Tribun Manado road to Jerman
Nasi di Jerman Keras, tapi Ketjap Manis Banyak Digemari
Peter Baumgartner tersenyum ketika ditanya soal rasa nasi di negaranya.
Tayang:
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
Laporan Wartawan Tribun Manado Anthonius Iwan Adhipraja dari
Jerman
Peter Baumgartner tersenyum ketika ditanya soal rasa nasi di
negaranya. Sebagai orang Jerman, dia mengakui lidah orang Asia akan sulit
menerima masakan nasi. “Ya, begitulah cara orang Jerman menyajikan nasi,”
katanya diikuti tertawa.
“Nasi di sini disajikan secara kering, airnya kurang dan
bentuknya besar-besar, tentu berbeda dengan cara orang Asia menyajikan nasi
yang lebih berair dan lebih empuk,” tambahnya.
Perbincangan soal makanan ini muncul di sela-sela makan
bersama acara Seminar Civil and Human Right yang diadakan oleh Lembaga
Friedrich Naumann Stiftung di Gummersbach, Jerman, 9-21 September 2012.
Selain soal nasi, menarik mengetahui bahwa orang Jerman
ternyata gemar menaruh kecap manis di makanannya. Ya, kecap manis, bahkan kadang
ditulis dengan ejaan lama “ketjap manis”. Di banyak dapur di setiap keluarga di
Jerman terdapat kecap manis.
Saya pertama kali menemukan tulisan “ketjap manis” (ditulis
dengan tangan) di ruang makan Theodor-Heuss Akademi, tempat kami melakukan
seminar. Terkejut menemukan tulisan Indonesia di sebuah tempat “antah berantah”
di Jerman, saya langsung bertanya kepada petugas dapur. Namanya Dalma,
kemampuan bahasa Inggrisnya tak begitu bagus, tapi dia tampak semangat menjawab
pertanyaan saya. Dalam bahasa Inggris saya bertanya kepadanya, kenapa barang “ketjap
manis” itu ada di dapurnya.
Dia meminta saya menunggu beberapa saat sebelum kemudian dia
setengah berlari menuju suatu tempat di bagian dalam. Tak berapa lama Dalma
kembali dan menunjukkan botol bertuliskan “sambal manis”. Dengan bahasa isyarat
dia mengatakan bahwa apa yang tersaji di meja makan berasal dari botol “sambal
manis” yang dia pegang.
Masih tak merasa puas tentang asal-usul kecap manis, saya
pun bertanya kepada moderator seminar Dr Stefan Melnik. “Jawabannya sederhana
itu masalah globalisasi. Ya kita tahu Belanda menjajah Indonesia selama tiga
abad. Bangsa Eropa mencari rempah-rempah hingga Indonesia, termasuk juga mereka
mendapatkan cengkih di Indonesia. Saya juga punya seperti itu di rumah. Ya, ini
berkaitan dengan globalisasi,” tuturnya. (anthonius iwan adhipraja)