Rabu, 10 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tribun Manado road to Jerman

Nasi di Jerman Keras, tapi Ketjap Manis Banyak Digemari

Peter Baumgartner tersenyum ketika ditanya soal rasa nasi di negaranya.

Tayang:
Penulis: | Editor: Andrew_Pattymahu
zoom-inlihat foto Nasi di Jerman Keras, tapi Ketjap Manis Banyak Digemari
TRIBUNMANADO/ANTHONIUS IWAN

Laporan Wartawan Tribun Manado Anthonius Iwan Adhipraja dari Jerman
 
Peter Baumgartner tersenyum ketika ditanya soal rasa nasi di negaranya. Sebagai orang Jerman, dia mengakui lidah orang Asia akan sulit menerima masakan nasi. “Ya, begitulah cara orang Jerman menyajikan nasi,” katanya diikuti tertawa.

“Nasi di sini disajikan secara kering, airnya kurang dan bentuknya besar-besar, tentu berbeda dengan cara orang Asia menyajikan nasi yang lebih berair dan lebih empuk,” tambahnya.

Perbincangan soal makanan ini muncul di sela-sela makan bersama acara Seminar Civil and Human Right yang diadakan oleh Lembaga Friedrich Naumann Stiftung di Gummersbach, Jerman, 9-21 September 2012.

Selain soal nasi, menarik mengetahui bahwa orang Jerman ternyata gemar menaruh kecap manis di makanannya. Ya, kecap manis, bahkan kadang ditulis dengan ejaan lama “ketjap manis”. Di banyak dapur di setiap keluarga di Jerman terdapat kecap manis.

Saya pertama kali menemukan tulisan “ketjap manis” (ditulis dengan tangan) di ruang makan Theodor-Heuss Akademi, tempat kami melakukan seminar. Terkejut menemukan tulisan Indonesia di sebuah tempat “antah berantah” di Jerman, saya langsung bertanya kepada petugas dapur. Namanya Dalma, kemampuan bahasa Inggrisnya tak begitu bagus, tapi dia tampak semangat menjawab pertanyaan saya. Dalam bahasa Inggris saya bertanya kepadanya, kenapa barang “ketjap manis” itu ada di dapurnya.

Dia meminta saya menunggu beberapa saat sebelum kemudian dia setengah berlari menuju suatu tempat di bagian dalam. Tak berapa lama Dalma kembali dan menunjukkan botol bertuliskan “sambal manis”. Dengan bahasa isyarat dia mengatakan bahwa apa yang tersaji di meja makan berasal dari botol “sambal manis” yang dia pegang.

Masih tak merasa puas tentang asal-usul kecap manis, saya pun bertanya kepada moderator seminar Dr Stefan Melnik. “Jawabannya sederhana itu masalah globalisasi. Ya kita tahu Belanda menjajah Indonesia selama tiga abad. Bangsa Eropa mencari rempah-rempah hingga Indonesia, termasuk juga mereka mendapatkan cengkih di Indonesia. Saya juga punya seperti itu di rumah. Ya, ini berkaitan dengan globalisasi,” tuturnya. (anthonius iwan adhipraja)

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved