Sosok

Junita Wenur: Ubah Si Miskin Menjadi Maju dan Mandiri

Makanya, sejak akhir tahun 2000 lalu, Miky Junita Wenur, aktif melakukan berbagai kegiatan sosial

TRIBUNMANADO.CO.ID-KEMISKINAN merupakan masalah sosial terberat yang dihadapi bangsa Indonesia. Angkanya masih sangat tinggi, dan jika tak diatasi maka dapat dipastikan laju pembangunan sebuah Negara, termasuk di daerah ini pasti terhambat.
 
Untuk mengentaskan kemiskinan di Negara ini, termasuk wilayah Sulawesi Utara, pemerintah memiliki peran sangat penting. Namun, pada kenyataannya strategi dan program yang dijalan pemerintah belum juga mampu menyelesaikan masalah tersebut.

Makanya, sejak akhir tahun 2000 lalu, Miky Junita Wenur, aktif melakukan berbagai kegiatan sosial untuk membantu mereka yang berada di garis kemiskinan. “Di Sulawesi Utara ternyata masih banyak penduduk yang miskin, jadi saya ikut tergerak untuk membantu mereka, agar mereka juga boleh merasakan bagaimana hidup berhasil dan sejahtera, seperti kebanyakan orang di daerah ini,” jelasnya, kepada Tribun Manado, Sabtu (30/6).

 
Ia mengatakan perjuangan untuk memerangi kemiskinan di daerah ini, tak secara otomatis langsung dilakukannya. Tapi, dengan kematangan dulu dari dalam keluarga, terutama mendapat dukungan dari sang suami Ir Stefanus B A N Liow, dan kedua putrinya Liliziu Nalizi Liow dan Dirgatni Liow. “Kita tidak mungkin menolong orang lain (miskin), jika kita sendiri tidak mapan dan tidak membiasakan diri dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Makanya, di keluarga baik suami dan anak-anak, sejak dini diingatkan dan diajarkan untuk saling membantu, ketika melihat yang lainnya tidak mampu melakukan suatu kegiatan,” ujar Miky, kemarin.
 
Pendidikan sejak dini kepada anak-anak, untuk peduli kepada si miskin, selain lewat nasehat-nasehat, juga diajarkan lewat doa. Dimana dalam setiap kesempatan, ketika memanjatkan doa kepada Yang Kuasa, tak lupa didoakan bagi mereka yang berkekurangan dan berada digaris kemiskinan untuk selalu dilindungi dan dimampukan untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan mampu melewati masa-masa kritis. “Doa mampu menyelesaikan semua persoalan, makanya anak-anak selalu diingatkan untuk tak lupa mendoakan mereka yang berkekurangan, agar selalu dilindungi. Lewat doa juga mereka akan belajar dan termotivasi untuk peduli terhadap sesama,” jelasnya.
 
Wanita kelahiran Tomohon, 10 September 1968 ini mengaku awal mula ia tergerak untuk ikut langsung ke lapangan dalam aksi memberantas kemiskinan, terjadi ketika banyak pengungsi dari Maluku yang datang ke Sulawesi Utara.  Saat itu banyak teman-teman dari luar daerah yang mengajak dan memotivasi untuk ikut membantu meringankan beban mereka, dan ternyata saat dijalaninya banyak membawa manfaat positif, dimana kepedulian bagi mereka yang berkekurangan mampu mengubah nasib Negara dan daerah ini menjadi lebih baik ke depan. “Setelah mereka pulang, kami juga termotivasi untuk membantu penduduk di Sulut yang berkekurangan,” kata Sekretaris Wanita Kaum Ibu Sinode GMIM itu.
 
Bagaimana upaya yang dilakukan untuk membantu masyarakat miskin menjadi maju dan mandiri di Sulut,,? Menurut Miky, yang juga menjabat Ketua Yayasan Jembatan Harapan Bersama, pihaknya tidak bersikap seperti malaikat atau sinterklas, dengan memberi bantuan langsung kepada masyarakat. Tapi, dengan member modal usaha atau dana bergulir, agar dapat dikembangkan untuk menopang perekonomian keluarga mereka. “Kami tak bersikap seperti sinterklas dengan membawa hadiah bagi mereka yang tergolong miskin, tapi memberi modal, agar mereka mau berusaha seperti membuat kue, menjadi tibo-tibo dan usaha lainnya. Dan strategi itu cukup berhasil, banyak yang mengembalikan modal usaha tepat waktu, dan kami bisa memberikan kepada lainnya yang membutuhkan,” ujar Direktur Utama PD Pasar Tomohon ini.
                                          
Nah, belajar dari pengalaman tersebut anak-anak juga tak jarang dilibatkannya untuk ikut bersama-sama ketika ada waktu luang, memberikan bantuan, agar semangat untuk dan kepercayaan diri untuk membantu sesama kian tertanam. “Ini menjadi sarana penting bagi anak-anak, untuk tau sebenarnya bagaimana dan seperti apa membantu kaum yang miskin,” katanya.
 
Ia juga bersama sang suami tak lupa mengingatkan anak-anaknya untuk tidak egois, tapi selalu menghargai dan menghormati orang lain, terutama mereka yang berkekurangan. “Mereka sering diajarkan untuk berbagi kasih dengan sesama, seperti mengunjungi orang sakit dan miskin. Anak-anak diberi wawasan luas, bahwa masih banyak yang hidup lebih menderita dari mereka, hingga perlu dibantu,” tegasnya.
 
Anak-anak juga diajarinya untuk membantu orang lain menjadi maju dan mandiri, tak membiarkannya menjadi malas ketika dibantu. Seperti yang ia lakukan ketika memberi bantuan, yakni dengan melakukan verifikasi calon penerima bantuan, untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan dana yang diberikan. “Untuk mendapat bantuan ada proses seleksinya, tak sembarang diberikan. Dan itu menjawab persoalan, karena mampu menghidupi keluarga secara kontinyu, termasuk menyekolahkan anak. Sudah ada sekitar 10 ribuan warga yang menikmati bantuan itu,” ungkapnya.
Diakuinya, dukungan penuh dari keluarga selalu diutamakan untuk suksesnya melakukan berbagai kegiatan. Seperti, di TPA Sumompo sejak 3 tahun silam, pihaknya telah menjalankan program pendidikan luar sekolah, dengan tidak dipungut biaya. Disana mereka membangun perpustakaan, agar anak-anak yang kurang mampu boleh belajar.

“Anak-anak di rumah sering juga saya ingatkan untuk belajar giat, agar memiliki wawasan luas, sehingga ke depan dapat terus membantu yang berkekurangan. Pemahaman yang benar tentang pentingnya pendidikan selalu ditanamkan, agar tak terperosok dalam dunia kemiskinan. Sebab, mereka yang berada dalam garis kemiskinan boleh belajar, dan menunjukkan hasil positif dengan diutusnya mereka ketingkat nasional mengikuti lomba,” tukasnya.

Penulis:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved