Hubungan
5 Alasan Putus Cinta Lebih Berat buat Pria
Apa yang terjadi ketika pria dan wanita putus cinta? Wanita mungkin akan menangis selama berhari-hari,
Profesor Robin Simon, pemimpin penelitian dari Wake Forest University, Amerika, tersebut, mengaku terkejut dengan hasilnya. Maklum, selama ini perempuan lah yang dinilai lebih rapuh dalam menghadapi perpisahan. "Secara mengejutkan, kami mendapati bahwa pria lebih reaktif terhadap kualitas hubungan yang sedang berjalan," paparnya. Itu artinya, kesehatan mental pria jauh lebih terpengaruh oleh stres akibat hubungan yang sulit.
Bila pria lebih sulit mengatasi masa-masa putus cinta, hal itu sebenarnya dikarenakan beberapa hal berikut:
Mereka menekan perasaannya
Ada
beberapa hal yang membuat perempuan lebih mudah memulihkan diri ketika
patah hati. Kita cenderung meminta kejelasan dari kekasih secara
langsung mengenai status hubungan kita, dan ketika dinyatakan putus,
kita bisa menangis sejadi-jadinya kapan saja kita mau. Selain itu,
perempuan biasanya memiliki jejaring yang luas untuk dijadikan sandaran
ketika sedang patah hati. Kita akan berlari kepada teman-teman atau
keluarga, dan mendapatkan penghiburan dari mereka (sambil dibela bahwa
kekasih memang brengsek).
Sebaliknya, pria cenderung menekan perasaan mereka sehingga terpaksa mengatasi patah hati seorang diri di kamarnya. Sebab ketika masih menjalani hubungan, pria bergantung pada pasangannya untuk mendapatkan keintiman emosional dan dukungan sosial. Hal ini tentu membuatnya lebih sulit menyembuhkan diri.
Kehilangan tempat untuk "pulang"
Pria
juga lebih sulit mengatasi putus cinta karena selama ini mereka selalu
memandang kekasih mereka sebagai "rumah". Ketika hubungan terputus, pria
tak hanya merasa kehilangan perempuan yang dicintainya, tetapi secara
emosional juga kehilangan tempat untuk "pulang". Tidak heran ketika
patah hati, pria biasanya juga mengalami problem kesehatan yang parah.
Pria-pria yang baru bercerai, menurut berbagai studi, mengalami fungsi
kekebalan tubuh yang lebih rendah daripada saat menikah. Inilah yang
menyebabkannya mudah sakit.
Seks membuat pria dan wanita saling terikat
Bohong
kalau ada yang bilang bahwa pria bercinta hanya karena kebutuhan
biologis. Mereka pun membutuhkan sisi emosional saat melakukannya.
Ketika bercinta, tubuh melepaskan hormon oksitosin dan vasopresin pada
otak pria dan wanita. Vasopresin lah yang membantu pria terikat pada
Anda. Bila berada di bawah pengaruh vasopresin, pria akan membentuk
bonding dengan Anda. Aroma tubuh Anda, wangi rambut Anda, bahkan wangi
sabun mandi Anda akan selalu mengingatkan dia pada Anda. Tanpa sadar ia
akan mulai memandang Anda sebagai "rumah" yang mengikatnya. Dan, pada
sebagian pria, inilah yang membuat mereka bersifat posesif terhadap
pasangannya.
Ia ketagihan dengan cinta Anda
Bagi
sebagian kecil pria, seks memang membuat mereka kecanduan. Namun bagi
sebagian besar yang lain, cinta lah yang membuat ketagihan. Gairah bisa
saja memudar seiring berjalannya waktu, namun rasa sayang lebih sulit
dihilangkan. Ketika mengingat kekesalan-kekesalannya pada Anda, atau
kekurangan-kekurangan Anda, ia merasa lega karena terbebas dari hubungan
yang dijalaninya. Namun ia merasa jauh lebih sengsara ketika mengingat
kelebihan-kelebihan Anda. Tidak lagi mendapatkan sifat Anda yang selalu
memerhatikan, mengasuh, atau mengurus berbagai keperluannya, akan
meninggalkan rasa kehilangan yang amat sangat. Ia kehilangan keuntungan
emosional yang didapatkan dari aspek-aspek positif dari hubungannya
dengan Anda.
Ketegangan dalam hubungan juga menimbulkan kondisi emosional yang lemah karena hal itu mengacaukan identitas dan perasaan berharga dalam diri mereka. Mereka merasa terluka, marah, sekaligus dipermalukan (jika Anda yang memutuskan mereka).
Mereka tak suka memulai dari awal lagi
Banyak
pria yang setelah putus terlihat langsung dekat dengan beberapa
perempuan. Jangan salah, ia memang terkesan mudah mencari pengganti
Anda, namun sebenarnya hal itu hanya merupakan pelarian saja. Ia ingin
membuktikan bahwa ia baik-baik saja tanpa kehadiran Anda.
Namun setelah beberapa kali berkencan (mungkin dengan beberapa wanita yang berbeda), ia akan segera menyadari bahwa butuh waktu lama untuk mencapai tingkat kenyamanan seperti yang didapatkannya dari Anda. Ia merindukan keintiman dari hubungannya yang sudah berakhir. Sayangnya, menurut riset dari Carnegie Mellon University, pria sering terlambat menyadari bahwa keintiman sosial, seksual, dan intelektual semacam itulah yang menjadi fondasi dari hubungan yang bertahan lama. Jadi, bukan sekadar sisi seksualnya.