Bencana Alam
Korban Longsor Dievakuasi, Sendy Ratapi Jenazah Ibunya
Sepasang mata Sendy (19) seolah tak pernah kering hari itu, Kamis (30/8/2012).
Penulis: Arthur_Rompis | Editor:
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Sepasang mata Sendy (19) seolah tak pernah kering hari itu, Kamis (30/8/2012). Pandangannya terus tertuju pada sebuah peti mati di mana jasad sang ibu, Grace Kaat di letakkan. Seolah ingin meraih momen terakhir sebelum peti itu di tutup, mata itu terus tertuju pada ibunda tersayang.
Sendy, ingat saat kejadian, ia sempat melewati rumah itu dan melihatnya gelap gulita. "Rumah itu gelap gulita," katanya. Sesampai rumahnya di Pineleng, Hp kemudian berbunyi. Dari situ muncul suara seorang tantenya. "Katanya ibu telah tertambun, ia minta saya berdoa," tuturnya.
Sayang doa itu tidak terkabul. Tuhan punya rencana lain. "Saya sedih melihat ibu meninggal," tuturnya. Sebelumnya, ia telah memiliki perasaan yang tidak enak. Dalam sebuah mimpi, ia dan dua saudara serta ibunya berpegangan tangan. Ibunya kemudian terlepas dari pegangan. "Saat itu saya merasa tidak enak," tuturnya.
Di matanya, sang ibu adalah sosok yang baik dan ramah pada semua orang. Ia suka menegur orang. "Dia sering menegur orang," tuturnya. Ibunya di semayamkan di salah satu rumah saudara ibunya bernama Melki Kaat. Rumah itu tidak berada jauh dari tempat kos itu.
Ibadah langsung digelar pada Kamis siang (30/8). Setelah itu, jenazah Grace langsung dibawa ke Sonder untuk dimakamkan di sana. "Ibu akan dimakamkan di Sonder," sebutnya. Sendy yang adalah anak kedua dari pasangan Soni Laloan dan Grace Paat. Ayah ibunya telah pisah. Sedang dua saudaranya berada nun jauh di seberang lautan. "Daniel, kakak saya ada di Balikpapan, ia kerja kapal, sedang Daniel ada di Sorong," sebutnya.
Keduanya akan tiba, pada waktu malam. Meski tidak akan sempat melihat wajah ibunya.