Renungan Minggu

Bukti dari Pertobatan yang Sungguh

Cerita tentang Zakheus tentulah telah populer sekaligus klasik bagi kehidupan orang-orang Kristen.

Bukti dari Pertobatan yang Sungguh
Lukas 19: 1-10
Oleh Pnt. Billy Mentang, M.Teol.
Pelayanan Jemaat GMIM “Syaloom” Tompasobaru Dua


Cerita tentang Zakheus tentulah telah populer sekaligus klasik bagi kehidupan orang-orang Kristen. Ia telah menjadi cerita yang dikenal sejak masa kanak-anak. Ketika mendengar tentang Zakheus, maka yang pertama terlintas ialah si kepala pemungut cukai yang badannya pendek yang naik ke atas pohon untuk melihat Yesus.

Saudara-saudara, dibalik cerita sederhana ini ternyata ada sesuatu yang mulia dan ingin disampaikan penulis Injil Lukas kepada para pembacanya tentang pertobatan dan pemberian hidup seutuhnya kepada Yesus (tidak sekadar cerita tentang si pendek Zakheus). Hal lain ialah cerita Zakheus yang berjumpa dengan Yesus (Lukas 19: 1-10) hanyalah terdapat dalam Injil Lukas. Di antara ketiga Injil sinoptik, hanya Lukas yang memuat cerita ini. Cerita ini pun tidak dimuat dalam Injil Yohanes. Apakah cerita ini hanya sekadar sisipan penulis Lukas saja? Sekali lagi cerita ini mempunyai tujuan dan bukan tanpa makna bagi pembaca di masanya maupun pembaca masa kini. Cerita ini khas dan mempunyai makna yang sangat dalam bagi kehidupan orang percaya dalam hal pergaulan dengan Tuhannya.

Dalam cerita ini disebutkan bahwa Yesus memasuki kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. Yerikho adalah suatu kota yang permai dan makmur. Kota itu disebut juga “firdaus” karena indahnya. Iklim yang sejuk serta sumber air yang cukup banyak, sehingga kota itu tidak mengenal kekeringan air. Perdagangan di kota itu juga sangat ramai karena terletak di jalan kafilah dari Damaskus ke Arabia. Di sana terdapat suatu pos penting untuk memungut cukai atau bea atas berbagai barang dagangan yang diekspor atau ditransit (diteruskan ke tempat lain untuk diperdagangkan). Rupanya di kota Yerikho tinggal banyak pemungut cukai. Pemungut-pemungut cukai ini dipandang rendah oleh oleh pemuka-pemuka agama dan dibenci oleh rakyat, baik karena alasan-alasan keagamaan, politik dan ekonomi.

Kekasih-kekasih dalam Yesus Kristus

Ternyata  Zakheus adalah salah satu dari para pemungut cukai itu. Ia adalah salah satu kepala kantor cukai di Yerikho. Nama itu adalah dari kata Yunani yang asalnya dari  Bahasa Ibrani: Zakkai = yang adil, yang suci. Barangkali karena penilaian antara arti namanya dan tindakannya yang tidak mencerminkan namanya inilah, maka ia juga sering diejek oleh masyarakat pada waktu itu. Ia adalah seorang yang kaya, badannya pendek dan dikenal kurang jujur dalam melakukan pekerjaannya. Ia dikenal oleh penduduk sebagai “orang berdosa” (ayat 7).

Namun begitu, ketika mendengar tentang kedatangan Yesus, penulis Injil Lukas langsung memperjelas perubahan kesan tentang si pemungut cukai ini. Dikatakan bahwa untuk melihat Yesus, Zakheus “Memanjat pohon ara”: ini memperlihatrkan keinginan yang luar biasa dari Zakheus untuk melihat Yesus namun dihalangi oleh orang-orang yang mengikuti Yesus. Maklumlah karena badannya pendek. Ia tidak putus asa. Ia berjalan lebih dahulu dan memanjat sebatang pohon ara. Pohon ara yang dimaksud ialah pohon dengan dahan-dahan yang mendatar yang timbul dekat ke tanah, sehingga dengan gampang dipanjat. Mungkin ia ditertawakan, tetapi keinginannya melihat sang “nabi dari Nazareth itu” membuatnya melakukan apapun.

Dalam perjumpaan itu sesuatu yang luar biasa diucapkan Yesus kepada Zakheus yang di cap sebagai orang berdosa ini. “Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu”: Kalimat ini diucapkan Yesus ketika melihat Zakheus. Sikap ini membuat heran orang-orang yang mengikuti-Nya (ayat 7 menunjukkan reaksi itu). Kata harus dipergunakan Lukas dalam arti: sesuai dengan rencana Allah dan kehendak-Nya. Sebagaimana dalam ayat 10 dikatakan maksud Yesus itu, bahwa justru Ia datang untuk orang-orang seperti Zakheus. Yang jelas ialah bahwa dalam hidup Zakheus telah terjadi hal besar, sebab ia datang kepada Yesus, bahkan dengan segera, kemudian dengan sukacita ia menyambut Yesus sebagai tamu di rumahnya.

Saudara-saudara, bagaimana dengan respons Zakheus sendiri? Mendengar kata-kata Yesus itu, Zakheus sangat bersukacita. Bertahun-tahun lamanya ia diejek orang, tetapi sekarang ada harapan ia beroleh selamat. Yang penting baginya Allah mau menerima dia. Dari rasa kecewa dan takut, kini setelah ia datang dan melihat Yesus berubah menjadi sukacita yang besar. Sukacita dan pertobatan yang dialami Zakheus, jelas dari kata-katanya:“… Setengah dari milikku akan kuberikan bagi orang miskin dan jika ada yang kuperas akan kekembalikan empat kali lipat…” Kini dalam hidup Zakheus telah terjadi keajaiban besar. Seorang kaya melepaskan diri dari harta miliknya, dan menjadi warga kerajaan Allah. Hal itu dinyatakan secara konkrit dengan perbuatan. Setengah harta miliknya akan diberikan kepada orang miskin dan setengahnya lagi akan mengganti apa yang diperasnya kepada siapa saja, sebesar empat kali lipat. Dalam hal ini Zakheus tidak sedang menjalankan kebiasaan seperti para Farisi. Tetapi ini adalah suatu janji yang membuktikan perubahan dalam dirinya.

Dengan begini hendak ditekankan juga oleh penginjil Lukas bahwa ketika perubahan telah terjadi dalam hati dan hidup seseorang, maka keselamatan sudah menjadi kenyataan. Kepada Zakheus telah dikaruniakan keselamatan dari Allah. Zakheus telah bertemu dengan Juru Selamat, dan itu berarti keselamatan baginya.

Dikatakan pula bahwa ia telah menjadi “Anak Abraham”. Kini Zakheus telah menjadi “Anak Abraham” dalam arti rohani. Ini sekaligus menjawab sungut-sungut orang-orang Yahudi yang menganggap Zakheus orang berdosa dan tidak layak menerima keselamatan. Bagi Yesus Zakheus telah menjadi anak dari Bapa kaum beriman.

Kekasih-kekasih dalam Tuhan Yesus Kristus

Siapa saja yang mau mencari Yesus pastilah dikenan-Nya. Perjumpaan dengan Yesus akan membuahkan pertobatan, percaya, penyerahan diri dan sukacita. Percaya dan berserah diri seutuhnya kepada Allah serta bersedia meninggalkan segala yang berharga dan jahat adalah inti dari pertobatan. Dengan kata lain memilih bersama Yesus berarti bersedia meninggalkan apapun. Pertobatan yang sungguh akan menghasilkan sikap hidup yang radikal untuk berubah menjadi seorang yang percaya dan mempercayakan diri sepenuhnya kepada Yesus. Pertobatan yang sesungguhnya ternyata menghasilkan bukti konkret dari orang yang bertobat itu. Bertobat berarti berubah, dan perbuahan itu sekali lagi membutuhkan bukti. Zakheus telah memperlihatkan bukti itu dan kini hidup bertolak dari bukti pertobatannya itu. Dengan begitu, ketika memperhatikan cerita pertobatan dan penyerahan diri Zakheus, maka hendaknya hati dan hidup kita juga menunjukkan perubahan yang terus-menerus. Perjumpaan dengan Tuhan kita Yesus Kristus akan berdampak dalam hubungan kita dengan sesama maupun dengan Tuhan sendiri. Amin  (obi)

Editor: Rine Araro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved