Sosok

Dari Penggilingan Beras Menjadi Pengusaha Perbankan

DAERAH Bolaang Mongondow (Bolmong) merupakan daerah penghasil lumbung padi terbesar di Sulut sejak lama

Dari Penggilingan Beras Menjadi Pengusaha Perbankan
TRIBUNMANADO/DEFRIATNO NEKE
DAERAH Bolaang Mongondow (Bolmong) merupakan daerah penghasil  lumbung padi terbesar di Sulut sejak lama. Namun bentuan kredit yang diterima petani masih sangat kurang.

Berpikir untuk memajukan daerahnya, Denny Senduk, yang kini menjadi Direktur Utama. BPR PT Citra Dumoga, membanting stir dari pengusaha penggilingan beras beralih ke bisnis perbankan dengan mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

"Usaha penggilingan ayah sayai jual, modal ini saya mendirikan BPR di tahun 1992 dengan nama PT Citra Dumoga," kata Denny dalam kegiatan Temu Wicara Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut dengan petani dan pengusaha penggilingan di Desa Dumoga Selatan, Kecamatan Dumoga Utara, Kabupaten Bolaang Mongondow, Rabu (1/8) 

Sejak tahun 1992 hingga sekarang, BPR PT Citra Dumoga terus tumbuh dan berkembang seiringan dengan waktu. Sehingga BPR yang muncul di daerah Bolaang Mongondow tersebut kini mempunyai beberapa kantor cabang hingga di Manado.

"Kami Bank Citra dari tahun ke tahun terus bertambah, dan modal ini bisa menambah cabang ke mana-mana. Dari modal Rp 50 juta, sekarang sudah mencapai Rp 10 miliar," ujarnya.

Denny menambahkan BPR Citra Dumoga tumbuh di tengah pertanian Bolmong dan terus mengupayakan penyaluran kreditnya di sektor tersebut. Hingga kini BPR Citra Dumoga telah menyalurkan kreditnya kepada petani di Mopuya sebesar Rp 34 miliar.

"Sedangkan dana yang diterima totalnya, Rp 8,5 miliar. Deposito Rp 3,5 miliar dan tabungan, Rp 5 miliar. Kami membawa dana ke Mopuya ini sebesar Rp 24 miliar," ucap Denny.

Denny menargetkan, pada Desember 2012, BPR yang didirikannya akan terus menyalurkan kredit sektor pertanian sebesar Rp 60 miliar di Mopuya. Selain itu, di tahun 2013 nantinya, ia menargetkan penyaluran kredit sektor pertanian sebesar Rp 100 miliar.

"Produksi pertanian disini sangat besar, dan kami ingin meningkatkan sektor pertanian  dan bahkan kami sudah mempunyai nasabah hampir 20 tahun, serta reputasi kami sangat baik," ungkapnya.

Walaupun menyalurkan kredit pertanian sangat besar, namun BPR Citra Dumoga berhasil menekan jumlah kredit macet atau non performing loannya hingga 0,5 persen. Aset yang ada di BPR tersebut kini mencapai Rp 208 miliar.

"Kita bersyukur kepada Tuhan (atas pencapaian ini). Namun itu bukan uang kami, namun uang milik petani juga," tutur Denny.

Di tempat yang sama, Kepala Perwakilan BI Sulut, Suhaedi, mengatakan, sejarah BPR Citra Dumoga bisa menjadi inspirasi dari  BPR lain dan juga bank umum dengan portofolio yang masih kecil. Menurtnya, kepercayaan inilah yang harus dipupuk terus, kepercayaan antara bank dengan nasabahnya.

"Untuk berbisnis jangka panjang, rawatlah kepercayaan itu, karena bisnis perbankan dan adalah bisnis kepercayaan. BI terus mendorong agar perbankan semakian dekat nasabahnya dan semakin dekat dengan calon nasabahnya," kata Suhaedi. (Deffriatno Neke)

Editor: Andrew_Pattymahu
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved