Tapal Batas
Warga Buyat Ancam Demo Jika Putusan Tapal Batas Merugikan Boltim
Warga Desa Buyat ancam gelar demo besar-besaran jika keputusan gubernur terkait tapal batas Boltim- Mitra merugikan warga Boltim.
Penulis: Aldi Ponge | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID,BOLTIM - Warga Desa Buyat Kecamatan Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) ancam gelar demo besar-besaran jika keputusan gubernur terkait tapal batas Boltim-Minahasa Tenggara (Mitra) merugikan warga Boltim.
Rustaman Warga Desa Buyat menuturkan pihaknya akan menggelar aksi penolakan atas keputusan Gubernur jika nanti merugikan warga Buyat dan Boltim pada umumnya. "Gubernur harus memperhatikan aspirasi warga setempat," desak Rustaman, pada Senin (29/10)
Rustaman mengatakan pemerintah provinsi (Pemprov) jangan hanya mendengarkan aspirasi para elit di sekelilingnya dengan mengesampingkan keluhan warga Buyat terkait tanah milik mereka. "Perlu dikaji historisnyz dari daerah tersebut selain tentu data Yuridisnya," ujar Rustaman.
Rustaman meminta pemprov adil dalam penetapan tapal batas tersebut agar tidak menimbulkan riak-riak dalam masyarakat pasca keputusan dikeluarkan. "Pastinya jika keputusan merugikan maka kami warga Buyat akan mempertahankan hidup atau mati," kata putra Buyat ini.
Dia mengajak semua putra Totabuan agar bersatu mempertahankan tanah para Bogani. Menurutnya tapal batas tersebut harusnya bukan hanya perjuangan Bupati Boltim Sehan Landjar semata tapi harus diperjuangkan oleh seluruh warga Bolmong raya. "Harusnya kelima kepala daerah bersatu. Ini bukan hanya tanggungjawab Eyang (Bupati). Sebab kita hanya pisah secara administrasi saja," ujar Rustaman.
Sementara itu. Asisiten I Bidang Pemerintahan, Pemkab Boltim, Amin Musa mengungkapkan pekan ini akan ada keputusan dari Gubernur SH Sarundajang terkait tapal batas Boltim-Mitra. "1/2 hari tinggal menunggu keputusan gubernur.Pak Bupati memang meminta waktu seminggu untuk sosialisai pada masyarakat Buyat. mungkin satu dua hari ini penetapan tersebut," ungkap Amin.
Amin mengatakan keputusan telah diserahkan ke Gubernur setelah kedua daerah tidak menemukan titik temu dalam setiap pembicaraan mengenai tapal batas. Dungkapkannya, pemkab boltim sendiri telah mengajukan 3 usulan yakni melanjutkan hasil tapal batas oleh Bakorsultanal, pada tahun 2004 yang terhenti, atau manarik garis lurus dari sungai buyat yang lama, terakhir menggunakan batas jalan antara Buyat-Ratatotok. "Yang penting sudah sampaikan solusi," jelas Amin.
Sekadar diketahui sebelumnya, Rabu (24/10) pekan lalu, Gubernur bertemu dengan Bupati Boltim dan Mitra di Novotel. Saat itu Sehan meminta waktu sepekan sebelum ditanda-tangani keputusan tersebut untuk mensosialisaikan kepada masyarakat Buyat.
Sehan mengaku tak ingin mempertahankan egonya sehingga dirinya memberikan solusi terhadap pemprov Sulut agar secepatnya memberikan keputusan mengenai permasalahan tersebut. Sehan juga relah menurunkan opsi dari 100 persen menjadi 50 hingga 30 persen.
"Kalau Mitra masih mempertahakan sungai Buyat maka itu problem dan menyatakan perang," ujar Sehan.