Community
Rela Tidak Tidur Kejar Tahanan Kabur
TANGGAL 11 Agustus 2012, menjadi kabar buruk bagi seluruh petugas Rumah Tahanan Klas II A Manado.
Laporan Wartawan Tribun Manado Robin Tanauma
Nama Lengkap: Yulius Paath S.IP DEA
TTL: Surabaya, 18 juli 1969,
Posisi/Jabatan: Kepala Rutan Klas IIA Manado
Motto: Keberhasilan merupakan akumulasi upaya orang lain dalam membantu kita, bukan semata-mata karena kemampuan kita sendiri.
Nama Lengkap: Sonny Abram Gumansalangi
TTL: Kotamobagu, 6 Maret 1963
Posisi/Jabatan: Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (Ka KPR)
Motto: Kewaspadaan Kekompakan Dalam Melaksanakan Tugas.
Nama Lengkap: Ronly I Balderas
TTL: 26 November 1979
Posisi/Jabatan: Staf KPR/P2U (Pengamanan Pintu Utama)
Motto: Pekerjaan Akan terasa berat apabila kita merasa hal itu sulit untuk dilaksanakan.
TANGGAL 11 Agustus 2012, menjadi kabar buruk bagi seluruh petugas Rumah Tahanan Klas II A Manado. Tiga orang berstatus tahanan dan narapidana berhasil melarikan diri dari pengawasan petugas keamanan.
Doan Fablo Alfonsus Togelang alias Opo (32), Warga Kelurahan Singkil Dua, Lingkungan III, Kecamatan Singkil, Manado (SMP tidak tamat), Kasus Perlindungan Anak, Pasal 81 ayat 2 UU No 23 tahun 2002, Status tahanan Pengadilan Negari Manado.
Kemudian, narapidana Andre Alfari alias Utu (18), Warga Kelurahan Mahakeret Barat, Lingkungan I, Kecamatan Wenang, Kota Manado, Pekerjaan Pemulung (SD), Status tahanan sudah ada putusan pengadilan tanggal 26 April 2012, Pidana 10 tahun penjara
Serta narapidana Alfons Makarawung alias Apong (31), Warga Desa Klabat, Jaga III, Kecamatan Dimembe, Minut, pekerjaan swasta, SD tidak tamat, Putusan PN Airmadidi, tanggal 1 Agustus 2012, Dieksekusi JPU Kejari Airmadidi tanggal 8 Agustus 2012.
Ketiganya kabur dengan perencanaan yang tersusun, mereka menggunakan potongan kain dan sprei yang dijadikan tali untuk panjat dan turun dari tembok, memanfaatkan palfon ruang tipikor kemudian menyeberang ke blok tahanan umum yang ujungnya sudah berbatasan langsung dengan tembok pertama.
Dari situ ketiganya tinggal mengaitkan tali dari sprei dan kain untuk turun, selanjutnya tali itu digunakan kembali untuk memanjat tembok terakhir yang lebih tinggi dari tembok pertama, kemudian mereka turun kembali dari tembok terakhir dan kabur melewati sungai hingga tembus di kawasan ring road.
Kelemahan pengawasan pos jaga, memang benar-benar diandalkan ketiga buronan ini. Ketiganya kabur langsung diketahui oleh petugas setelah melakukan apel malam.
Kepala Rutan, Yulius Paath Sip DEA, langsung mengaktifkan kembali tim Sigap (sisir, sergap, tangkap), untuk memburu mereka yang melarikan diri.
Berbagai cara usaha dan pengorbanan diberikan oleh tim Sigap dalam usaha perburuan. Dua anggota tim Sigap pun langsung diberangkatkan ke Balikpapan untuk mengecek keberadaan salah satu buronan.
Bahkan dalam penyisiran pencarian buronan lainnya, tim Sigap rela tidak tidur baik selama beberapa hari, menyusuri perkebunan desa dengan banyak tantangan hanya untuk memburu buronan.
Hendra Balowahani juga menceritakan bagaimana ia beserta anggota tim karena lapar dan tak sempat membawa makanan, terpaksa mereka hanya mengandalkan makan buah pepaya agar perut tidak kosong.
"Waktu itu kita di kaki gunung Klabat sedang mengejar keberadaan buronan," ungkapnya.