Rabu, 10 Juni 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Tajuk Tamu

Mengelola Bencana dan Peran Perguruan Tinggi

Fakta menunjukan bahwa bencana begitu dekat dengan pengalaman manusia. Hal ini menuntut adanya studi yang seksama mempelajari sifat-sifat,

Tayang:
Editor: Andrew_Pattymahu
zoom-inlihat foto Mengelola Bencana dan Peran Perguruan Tinggi
IST
Mahyudin Damis
Oleh Mahyudin Damis
Antropolog Fisip Unsrat Manado

Fakta menunjukan bahwa bencana begitu dekat dengan pengalaman manusia. Hal ini menuntut adanya studi yang seksama mempelajari sifat-sifat, penyebab, akibat, cara tanggap, dan dampak dari suatu bencana secara menyeluruh. Studi ilmu sosial yang pertama yang menyumbangkan penjelasan tentang bencana, baru dilakukan pada tahun 1920 oleh Samuel Henry Prince. Penelitian itu untuk disertasinya di Columbia University Amerika Serikat.

Peristiwa ledakan amunisi yang hebat karena bertabraknya kapal Mont-Blanc dan kapal Imo meluluhlantakkan pelabuhan Halifax di Nova Scotia, Kanada pada 6 Desember 1917 sehingga Prince menjadikannya sebagai pintu masuk studinya. Mont-Blanc meledak begitu dahsyatnya menyebabkan gelombang tinggi dan menghancurkan segala fasilitas dalam radius dua kilometer persegi. Peristiwa itu mirip tsunami, dan menelan korban 2.000 orang meninggal dunia plus 9.000 orang terluka. Hasil penelitian Prince selain menjadi tonggak penting dalam perkembangan ilmu sosial bidang bencana, dan juga telah membuat suatu perubahan dalam sistem legislasi yang berkenaan dengan kebencanaan di daerah tersebut (Russell R. Dynes dan E. L. Quarantelli, 1992; Andreskov, 2004).

Bencana demi bencana yang terjadi di berbagai tempat di dunia sesungguhnya telah menjadi suatu ujian yang sangat berarti bagi kemampuan manusia dalam mengelola lingkungan, mempertahankan diri dari berbagai ancaman bahaya, melawan tantangan dan resiko, hingga membangun sistem sosial dan kelembagaan yang mampu memproteksi manusia dan lingkungannya dari kehancuran. Namun demikian, tetap ada suatu momentum dan ruang dimana manusia dihadapkan pada keterbatasan-keterbatasan (Abdullah:2006).

ARF DiRex 2011: Dunia Internasional “Memenej” Bencana

Masih sangat jelas dalam ingatan masyarakat Sulut pada umumnya, dan warga kota Manado khususnya bahwa di tahun 2011 lalu adanya peristiwa penting berskala internasional yaitu kegiatan simulasi bersama penanggulangan bencana alam internasional, seperti gempa bumi dan tsunami yang disebut ASEAN Regional Forum Disaster Relief Exercise (ARF DiRex). Tujuan utama negara-negara ASEAN serta negara partisipan dari Uni Eropa berkumpul di Manado adalah belajar atau berlatih bersama bagaimana memenej atau menanggulangi bencana ketika diperhadapkan di wilayah negara masing-masing.

Kegiatan-kegiatan ARF DiRex yang berupa: latihan lapangan (field test exercise); latihan pos komando (table top exercise); lokal latih (workshop); bakti sosial (humanitarian civil action); dan demo statis (static show), sebetulnya memperlihatkan bahwa manusia yang hidup di planet bumi ini sadar akan dalam hitungan detik kedepan alam bisa saja bereaksi dalam bentuk “melahirkan bencana”. Meminjam bahasa ahli geologi: “sebagaimana makhluk, bencana merupakan cara alam melepas ‘hasrat’ untuk bisa berubah dalam tingkatan harmoni”.

