Kebersihan
Wow, 'Bank Sampah' SMA 7 Beromzet Jutaan Rupiah
Pengelolaannya Bank SMA 7 diatur seperti bank pada umumnya.
Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Pengelolaannya Bank SMA 7 diatur seperti bank pada umumnya. Wakil Kepala Sekolah bidang Pengembangan Lingkungan Hidup mengatakan kepada Tribun Manado Selasa (11/9/2012), Arther Rarung mengatakan struktur kepemimpinan layaknya sebuah bank. Di sana ada Direktur Utama, Direktur Operasional, Koordinator Pemasaran, Kordinator Pelayanan dan kasir. Hanya memang jabatan-jabatan ditambah dengan Penanggungjawab, Divisi Penerimaan Barang, Divisi Penimbangan, Divisi Pencatatan dan Divisi Penjualan. Bahkan kasirnya dipilih yang cantik seperti mereka yang berada di bank-bank.
Direktut Utama Bank Sampah iniberkisah semua ini bermula dari keinginan SMA 7 untuk meraih piala Adiwiyata. Mereka kemudian studi banding di Jakarta untuk membuat terobosan baru sesuai dengan syarat Adiwiyata. Mereka ke Jakarta bulan Maret tahun 2012. "Kami mewakili satu produk otomotif ternama untuk studi banding tentang lingkungan di Jakarta. Saya menemukan Bank Sampah sebagai kreativitas baru. Jadi saya kemudian mengatakan ini kepada semua yang ada di sekolah dan mereka setuju,"tutur Ather.
Pihak sekolah kemudian menghubungi Badan Lingkungan Hidup Kota Manado dan setelah disetujui oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Manado, pembuatan Bank Sampah itu disosialisasikan kepada siswa. Mereka kemudian menyiapkan bahan-bahan. "Untuk sampah awal sudah ada karena kami ada pemilahan sampah di SMA 7. Juga ada program kompos. Kami kemudian bekerja bersama para tukang untuk menyelesaikan bangunan Bank Sampah ini. Biaya yang dihabiskan Rp 5 juta. Semua memakai uang komite,"ujarnya.
Prosedur pemasukan sampah ialah melalui pemilahan sampah di kelas-kelas. Sampah itu kemudian di bawah ke kasir. Kemudian kasir akan mencatatnya."Ia akan membawanya ke tempat penyortiran. Setelah itu sampah akan ditimbang dan kemudian dicatat. Setelah itu nasabah akan mendapat uang,"ujar Arther.
Harga untuk satu kilogram kaleng Rp 6 ribu. Untuk kertas satu kilonya Rp 1500. Untuk botol yang besar harganya Rp 200. Sedangkan botol yang kecil itu harganya Rp 100. "Untuk kaleng, kami mengambil untung Rp 2 ribu per kilo. Untuk kertas Rp 2 ratus. Untuk botol yang besar, kami mengambil untung Rp seratus. Sedangkan untuk yang kecil Rp 50," imbuhnya.
Target sekolah ini menurut Arther ialah mendapatkan piala Adiwiyata. Sekolah juga bisa bersih dan keuntungan yang didapat bisa dua kali lipat dari yang didapat bulan Agustus yang lalu.
Koordinator Pemasaran, Rolandi Langinusa (16) yang juga siswa kelas XII IPA IV SMA Negeri 1 mengatakan ia mencari bertugas mencari nasabah. Kesulitan yang dialaminya ialah calon nasbah yang mau menyerahkan botol, kaleng, kertas dan daun untuk dijual ke Bank Sampah kadang sangat cuek. "Kami harus menjadi seperti marketing memasarkan barang. Dalam waktu dekat jika kami go public dengan meminta masyarakat juga menjual sampah mereka ke kami, kami akan mengadakan tindakan promosi dengan menyebarkan poster dan lain sebagainya,"kata Rolandi.
Kasir cantik Prisilia Sundah (17), siswi kelas XII IPA 1 mengatakan ia bertugas menerima sampah dari nasabah. Sampah itu kemudian diberikan kepada yang menimbang. Ia pun membuat catatan rekening dan menulisnya pada buku tabungan nasabah. "Saya harus bisa mengatur keuangan walaupun saya memiliki dasar ilmu IPA. Saya juga harus mengurus buku besar, buku kas dan buku rekening lainnya,"ujar Prisilia
Gilbert Polii (15), siswa kelas XI IPA dari Divisi Penimbangan mengatakan ia harus membagi sampah-sampah itu setelah disortir untuk ditimbang. Ini untuk mengetahui tidak ada sampah palsu atau diluar ketentuan. Alfian Matei mengatakan Divisi Penimbangan banyak anggotanya. Mereka bergiliran untuk menimbang.
Bank Sampah memang menjadi sebuah usaha kreatif. Bank Sampah menghasilkan keuntungan. Juga bisa mengubah mentalitas orang Manado yang suka buang sampah sembarangan.