Tajuk Tamu
Brenti Jo Bagate
Banyak orang berdalih, kegiatan minum alkohol itu atau yang kita sebut saja di sini ‘bagate’ banyak manfaatnya
Vikaris Pendeta di GMIM PETRA Kinilow.
Nama julukan biasanya diberikan sebagai tanda popular dan kedekatan. ‘Tole’, ‘Buang’, ‘Endik’untuk kebanyakan laki-laki di Minahasa. ‘Nona’, ‘Mintje’ untuk wanitanya. Di tiap daerah sepertinya punya kekhasan masing-masing tentang itu. Walaupun sering terkesan dijadikan bahan lelucon, tapi julukan atau gelar sering menunjuk pada popularitas seseorang.Tapi ada juga sesuatu yang sering mendapat gelar karena ‘popularitasnya’. Kita mendapati beberapa istilah yang familiar yaitu: ‘melep’, ‘perjamuan’, ‘baetag’, ‘pancing’, ‘bagate’. Ah, itupun dengan cepat terpikir dan tertuang dalam ketikan jari ini. Mungkin ada banyak lagi istilah lain yang dapat ditambahkan di sini. Demikan populerkah dia? Padahal menunjuk pada arti sebenarnya julukan ini adalah sebuah kegiatan. Ya, sebuah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang, minum bersama, kebanyakan di gelas yang sama, minuman beralkohol yang bervariasi jenis dan kadarnya, sampai semua yang mengambil bagian itu merasa mabuk.
Banyak orang berdalih, kegiatan minum alkohol itu atau yang kita sebut saja di sini ‘bagate’ banyak manfaatnya. Katanya bisa mempererat hubungan satu dengan yang lain. Katanya bisa menjadi tempat mengungkapkan perasaan dengan jujur. Katanya bisa menjadi sarana solidaritas sesama pria. Bahkan ada yang bilang: bagate itu bisa menyehatkan tubuh. Sepertinya ada benarnya. Tapi apa demikan kenyataannya? Ah, sepertinya tidaklah setepat itu.
Ketika masih kecil dan berada bersama dengan kumpulan orang yang ‘bagate’, saya tidak habis pikir mengapa mereka begitu menyukai minuman itu. Dari segi rasa, sepertinya sama sekali tak bisa dibandingkan dengan minuman soda bahkan dengan air putih sekalipun. Kebanyakan pahit dan tajam. Baunya pun sama sekali tidak menyenangkan; menusuk hidung! Tapi begitu disukai! Sambil berdiam diri, saya mencoba pasrah dan mengaminkan bahwa mungkin memang belum waktunya bagi anak-anak untuk memahaminya. Beranjak pemuda, rasa dan aroma minuman keras itupun tak kunjung berubah. Masih tetap terasa tak menyenangkan di lidah. Tapi yang mulai terasa berbeda adalah suasananya. Sepertinya mereka yang terlibat ‘bagate’ kelihatan jantan, gaul dan diterima. Kata orang: “malu kalau lelaki tidak tau bagate”. Jadi meskipun terpaksa, diteguk jualah segelas kecil minuman keras yang biasanya di sebut captikus demi untuk sebuah harga diri dan gengsi. Tapi apa yang terjadi? Tenggorokan ini terasa perih. Minuman keras itu sepertinya merobek-robek bagian leher. Kepala pun terasa pening dan lutut terasa lemah. Ah, apakah ini yang mereka sebut bagian yang menyenangkan dari bagate? Atau apakah ini yang mereka sebut efek bagate yang menyehatkan? Saya berkesimpulan: tidak!
Ternyata efek yang ditimbulkan oleh bagate bukan hanya itu. Percakapan antara tukang bagate itu mulai tak karuan. Masalah kecil mulai diperdebatkan. Orang semakin kasar, suara semakin keras. Orang yang lewat pun berusaha menghindar dari kerumunan bagate itu. Ah, mungkinkah ini yang disebut dengan efek solidaritas dari bagate? Sepertinya sama sekali tidak. Mereka mulai sama sekali tidak bisa menahan diri. Dengan wajah merah padam mereka menuding satu dengan yang lain. Situasi semakin panas. Akhirnya kepalan tangan melayang, beberapa orang terjerembab jatuh. Tak mau kalah, bayangan mengkilap dari sebuah benda yang disimpan di balik baju terlihat keluar. Pisau! Tak ada rasa takut lagi bagi mereka, semakin berani dan nekad. Akhirnya, pisau itu menancap. Menancap di tubuh manusia. Teriakan terdengar. Semua menjadi kacau. Korban berjatuhan. Ah, atau inikah yang disebut mereka sebagai efek berani dari bagate? Saya kira sepenuhnya keliru!
Kekeliruan ini ternyata bukan hanya terjadi di tempat itu, tapi dimana-mana. Faktanya hampir di semua tempat bagate. Tapi mengapa mereka masih menyukai bagate? Beberapa kali saya bertemu dengan perempuan yang menggendong anaknya sambil menangis. Wajah mereka merah lebam dipukul oleh suaminya sendiri. Betapa teganya, pikirku! Faktanya adalah: sang suami kebanyakan telah meneguk minuman keras dan bagate. Apakah ini yang disebut dengan efek jujur bagate? Tidak mungkin! Banyak kali saya melihat di jalanan, krans bunga duka berdampingan dengan llilin yang menyala. Korban yang meninggal karena kecelakaan. Tapi, juga beberapa botol minuman keras turut menghias. Ah ternyata korban kecelakaan karena mabuk, karena bagate. Ironisnya, solidaritas sahabat ditunjukkan dengan cara bagate di tempat itu. Sungguh memilukan! Saya melihat seorang bapak terbaring lemah di rumah sakit. Tubuhnya kurus kering, wajahnya kelihatan jauh lebih tua dari usianya. Sementara istri dan anaknya kebingungan membiayai ongkos rumah sakit. Ah, ternyata sakit di bagian dalam tubuh, sakit karena minuman keras, sakit karena bagate. Sungguh menyedihkan. Saya melihat tawuran anak muda, begitu berani mengeluarkan benda-benda tajam. Begitu berani berhadap-hadapan untuk saling melukai. Begitu kuatnya perseteruan kelompok. Ternyata awalnya dari bagate. Saya mulai kehabisan kata-kata. Mana efek baik dari bagate itu? Solidaritas? Kejujuran? Keberanian?. Kalau solidaritas untuk melukai diri sendiri saya setuju. Kalau keberanian untuk membunuh sahabat sendiri saya juga setuju. Kalau kejujuran untuk melukai hati keluarga, saya segera menganggukan kepala. Tapi kalau demikian adanya, ungkapan yang keluar dari hati sejak saya kecil tentang bagate kembali muncul: “saya tidak habis pikir!”
Saya mulai mencari referensi dimana-mana. Mungkin saja ada pihak yang menganjurkan mabuk dan bagate. Saya bertemu dengan ahlinya kesehatan. Para dokter tak satupun yang setuju atau setidaknya mendukung walau dengan sedikit alasan saja. Malah dengan nada kesal mereka sering kali kecewa dengan cara hidup masyarakat yang senang bagate. Kata mereka: itu menyakiti diri sendiri. Saya bertemu dengan para rohaniwan. Sumber moral dan etika yang mulia di bumi ini. Ah, mungkin dari mereka ada alasan yang bisa membenarkan perilaku bagate, ada doktrin yang bisa membuat mereka ‘mengimani’ bagate. Tapi tidak! Ternyata tidak. Malah ajaran kebenaran Sang Khalik ini mengungkapkan sebaliknya. Referensi untuk menghilangkan bagate banyak sekali dalam Kitab Kudus Agama-agama. Tapi untuk mendukungnya, sama sekali nihil. Saya beralih untuk bertanya pada keluarga, orang tua, istri, anak bahkan beberapa suami. Mereka lebih lagi menolaknya. Menghabiskan uang, menyakiti tubuh, menimbulkan pertengkaran dan kekerasan rumah tangga, kata mereka. Kesabaran saya mulai habis. Tinggal satu lagi tujuan terakhir. Pihak keamanan. Bapak dan ibu Polisi. Saya menuju ke Kepolisian. Mereka yang lebih tahu efek bagate. Siapa tahu tak ada masalah sehingga mereka tak melarangnya. Bergegas ke sana, langkah kaki saya tiba-tiba terhenti tepat di jalan di depan gedung, di beberapa kantor Polisi yang sama. Sebuah poster terpampang menarik, lengkap dengan warna-warni sebagai “eye catching”. Tapi bukan itu yang membuat saya tertarik. Tapi tulisannya: BRENTI JO BAGATE! Besar sekal tertulis di sana.Lengkap pula dengan gambar-gambar ilustrasi tapi sesungguhnya juga fakta yang memperlihatkan akibat buruk bagate. Ingat, akibat buruk! Bukan akibat baik atau yang lain. Oh, mereka yang setia mengamankan rakyat pun ternyata menolak perilaku bagate. Mereka yang harus terlibat dengan efek buruk bagate itu pun ternyata membenci perilaku bagate. Polisi dan Pemerintah pun bilang: BRENTI JO BAGATE!
Segera dada ini terasa lega. Lega karena pemahaman saya selama ini benar. Tak ada yang baik dari bagate. Tak ada yang menarik dari bagate. Alasan solidaritas dan kebersamaan itu bohong belaka. Yang ada hanyalah gengsi belaka. Yang ada hanyalah akibat buruk. Yang ada hanyalah jembatan menuju kematian. Tak ada satupun yang baik mendukungnya, bahkan institusi berwenang melarangnya. Keluarga-keluarga yang bahagia malah membencinya. Saya tak habis pikir. Mengapa banyak orang menyukainya. Mengapa orang memberinya banyak nama julukan. Seharusnya kita malu menyebutnya dengan banyak gelar. Seakan-akan kita mempopulerkan dia. Seakan-akan kita mendukung keberadaanya. Jadi, kembalikan hak istilah ‘bagate’, itu untuk permainan layang-layang yang saling adu kuat dan untuk membangun sportifitas. Kembalikan istilah “ba pancing” pada porsinya yaitu mengambil sesuatu dengan kail. Kembalikan semua hak-hak benar dari kata-kata itu. dengan kata lain juga, kembalikan kehidupan yang baik dan bersih dari bahaya bagate.
Tak ada baiknya, tak ada pula yang mendukungnya. Tak ada faedahnya, buruk pula akibatnya. Maka tak ada alasan menyukainya. Kalau demikian, tak ada alasan yang dapat menahan kita untuk bergandengan tangan sebagai keluarga, masyarakat, pemuka agama, pemerintah, pihak keamanan untuk berkata dengan keras saat ini: BRENTI JO BAGATE! Semoga demikian. Damai dan tenteram masyarakat kita tanpa harus BAGATE!