Berbagai media mewartakan, kegiatan ARF DiRex itu dirancang sebuah skenario latihan penanggulangan bencana berupa simulasi gempa dengan skala 7,5 SR di 50 km lepas pantai barat Manado dengan kedalam 20 km, kemudian terjadi gelombang tsunami 12 menit sesudahnya dan menghantam pantai hingga 1 km masuk ke daerah pesisir, berserta sejumlah dampak yang ditimbulkan. Dalam situasi seperti itu, masyarakat Sulut diajak untuk mengetahui bagaimana proses penyelamatan diri ketika terjadi bencana seperti itu. Peringatan dini dan cara tanggap darurat bencana disimulasikan oleh berbagai pihak termasuk pihak yang paling bertangungjawab menurut UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Unsur utama latihan difokuskan juga pada aktivitas koordinasi di posko-posko penanggulangan bencana, berupa kegiatan evakuasi dan identifikasi, distribusi bantuan sosial dan kesiapan lokasi. Masyarakat diarahkan pula mengungsi ke daerah perbukitan atau jauh dari pantai. Ini merupakan alternatif terbaik daripada berlari ke jalan-jalan menuju pusat kota dan dapat dipastikan macet total sehingga rawan terjadi kecelakaan dan korban yang lebih besar.
Disamping itu, kemampuan SAR untuk mengevakuasi, mengidentifikasi korban, dan merelokasi para korban dan mendistribusikan bantuan sosial juga diuji.

Dukungan dari berbagai Negara yang ikut berlatih bersama berupa peralatan konstruksi, peralatan USAR (Unit Search and Rescue), peralatan Pos Kesehatan, kapal perang, helikopter, pesawat Hercules hingga peralatan komunikasi elektronik cukup menggembirakan. Sayangnya, Jepang sebagai negara penyokong utama ARF DiRex terpaksa tidak fokus dan maksimal dalam pelaksanaannya karena dalam waktu yang hampir bersamaan Negara Sakura itu dilanda bencana gempa bumi dan tsunami.

Ketidakfokusan dan tak maksimalnya Jepang dalam ARF DiRex 2011 itu bisa saja berakibat masyarakat Sulut hingga kini belum siap menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami. Masyarakat beharap dengan optimalnya keterlibatan Jepang kita telah memiliki sejumlah jalur-jalur evakuasi menuju ke titik-titik kumpul. Sebab, ketersediaan sarana dan prasarana terkait kebencanaan memiliki andil dalam mengkondisikan masyarakat agar tidak panik bila bencana terjadi.
Pacifik Partership: Buang Sampah dan Pengobatan Gratis
Manfaat yang paling menonjol yang dirasakan masyarakat Sulawesi Utara pada kegiatan Pacific Partnership, 31 Mei-15 Juni 2012 adalah; Pertama, “membuang sampah yang benar”.

Sampah-sampah yang diproduksi di atas kapal, USNS Mercy itu tidak dibuang ke laut lepas, kendatipun harus mengeluarkan biaya dari kapal ke darat (kawasan pantai) dan dari kawasan pantai ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Ini adalah pembelajaran penting yang diberikan oleh awak kapal tersebut.

Pembelajaran ini tentu dikhususkan kepada para pengusaha kapal, baik angkutan barang maupun penumpang, serta pemilik rumah di pinggiran pantai dan daerah aliran sungai (DAS) untuk tidak menjadikan laut/sungai sebagai tong sampah. Apalagi belakangan ini sampah banyak bertebaran di laut maupun di pinggiran pantai Manado. Bukankah beberapa hari lalu kita dikejutkan dengan berita tentang ikan Raja Laut di perairan Manado yang berada dalam kondisi mengkhawatirkan?

