Tribun Manado road to Jerman
Tribun Manado Laku 1 Eksemplar di Katedral Koln
Pertama kali menginjakkan kaki di Katedral Koln di Jerman, dada langsung terasa sesak.
Tayang:
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
Laporan Wartawan Tribun Manado Anthonius Iwan Adhipraja dari Jerman
Pertama kali menginjakkan kaki di Katedral Koln
di Jerman, dada langsung terasa sesak. Kemegahan katedral ini membuat rasa tremendous dan fascinocum (bergetar dan terkagum) menyeruak.
Atap katedral menjulang tinggi hingga 157 meter, ditambah
dengan liak-liuk arsitektur gothic membuat katedral ini benar-benar menjadi
magnet puluhan ribu orang dari seantero jagad.
Katedral yang juga sekaligus makam 3 orang majus
ini rata-rata dikunjungi 20 ribu orang setiap harinya. Inilah landmark Jerman
yang paling banyak menyedot wisatawan. Jika berkesempatan pergi ke Jerman, akan
sangat rugi rasanya melewatkan katedral yang pembangunannya memakan waktu 600
tahun ini.
Dibangun mulai tahun 1248, Katedral Koln mampu bertahan
dan berdiri tegak hingga sekarang. Pada masa perang dunia dua, katedral ini
dihujani 70 bom. Sementara bangunan di sekitarnya rata dengan tanah, dua menara
kembar katedral masih berdiri tegak.
Sebagian berpendapat, dua menara kembar digunakan
sebagai navigasi bagi pesawat-pesawat tempur musuh sehingga sengaja tidak
dihancurkan.
Kegiatan kunjungan ke Katedral Koln ini bagian
dari seminar internasional Civil and Human Right yang diadakan oleh Friedrich
Naumann Stiftung di Gummersbach Jerman, 9-21 September 2012.
Selain mengunjungi katedral, para peserta seminar
juga dimanjakan dengan pusat-pusat perbelanjaan di sekitar katedral. Soal infrastruktur
dan tata kota, kemampuan Pemerintah Jerman memang tak perlu diragukan lagi. Bisa
dibayangkan, katedral ini berada di satu kompleks yang luas, berpadu dengan
pusat perbelanjaan dan stasiun kereta dan Anda akan sangat sulit menemukan satu
sampah plastik berserakan, bahkan puntung rokok sekalipun.
Keramaian pengunjung di depan katedral membuat
saya tergoda untuk iseng menjajakan koran Tribun Manado. Tentu saja sesuatu
yang sebenarnya tak masuk akal, tapi bagaimanapun itu, keinginan sudah terlalu
kuat.
Pada kesempatan pertama saya mengangkat koran
Tribun Manado tinggi-tinggi, tak ada yang mempedulikan. Hal yang sama terjadi
ketika saya sedikit berpindah tempat. Tak berapa lama, datang seorang pemuda
dengan rambut pirang menghampiri saya. “Apa ini,” tanyanya dalam bahasa Inggris.
Saya kemudian menjelaskan bahwa saya adalah seorang jurnalis dan sedang
menjajakan koran saya dari Indonesia.
Dia tampak tertarik dan tersenyum-senyum ketika
melihat-lihat halaman demi halaman koran Tribun Manado. Setelah menunjukkan
mimik ekspresi berpikir, dia pun memutuskan untuk membeli. “Can I have one (bolehkah
saya minta satu),” tanyanya. “Tentu saja,” jawab saya dalam bahasa Inggris.
Transaksi pun terjadi, saya memberikan satu
eksemplar koran Tribun Manado dan dia memberikan saya 2 pesos. “Saya dari
Argentina,” ujarnya. Kami berdua pun kemudian tertawa terbahak-bahak.
Ya, pria dari Argentina itu bernama Adam Dubove. Bukan
orang asing bagi saya karena kami berdua sama-sama peserta seminar. Adam tertarik
dengan tingkah saya di depan katedral mengacung-acungkan koran. “Koranmu sangat
menarik, aku ingin membawanya pulang ke Argentina,” tuturnya. (anthonius iwan
adhipraja)