Kebersihan
Soal Sampah, Kisah Anak SD yang Bikin Geleng Kepala
Aduhhhh ini anak kenapa buang sembarangan, lalu apa gunanya seharian bersihkan sampah di laut.
Penulis: | Editor:
ANGELIQUE Batuna, aktivis lingkungan memiliki kisah menarik, ada rekan yang memiliki dive center dan membawa murid-murid sekolah dasar untuk bersihkan pulau. Setelah beberapa jam membersihkan Pulau Siladen memungut semua sampah-sampah plastik, ketika beristirahat dan minum dari minuman kemasan, secara spontan botol bekas minuman tersebut langsung dibuang ke laut. "Aduhhhh ini anak kenapa buang sembarangan, lalu apa gunanya seharian bersihkan sampah di laut, itu kata teman saya. Ini menunjukkan anak-anak dari tingkat dasar saja sudah terbiasa untuk membuang sampah, maka perlu diberi penyadaran secara terus menerus mulai dini," tegasnya.
Sherpa Manembu, Ketua Komisi III DPRD Sulut juga menyatakan hal senada. Bagaimanapun proses pengolahan sampah bila tak disertai dengan kesadaran masyarakat sama saja bohong. "Tetap nanti pada lokasi akhir di mana sampah itu berhenti. Perlu dikampanyekan kesadaran dalam membuang sampah," jelasnya. Setiap turun ke masyarakat ia mengaku selalu memberikan imbauan agar warga memerhatikan sampah jangan dibuang sembarangan.
Berbeda dengannya, Wakil Ketua DPRD Sulut Arthur Kotambunan mengatakan persoalan sampah menjadi masalah klasik, namun perlu penanganan yang tepat. Plastik sebagai masalah utama ia ibaratkan seperti rokok yang menjadi candu. "Selama ini semua orang tahu rokok itu berbahaya, bahkan mengganggu kesehatan tapi tak ada larangan rokok karena tahu kalau pajak rokok itu besar," katanya. Sama, penggunaan kantung plastik seperti candu karena murah, mudah dan praktis tak terhindarkan, tinggal bagaimana pengolahan sampahnya.
Ada beberapa supermarket yang menurutnya telah menggunakan plastik yang mudah diurai itu sangat membantu dan paling tidak bisa diterapkan di Sulut agar lebih ramah bagi lingkungan. Ia tak memungkiri sekarang banyak negara yang mendengungkan soal ramah lingkungan.
Pengolahan Sampah dan Perda
Kotambunan juga menyinggung kabupaten/ kota terutama Kota Manado tentang pengolahan sampahnya. Ia bahkan mendapat info banyak negara yang siap membantu pengolahan sampah dengan sistem investasi. "Ada dari Argentina, Belanda atau Swiss mereka memiliki teknologi canggih tinggal pilih," ujarnya. Ada alat yang bisa memilah sampah sendiri kemudian yang organik jadi pupuk kompos sementara untuk yang lainnya menjadi bahan baku daur ulang.
Berbeda tentang pengolahan, Victor Mailangkay justru menoroti terkait perda yang mengatur. Ketua Badan Legislasi DPRD Sulut yang sedang menggodok beberapa ranperda ini mengatakan perlunya pengaturan tentang sampah plastik perlu ditetapkan melalui perda. "Pengaturan tentang persampahan itu menjadi kewenangan kabupaten/ kota. Contohnya dalam memberikan IMB dan izin menjual harus memenuhi salah satu syarat disamping perlu ada lahan parkir tapi juga penggunaan kantung untuk barang yang terbuat bukan dari bahan plastik tapi yang ramah lingkungan," pungkasnya.