Hasil pembedahan perut ikan purba atau yang dikenal dengan Coelacanth itu ternyata terdapat aneka sampah plastik (Tribun Manado, 29/5/2012). Ini tentu sangat memprihatinkan karena telah terjadi kerusakan lingkungan yang karakteristiknya beragam sebagai habitat kehidupan berbagai jenis biota laut. Ingatan kita harus disegarkan lagi bahwa lebih dari 75 persen wilayah negara RI adalah laut. Laut dan pantai harus kita jaga bersama karena laut adalah masa depan kita.

Yang kedua adalah pengobatan gratis yang menjangkau tiga kabupaten kepulauan, yaitu Kabupaten Sitaro, Sangihe dan Talaud. Ribuan orang yang diobati. Ada yang operasi bibir sumbing, katarak, hernia, luka bakar dan penyakit lainnya. Selebihnya para pasien menikmati pelayaran di perairan laut Sulawesi dengan kapal rumah sakit terbesar milik Angkatan Laut Amerika Serikat.

Ketiga, Dinas Kesehatan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dan Dinas PU Sulut diingatkan kembali tentang apa saja yang harus dikerjakan ketika terjadi bencana. Peringatan ini dilakukan dalam acara symposium kesehatan oleh tim dokter US Navy. Keempat, dapat berfoto bersama para kru plus Helikoter Sea Hawk HSC 21 sehingga menjadi kenang-kenangan plus rasa bangga yang ditimbulkan. Manfaat inilah yang bisa kita tangkap dari kegiatan Pacific Partnership, 31 Mei-15 Juni 2012.

Tapi, dilihat dari tujuan program, kontribusi dari kegiatan Pacific Partnership ini jelas dirasakan masih belum optimal. Sebab, belum menjawab permasalahan masyarakat Sulut pada umumnya terutama ketika diperhadapkan dengan bencana yang sesungguhnya. Jika Pacifik Partnership 2012 disebut sebagai kelanjutan dari ARF DiRex 2011 maka iven Pacifik Partnership kali ini seharusnya ada kegiatan pemberian pemahaman yang mendalam kepada masyarakat Sulut, khususnya yang tinggal di pesisir pantai atas pentingnya penggunaan bangunan penyelematan (escape building) dan jalur-jalur penyelamatan yang sudah dibangun dan ditentukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Tugas Perguruan Tinggi di Sulut
Menurut Menkokesra Agung Laksono, “terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah kegiatan ARF DiRex 2011 adalah karena pengakuan dunia terhadap negara ini yang dianggap mampu menangani berbagai bencana yang pernah melanda beberapa waktu lalu" (ANTARA.News.com).

Meskipun Sulawesi Utara dapat dikatakan belum memiliki pengalaman menangani bencana gempa bumi sehebat Sumatra Barat, Yogyakarta dan tsunami di Aceh namun daerah yang letaknya berada di bibir Asia Pacifik ini yang ditunjuk sebagai pelaksana atau tuan rumah kegiatan ARF DiRex 2011 dan Pacifik Partnership 2012. Oleh karenanya, fakta ini bagus sekali dijadikan dasar utama bagi Perguruan Tinggi di Sulut untuk mengembangkan studi-studi yang seksama mempelajari sifat-sifat, penyebab, akibat, cara tanggap, dan dampak dari suatu bencana secara menyeluruh.

Pentingnya Universitas Sam Ratulangi dan Universitas Negeri Manado mengembangkan studi-studi tentang kebencanaan karena studi ini termasuk kategori masih sangat langka. Kemudian, Sulawesi Utara yang letaknya berada di kawasan Asia Pacifik sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor.

Bahkan menurut Arnold (1986) pertemuan empat lempeng tektonik yang mengepung Indonesia hanyalah lempeng Samudera Hindia yang jauh dari Sulawesi Utara. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat.

