Tajuk Tamu
Mengelola Bencana dan Peran Perguruan Tinggi
Fakta menunjukan bahwa bencana begitu dekat dengan pengalaman manusia. Hal ini menuntut adanya studi yang seksama mempelajari sifat-sifat,
Tapi, dilihat dari tujuan program, kontribusi dari kegiatan Pacific Partnership ini jelas dirasakan masih belum optimal. Sebab, belum menjawab permasalahan masyarakat Sulut pada umumnya terutama ketika diperhadapkan dengan bencana yang sesungguhnya. Jika Pacifik Partnership 2012 disebut sebagai kelanjutan dari ARF DiRex 2011 maka iven Pacifik Partnership kali ini seharusnya ada kegiatan pemberian pemahaman yang mendalam kepada masyarakat Sulut, khususnya yang tinggal di pesisir pantai atas pentingnya penggunaan bangunan penyelematan (escape building) dan jalur-jalur penyelamatan yang sudah dibangun dan ditentukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
Tugas Perguruan Tinggi di Sulut
Menurut Menkokesra Agung Laksono, “terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah kegiatan ARF DiRex 2011 adalah karena pengakuan dunia terhadap negara ini yang dianggap mampu menangani berbagai bencana yang pernah melanda beberapa waktu lalu" (ANTARA.News.com).
Meskipun Sulawesi Utara dapat dikatakan belum memiliki pengalaman menangani bencana gempa bumi sehebat Sumatra Barat, Yogyakarta dan tsunami di Aceh namun daerah yang letaknya berada di bibir Asia Pacifik ini yang ditunjuk sebagai pelaksana atau tuan rumah kegiatan ARF DiRex 2011 dan Pacifik Partnership 2012. Oleh karenanya, fakta ini bagus sekali dijadikan dasar utama bagi Perguruan Tinggi di Sulut untuk mengembangkan studi-studi yang seksama mempelajari sifat-sifat, penyebab, akibat, cara tanggap, dan dampak dari suatu bencana secara menyeluruh.
Pentingnya Universitas Sam Ratulangi dan Universitas Negeri Manado mengembangkan studi-studi tentang kebencanaan karena studi ini termasuk kategori masih sangat langka. Kemudian, Sulawesi Utara yang letaknya berada di kawasan Asia Pacifik sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor.
Bahkan menurut Arnold (1986) pertemuan empat lempeng tektonik yang mengepung Indonesia hanyalah lempeng Samudera Hindia yang jauh dari Sulawesi Utara. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat.
Upaya-upaya ilmiah yang akan dilakukan UNSRAT dan UNIMA tentu akan dilihat oleh publik, selain sebagai tindak lanjut dari kedua kegiatan bertaraf internasional yang baru saja usai, dan juga sekaligus menunjukan bahwa Perguruan Tinggi di Sulut peduli terhadap bencana. Bentuk kepedulian itu diharapkan melahirkan sumbangsih konkrit dari para tenaga ahli dalam manajemen bencana maupun pemikiran akademik yang dihasilkan sehingga dapat ditemukan gambaran utuh serta solusi dari beragam bentuk bencana yang terjadi di tanah air, khususnya Sulut. Bukankah pembentukan Forum Perguruan Tinggi Untuk Penanggulangan Bencana sudah terbentuk belum lama ini?
Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) Kepacifikan (sifatnya muatan lokal) yang diajarkan ke seluruh fakultas di Unsrat selama ini bisa menjadi dasar pengembangan studi kebencanaan. Ini merupakan modal dasar guna pengembangan studi selanjutnya. Mata kuliah bermuatan lokal semacam ini sangat bisa memunculkan pengetahuan lokal (local knowledge), kearifan lokal (local wisdom) atau pengetahuan asli daerah (indigenous knowledge) yang selama ini terpendam. Salah satu contoh yang dapat diperoleh dari studi kebencanaan adalah riset yang bertujuan menggali pengetahuan lokal yang berkaitan dengan strategi-strategi pengelolaan alam semesta dalam menjaga keseimbangan ekologis yang sudah berabad-abad teruji oleh berbagai bencana dan kendala alam serta ketelodoran manusia (Wahono, dkk, 2004).
Dengan melihat anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan penanggulangan bencana selama 5 (lima) tahun yang telah disepakati dalam Rencana Nasional Penanggulangan Bencana 2012-2014 sebesar Rp. 64.475.060.000.000.- atau hampir enam puluh empat setengah triliyun, atau rata-rata pertahun Rp.12.895.012.000.000.- atau hampir tiga belas triliyun, maka hal ini memperlihatkan kepada kita bahwa: “…kekuatan alam dan supranatural menegaskan suatu kondisi abnormal, tidak diharapkan, dan tidak dapat pula diperhitungkan (Hewitt:1983), ternyata sangat mahal untuk mengantisipasinya.
Kita telah menyaksikan kekuatan alam dan supranatural menurut Hewitt itu, ketika dua hingga tiga hari menjelang ARF DiRex digelar di Manado, terjadi bencana gempa bumi dan tsunami di Jepang serta bencana banjir di Aceh. Wapres RI, Boediono pada acara pembukaannya pun mengajak para hadirin menundukkan kepala dan berdoa bagi para korban bencana alam di dua tempat dan Negara yang berbeda itu. Itulah bukti bahwa bencana dekat sekali dengan pengalaman manusia.
Abduldaem Al-Kaheel, 3/3/2012 dalam Republika Online melaporkan bahwa dalam konferensi Paris II yang diselenggarakan awal tahun 2007, lebih dari 500 ilmuwan seluruh dunia bertemu dan membuat seruan mendesak untuk kembali ke lingkungan yang bersih.
Konferensi tersebut menelurkan tiga hasil:1. Kerusakan dan pencemaran lingkungan telah mencakupi darat, laut, bahkan manusia, tumbuhan dan hewan. 2. Manusia bertanggung jawab atas kerusakan dan pencemaran ini karena polutan berbahaya yang diproduksinya, dan 3. Masih ada kemungkinan untuk kembali ke ambang batas normal karbon dalam atmosfer, yaitu dengan mengambil tindakan yang tepat dan berhenti mencemari atmosfer.
Sungguh luar biasa, ternyata ketiga hasil konferensi ini dinyatakan secara ringkas dalam Alquran, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menjadikan mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).
Artinya, ribuan tahun sebelum para penggiat lingkungan hidup menyerukan imbauannya membimbing kita untuk melestarikan lingkungan dan bukan untuk membuat kerusakan di muka bumi dan mencemarinya, setelah Tuhan menyediakannya bagi kita sebagai tempat hidup ?