Kamis, 11 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kebersihan

Sampah Plastik Memang Repot

Mau tidak mau, kita manusia tergantung pada plastik untuk berbagai kebutuhan rumah tangga

Tayang:
Editor:

Laporan Wartawan Tribun Manado Robin Tanauma

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Mau tidak mau, kita manusia tergantung pada plastik untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Masalahnya adalah, kita kurang bijak untuk membuang atau menempatkan limbah plastik pasca dipakai dan itu berhubungan dengan perilaku dan kebiasaan.

Hal tersebut diungkapkan Roy Pangalila, sebagai pemerhati lingkungan dan juga tegabung dalam WWF untuk Indonesia sebagai Coordinator Bunaken Project, pada Tribun Manado, Selasa (28/8)

Diakuinya, Pemerintah Kota Manado sudah ada Perda sampah, namun dalam tataran implementasinya masih sangat mandul dan mekanisme sanksi belum tegas diterapkan.

"Sementara karena pola kebiasaan kita yang kurang bijaksana maka sampah plastik menumpuk di sungai dan akhirnya ke laut," ujar Pangalila

Sampah plastik dibutuhkan waktu antara 50-80 tahun untuk bisa terurai di tanah, tergantung kualitas plastiknya.

"Polyvinyl Chloride itu susah sekali terdaur ulang, misalnya pipa paralon, sementara kalau di air, butuh lebih lama lagi, masa urai plastik bisa 100-450 tahun," jelasnya

Dimana plastik yang terbawa sungai dan masuk ke laut bisa berdampak pada terumbu karang, jika sampah plastik menutupi karang maka karangnya bisa mati secara bertahap, serta berdampak juga dengan hewan laut seperti penyu

"Penyu yang mengira plastik yang terapung atau melayang di air itu adalah ubur-ubur maka dimakan oleh penyu. Akibatnya bisa mati karena tidak bisa diproses di pencernannya," ujarnya

Diperkirakan sekitar 500 milyar - 1 trilyun kantong plastik dipergunakan oleh manusia di seluruh dunia, biasanya banyak dari kita mencoba memusnahkannya dengan dibakar, biar capat habis

"Mar itu meninbulkan efek gas rumah kaca (GRK) dan akbiatnya memicu pemanasan global," kata Pangalila

Menurutnya, penangananan yang bisa dilakuan adalah dengan sistem daur ulang, dan paling banyak didaur ulang yang jenis HDPE (high density polythylene) semacam botol aqua, atau misalnya dijadikan barang lain yang bisa berniai ekonomis

"Hal itu juga yang akan dicoba pada kegiatan Kamis-Jumat lusa, bagaimana mengajarkan masyarakat untuk bisa mendaur ulang sampah plastik jadi laku dijual," ujarnya

Sementara cara lain adalah, dengan menggunakan plastik biodegradable, tapi plastik jenis ini memang agak mahal banding plastik non biodegradable.

Untuk kasus di Manado, ada banyak supermarket atau mall yang semuanya menggunakan tas belanja dari plastik. Mungkin baik jika misalnya pengelola supermarket dan mall itu secara bertahap mengurangi pemaakain plastik untuk tas belanja misalnya menggantinya dengan kantong kertas seperti di negara-negara lain

"Peneliti ikan raja laut dari Jepang kali lalu pernah melihat bahwa di bawah laut sekitaran Teluk Manado sudah menggunung sampahnya terutama sampah plastik, dan ikan ada yg keluar masuk di gundukan sampah itu," ujarnya

Pemkot Manado harus bisa menciptakan regulasi untuk meminimalisir persoalan sampah di Manado ini terutama penggunaan plastik. Semisalnya ada himbauan untuk masyarakat.

Pertama, mungkin baik jika membawa tas sendiri dari rumah ketika berbelanja, kalaupun plastik tidak bisa dihindarkan sama sekali pemakainannya. "Dengan begitu sudah membantu mengurangi plastik," ujarnya.

Lanjut Pangalila, untuk imbauan kedua, gunakanlah yang biodegradable, serta jangan membakar sampah, kecuali dengan menggunakan suhu yang amat tinggi dan diatur proses pembakarannya untuk mengurangi efek gas rumah kaca.

"Kalau mau mengurangi pemakaian sama sekali itu nda mungkin, tapi paling nyanda, sebagai sebuah gerakan mungkin Pemkot bisa mewajibkan, misalnya seminggu sekali, mall tidak menggunakan tas belanja plastik, atau pada hari-hari tertentu," tandasnya. (obi)

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved