Bencana

Rumah Herniati Tinggal Puing Diterjang Puting Beliung

Keluarga Sabarani-Dalerong hanya bisa memandangi puing-puing rumah yang hancur.

Rumah Herniati Tinggal Puing Diterjang Puting Beliung - IMG-20120710-01304.jpg
TRIBUNMANADO/ALPEN MARTINUS
PUTING BELIUNG - Rumah Herniati tinggal puing.
Rumah Herniati Tinggal Puing Diterjang Puting Beliung - IMG-20120710-01301.jpg
TRIBUNMANADO/ALPEN MARTINUS
Laporan Wartawan Tribun Manado Alpen Martinus

TRIBUNMANADO.CO.ID, AMURANG - Keluarga Sabarani-Dalerong hanya bisa memandangi puing-puing rumah yang hancur tersapu oleh angin puting beliung Senin siang (9/7/2012) di Desa Arakan.

Seakan tak percaya, rumah yang ditinggali sudah lebih dari 20 tahun, hancur seketikan oleh angin puting beliung."Saat kejadian, saya besama anak, berada di rumah, tiba-tiba terlihat hangin putar berwarna hitam menghampiri dan menghantam rumah kami," jelas Herniati Dalerong.

Sontak ia dan anaknya bersembunyi di bawah tempat tidur dan berpegangan pada tiang rumah."Rumah ini terangkat dan kemudian jatuh lagi, dan kami berlindung dan berpegangan pada balak yang jatuh," ujarnya. Beruntung tidak ada yang terluka.

Namun tak ada harta benda yang tersisa, hanya puing-puing rumah saja, bahkan uang sekitar Rp 5 juta ikut terbawa angin."Uang belanja, juga uang untuk bayar ikan yang saya gantung dalam tas," ujarnya. Sehingga, dirinya bingung untuk membayar ikan yang diambilnya."Saya kan penjual ikan, dan uang tersebut hasil penjualan ikan, yang akan dipakai untuk membayar ikan yang diambil dari nelayan," jelas dia.

Selain itu, ada juga uang untuk yang dikumpulkan untuk uang muka kredit."Uang Rp 2,5 juta, yang kami kumpulkan selama dua bulan untuk uang kredit motor, juga ikut terbang, padahal rencananya hari ini (Selasa) kami akan mengambil motor tersebut, namun karena musibah ini, jadi batal," kata dia.

Sementara ini, ia bersama suami serta dua anaknya, harus menumpang di rumah tetangganya."Kami akan bangun pelan-pelan, dan berharap ada bantuan pemerintah, karena butuh biaya banyak," jelas dia.

Sementara itu, Sumirna anaknya yang sudah kelas dua SMP, terpaksa tidak sekolah karena seragamnya turut terbang bersama angin."Baju seragam rusak, dan ada yang hilang, jadi saya tidak sekolah," jelasnya.

Kini ia bersama keluarganya sepenuhnya berharap pada bantuan pemerintah."Uang belanja sudah tidak ada lagi, kami harapkan bantuan pemerintah," jelasnya. Sejauh ini, ia baru mendapatkan bantuan berupa beras, ikan kaleng dan supermi.

Dari pantauan Tribun Manado, Selasa (10/7), nampak beberapa rumah hancur total, rata tanah, sedangkan rumah lainnya hanya tercabut bagian atapnya.
Tercatat ada 19 rumah rata tanah, dan beberapa lainnya rusah ringan, seluruhnya berjumlah 58 rumah.

Sementara bantuan terus mengalir, sejauh ini baru bantuan dari Tagana Dinsosnakertrans Provisi dan Kabupaten, juga dari Badan Penanggulangan bencana daerah."Hari ini kami bawa tenda keluarga," jelas Henry Komaling, Kaban PBD.

Sementara dari Dinsosnakertrans Provinsi dan Kabupaten melalui Tagana memberikan bantuan berupa tenda, seragam sekolah, makanan siap saji, makanan, dapur umum, selimut, matras."Kami berikan bantuan tanggap darurat, dan kami serahkan ke hukum tua," kata Danny Komaling ketua tim Tagana.

Untuk mecegah penyalahgunaan bantuan, mereka tetap melakukan pengawasan." Meski telah diserahkan ke hukum tua, namun tetap kami awasi, supaya bantuan tepat sasaran," jelas dia.

Penulis: Alpen_Martinus
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved