartawan Tribun Manado Pengasihan Susanto Amisan
TRIBUNMANADO.CO.ID, RATAHAN - Turunnya harga kopra di pasaran, beberapa bulan terakhir ini, nampaknya mulai membuat petani di sejumlah daerah di Sulawesi Utara (Sulut), termasuk di Minahasa Tenggara (Mitra) enggan mengolah komoditas andalan itu. Pasalnya harga yang ada tak seimbang dengan biaya produksi yang mesti dikeluarkan oleh para petani.
Pantauan Tribun Manado di sejumlah wilayah perkebunan kelapa, tampak jelas buah kelapa yang sudah tua, dibiarkan begitu saja menggelantung di pohon dan tak dipanen. Bebeberapa petani yang dimintai komentarnya mengaku jadi enggan mengolah buah kelapa di kebunnya karena masalah harga yang sangat rendah. “Bagimana torang mo ba kopra, sementara itu harga pe rendah. Bukannya dapa untung tapi dapa rugi,” ungkap Jantje, seorang petani di Desa Tosuraya.
Senada dengan itu, Adri Anto, seorang petani di Wawali, Kecamatan Ratahan mengungkapkan bahwa, harga Rp 3.200 di tingkatan pedagang pengumpul saat ini, jelas tidak sebanding dengan biaya produksi. Sebab ongkos kerja untuk para buruh tani tidak pernah turun, begitu juga pajak yang dikenakan pemerintah tidak turun, sehingga secara tidak langsung ikut membebani petani. “Harga yang ada tak bisa menutupi biaya produksi, terutama ongkos kerja para buruh tani,” ujarnya kepada Tribun Manado, Kamis (8/11).
Mencermati turunnya harga komoditas unggulan masyarakat itu, pihaknya sangat berharap instansi terkait kirannya dapat memperhatikan nasib petani Sulut. “Banyak masyarakat petani Sulut, khususnya para petani kebun, menggantungkan hidup mereka dari komoditas ini. Oleh karena itu kami sangat berharap pemerintah dapat mengatasi hal ini,” pintah Adri.
Novri Tangkuman, seorang pedagang pengumpul di Desa Wioi, Kecamatan Rarahan Timur, saat diwawancarai mengatakan, akibat turunnya harga kopra di pasaran belakangan ini, petani jadi enggan mengolah komoditas unggulan Sulut itu, sehingga pihaknya pun jadi kesulitan mendapat pasokan kopra untuk dijual ke pabrik minyak kelapa di Bitung maupun Amurang. “Biasanya tiap kuartal ada puluhan ton yang masuk dari para petani, setelah harga turun hingga Rp 3.100 seperti saat ini, petani jadi enggan mengolah kopra,” tutur pedagang yang juga anggota DPRD Mitra ini.
Sebagai wakil rakyat, dia sangat menyangkan turunnya harga kopra akhir-akhir ini. Padahal mayoritas masyarakat Sulut pada umumnya dan Mitra pada khususnya, dalam waktu dekat ini akan menghadapi hari besar keagamaan yakni Natal dan Tahun Baru. Menghadapi momentum itu seperti biasanya masyarakat akan sangat membutuhkan biaya yang lebih untuk berbagai keperluan. “Saya berharap instansi terkait dapat memperhatikan hal ini. Minimal ada perbaikan harga hingga angka yang dinilai cukup ideal yakni 5000/kg, sudah cukup melegahkan petani,” harapnya.