Upaya-upaya ilmiah yang akan dilakukan UNSRAT dan UNIMA tentu akan dilihat oleh publik, selain sebagai tindak lanjut dari kedua kegiatan bertaraf internasional yang baru saja usai, dan juga sekaligus menunjukan bahwa Perguruan Tinggi di Sulut peduli terhadap bencana. Bentuk kepedulian itu diharapkan melahirkan sumbangsih konkrit dari para tenaga ahli dalam manajemen bencana maupun pemikiran akademik yang dihasilkan sehingga dapat ditemukan gambaran utuh serta solusi dari beragam bentuk bencana yang terjadi di tanah air, khususnya Sulut. Bukankah pembentukan Forum Perguruan Tinggi Untuk Penanggulangan Bencana sudah terbentuk belum lama ini?

Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) Kepacifikan (sifatnya muatan lokal) yang diajarkan ke seluruh fakultas di Unsrat selama ini bisa menjadi dasar pengembangan studi kebencanaan. Ini merupakan modal dasar guna pengembangan studi selanjutnya. Mata kuliah bermuatan lokal semacam ini sangat bisa memunculkan pengetahuan lokal (local knowledge), kearifan lokal (local wisdom) atau pengetahuan asli daerah (indigenous knowledge) yang selama ini terpendam. Salah satu contoh yang dapat diperoleh dari studi kebencanaan adalah riset yang bertujuan menggali pengetahuan lokal yang berkaitan dengan strategi-strategi pengelolaan alam semesta dalam menjaga keseimbangan ekologis yang sudah berabad-abad teruji oleh berbagai bencana dan kendala alam serta ketelodoran manusia (Wahono, dkk, 2004).

Dengan melihat anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penanggulangan bencana selama 5 (lima) tahun yang telah disepakati dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2012-2014 sebesar Rp. 64.475.060.000.000.- atau hampir enam puluh empat setengah triliyun, atau rata-rata pertahun Rp.12.895.012.000.000.- atau hampir tiga belas triliyun, maka hal ini memperlihatkan kepada kita bahwa: “…kekuatan alam dan supranatural menegaskan suatu kondisi abnormal, tidak diharapkan, dan tidak dapat pula diperhitungkan (Hewitt:1983), ternyata sangat mahal untuk mengantisipasinya.

Kita telah menyaksikan kekuatan alam dan supranatural menurut Hewitt itu, ketika dua hingga tiga hari menjelang ARF DiRex digelar di Manado, terjadi bencana gempa bumi dan tsunami di Jepang serta bencana banjir di Aceh. Wapres RI, Boediono pada acara pembukaannya pun mengajak para hadirin menundukkan kepala dan berdoa bagi para korban bencana alam di dua tempat dan Negara yang berbeda itu. Itulah bukti bahwa bencana dekat sekali dengan pengalaman manusia.

Abduldaem Al-Kaheel, 3/3/2012 dalam Republika Online melaporkan bahwa dalam konferensi Paris II yang diselenggarakan awal tahun 2007, lebih dari 500 ilmuwan seluruh dunia bertemu dan membuat seruan mendesak untuk kembali ke lingkungan yang bersih.

Konferensi tersebut menelurkan tiga hasil:1. Kerusakan dan pencemaran lingkungan telah mencakupi darat, laut, bahkan manusia, tumbuhan dan hewan. 2. Manusia bertanggung jawab atas kerusakan dan pencemaran ini karena polutan berbahaya yang diproduksinya, dan 3. Masih ada kemungkinan untuk kembali ke ambang batas normal karbon dalam atmosfer, yaitu dengan mengambil tindakan yang tepat dan berhenti mencemari atmosfer.

Sungguh luar biasa, ternyata ketiga hasil konferensi ini dinyatakan secara ringkas dalam Alquran, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menjadikan mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).

Artinya, ribuan tahun sebelum para penggiat lingkungan hidup menyerukan imbauannya membimbing kita untuk melestarikan lingkungan dan bukan untuk membuat kerusakan di muka bumi dan mencemarinya, setelah Tuhan menyediakannya bagi kita sebagai tempat hidup ?

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved