Bantuan Sosial
Kakek Ini Menangis Terharu
Naji (58) warga Desa Mandiri, Kecamatan Morotai Selatan ini, tak mampu menahan air mata.
Naji mengaku terharu karena sudah lama ia mendambakan sebuah kacamata. Maklum, kakek bercucu 5 ini mengalami rabun dekat sehingga tidak bisa membaca. Sebagai nelayan, sehari-hari ia hanya mencari ikan di laut untuk kebutuhan keluarganya. Untuk membeli sebuah kacamata, bagi Naji merupakan hal yang paling mewah.
"Saya sangat bersyukur karena bisa dapat kacamata gratis. Tuhan memang Maha Adil," ucap Naji usai menerima kacamata gratis dari tim medis yang beropeasi di gedung SMAN 1 Morotai.
Sebelum menerima kacamata gratis itu, Naji sempat diperiksa kesehatan matanya oleh tim medis. Mereka menyimpulkan Naji mengalami rabun dekat sehingga perlu menggunakan kacamata. Ia pun diberikan sebuah kacamata bergagang logam berwarna hitam. Kacamata itu dipakainya dan tidak pernah dibuka saat keluar dari ruang pemeriksaan meski gagang kacamaanya masih terikat label perusahan pembuat kacamata. Ia baru membuka kacamatanya saat ngobrol bersama Kompas.com.
Naji tak mampu menahan rasa haru saat ditanya seperti apa perasaannya saat menerima kacamata gratis itu. Air matanya pun menetes menelusuri kacamata yang masih baru itu. "Saya tidak bisa bayangkan dapat kacamata gratis. Karena sudah lama saya ingin beli tapi tidak ada duit," ungkapnya.
Awalnya dia ke ibukota Daruba itu dengan menempuh kendaraan umum berjarak kurang lebih tujuh kilometer untuk memeriksa matanya. Karena dia tidak menyangka akan diberikan kacamata gratis. Untuk tujuan berobat saja, ia rela ke Daruba sejak pagi buta. "Karena saya tahu orang yang akan datang berobat pasti banyak makanya saya datang sejak pagi gelap tadi ke Daruba," ujarnya.
Tak disangka, upayanya itu justru memberikan kebahagiannya yang lebih dari harapannya yakni mendapat kacamata gratis setelah menjalani pemeriksaan gratis. Berkali-kali Naji mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam Operasi Bhakti Pelangi Nusantara. Sebab melalui operasi ini, ia mendapat sebuah kacamata.
Dia malah menyesalkan kegiatan pengobatan gratis itu hanya berlangsung dua hari. Sebab dia punya keinginan untuk membawa istrinya untuk berobat. "Tapi mungkin sudah tidak bisa lagi karena besok sudah selesai. Apalagi istri saya kalau berjalan jauh juga mungkin tidak mau karena sudah tua," tutur Naji.