DPD RI

Marhany Selalu Bangga Diberi Tugas 'Pulang Kampung'

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Ir Marhany Victory Poli Pua MA mengaku selalu bangga j

Sosialisasi Empat Pilar RI kepada Mahasiswa Lintas Agama

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Ir Marhany Victory Poli Pua MA mengaku selalu bangga jika diberi mandat oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bertugas di Sulawesi Utara (Sulut). Bukan saja karena ia bisa pulang kampung. Lebih dari itu, ia bisa melihat dan terlibat dalam proses mewujudkan kerukunan umat beragama.

"Cuma di Sulut semua pemeluk agama bebas menyatakan keyakinannya," kata Marhany saat menjadi pemateri dalam Seminar 4 Pilar Kehidupan Bangsa, Konsolidasi Demograsi dan Jatidiri Bangsa Perubahan Kelima UUD 1945 di aula Kanwil Kemenag Sulut, Sabtu (9/9).

Ia mencontohkan, hanya di Sulut, semboyan salam semua agama disebutkan kala membuka acara publik atau bersifat formal. Semboyan salam dimaksud, Assalam Mualaikum WBR (Islam), Syalom, salam sejahtera (Kristen), Om swastyastu (Hindu), Namo buddhaya (Buddha), dan Wei te tong thian. "Pengalaman saya bertugas di daerah lain, hanya tiga saja yang disebutkan, dua terakhir tidak," jelasnya.

Ia menjelaskan, sosialisasi empat pilar bangsa, Pancasilan sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusi, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyang bangsa perlu terus menerus dilakukan. "Ancaman terhadap negara dengan resiko perpecahan terus datang silih berganti, karena itu, kita sebagai perangkat negara perlu mengingatkan dalam berbagai cara akan empat pondasi utama ini yang sudah jadi harga mati," jelasnya.

Ia menjelaskan pengalamannya sewaktu studi banding ke negara-negara pecahan Yugoslavia yang kini tinggal nama. Menurutnya, berdasarkan hasil studi DPD RI, Yugoslavia cerai berai karena tak bisa mempersatukan keberagaman etnis, agama, dan  budaya.  "Sangat disayangkan, negara begitu besar bisa hilang. Kroasia, mayoritas Katolik, Serbia Kristen Ortodok, dan Bosnia Hervegovia mayoritas Muslim. Baru-baru, Montenegro dan Makedonia juga memisahkan diri," jelasnya.

Pdt Dr Nico Gara, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulut menilai, bicara empat pilar bangsa tak bisa dilepaskan dari fakta, NKRI sebagai rumah bersama warga negara yang berasal dari beragam suku, agama ras dan budaya. "Karena itu negara harus melindungi segenap warganya. Cara paling hakiki, yakni menerapkan keadilan sosial sebenar-benarnya," jelasnya.

Gembala Teddysius Batasina, Wakil Ketua FKUB menambahkan, pada dasarnya empat pilar bangsa, khususnya idealismenya sangat baik dan mulia. Persoalannya pada implementasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. "Warga negara yang menjalankannya saja yang menerapkan tak sesuai yang seharusnya," ujar Ketua Pucuk Pimpinan KGPM tersebut.

Seminar ini diikuti perwakilan mahasiswa lintas agama Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Seminari Pineleng, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Manado, para tokoh agama, pemuda GMIM, GMIBM, KGPM dan FKUB. "Seminar seperti ini berlangsung setahun sekali oleh DPD RI dan kebetulan Sulut dapat giliran," kata Marhany Pua.(ndo)

Penulis: Fernando_Lumowa
Editor: Andrew_Pattymahu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved