Breaking News:

Konflik Picuan

Komnas HAM Cari Kejelasan Permasalahan di Picuan

Akhirnya komisi nasional hak asasi manusia (Komnas HAM) datang menyambangi Minahasa Selatan untuk mencari kejelasan masalah tersebut, Selasa (17/7).

Komnas HAM Cari Kejelasan Permasalahan di Picuan
TRIBUNMANADO/ALPEN MARTINUS
Pasca kisruh tambang di desa Picuan beberapa waktu lalu, akhirnya komisi nasional hak asasi manusia (Komnas HAM) datang menyambangi Minahasa Selatan untuk mencari kejelasan masalah tersebut, Selasa (17/7).

TRIBUNMANADO.CO.ID,AMURANG - Pasca kisruh tambang di desa Picuan beberapa waktu lalu, akhirnya komisi nasional hak asasi manusia (Komnas HAM) datang menyambangi Minahasa Selatan untuk mencari kejelasan masalah tersebut, Selasa (17/7).

Tim dari Komnasham yang turun di antaranya Johny N Simanjuntak Komisioner Subkom Pemantauan dan Penyelidikan Komnasham, Eko Dahana, Firdiansyah, dan Agus Suarto, yang ketiganya adalah penyelidik Komnasham Pusat. “Kedatangan kami untuk mencari informasi kejelasan terkait kasus di Picuan, dan persoalan tambang rakyat,  baik dari pemerintah, kepolisian maupun warga Picuan itu sendiri,” kata Johny.

Tiba di Minsel, Komnas HAM langsung bertemu dengan Pemkab Minsel yang diterima oleh Asisten I Danny Rindengan, Kabag Kesbangpol Alex Slat, dan Kadis Pertambangan dan Energi (Kadistamben) Pengky Terokh.”Kami menanyakan tentang status tambang rakyat di Picuan dan sekitarnya,” jelas dia.

Ia menjelaskan, sudah memberikan masukkan kepada Pemkab agar melindungi warga, tidak hanya menitik beratkan pada kepentingan pemerintah.”Pemkab wajib melindungi warga, boleh investasi tapi juga perhatikan warganya,” jelas dia.

Usai dari Pemkab, Komnas HAM beralih mengunjungi Polres Minsel, dan disambut oleh Kapolres AKBP Sumitro, Wakapolres Kompol Roy Huwae, Kabag Ops beserta seluruh Kasat dan Kanit di Polres Minsel.

Di Polres Komnas HAM diberi penjelasan mengenai kejadian di desa Picuan yang melibatkan polisi, mulai dari maksud dan tujuan polisi berada di Picuan untuk membantu kajaksaan melakukan eksekusi terhadap Yance Kesek, yang mengakibatkan sepuluh mobil dihancurkan warga, hingga pada pasca penangkapan, sampai pada proses pengamanan karena penghancuran beberapa rumah, dan terjadi penyerangan terhadap polisi, juga penjelasan terkait luka yang diderita oleh beberapa warga yang kabarnya terkena tembakan. “Kami sudah mendapatkan klarifikasi dari Polres, tentang kejadian di Picuan, ternyata macam-macam yang menjadi pemicu konflik, dan tidak ada penyebab tunggal,” jelas Johny.

Ia menambahkan, dari penjelasan Kapolres, bahwa saat ini sudah ada sikap antipati warga terhadap polisi. Menurutnya, dalam hal ini, Pemkablah yang harus memperjelas hak rakyat tersebut.”Untuk yang di polres ini, kami akan lakukan tindak lanjut ke Polda, untuk meminta penjelasan, karena yang turun di Picuan bukan hanya petugas Polres, tapi juga dari Polda,” katanya.

Sementara itu, Kapolres Minsel AKBP Sumitro mengatakan, sangat senang bisa memberikan klarifikasi kepada Komnasham, mereka sudah bisa mengetahui apa yang kami sudah lakukan, termasuk penegakkan hukum, serta pengawasan eksternal,” jelasnya.

Rombongan Komnas HAM langsung bertolak ke desa Picuan. Di Picuan, mereka diterima di rumah hukum tua desa Picuan Markus Marentek, dan langsung terjadi perbincangan antara Komnas HAM dan masyarakat, di antaranya Jois dan suaminya Alfrets, Refly, dan beberapa warga yang rumahnya dirusak oleh beberapa oknum warga.

Jois mengatakan, dirinya hanya membantu pemerintah dalam menyuarakan aspirasi masyarakat di Picuan, dan menurutnya beberapa kejadian beberapa waktu lalu merupakan luapan emosi dari warga.”Itu hanya luapan emosi karena ada rasa tidak puas, karena sampai saat ini tidak ada yang masuk duduk bersama antara masyarakat, pemerintah dan investor untuk menyelesaikan masalah tersebut,” jelas dia.

Halaman
12
Penulis: Alpen_Martinus
Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved